JAWA YANG SEMAKIN ISLAM

JAWA YANG SEMAKIN ISLAM

Oleh: Dr. Moeflich Hasbullah (Ahli Sejarah, Dosen UIN Bandung)*

Apa makna berita Tempo ini dan puluhan media lain yang memberitakan sama (Miftah panen hujatan)? Ini menarik. Jawabannya, itu membuktikan kebenaran tesis M.C. Ricklefs tentang Jawa yang semakin terislamkan. Sejarawan otoritatif dari Australia itu banyak menulis tentang sejarah Jawa, selain Jawa klasik juga Jawa modern yang semakin terislamkan, berawal dari buku masterpiece-nya History of Modern Indonesia (1981) yang mengambil starting point-nya dari abad ke-14.

Tahun 2006-2007, Ricklefs menulis lagi dua buku tebal: "Mystic Synthesis in Java: A History of Islamisation from fourteenth to the early nineteenth century" dan "Polarysing Javanese society: Islamic and other version c. 1830-1930. "Sintesis Mistik" menurut Ricklefs adalah suatu kesadaran identitas Islami yang kuat dimana menjadi orang Jawa berarti menjadi Muslim, yang dihasilkan dari rekonsiliasi antara identitas, keyakinan dan gaya Jawa.

Buku yang pertama itu telah diindonesiakan menjadi buku tebal 886 hal: "Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang" (Serambi, 2006).
 
Melihat keluasan pembahasan dan kekayaan datanya hingga era kontemporer tahun 2000an, buku ini kata Majalah Tempo, "seperti sebuah ensiklopedi yang akan Anda cari dan rujuk setiap saat." Yang membuat saya tersenyum ketika membacanya, di hal. 373 buku itu ada tulisan saya di Jurnal Studia Islamika 😊, dikutip oleh sejarawan masyhur itu tentang seni Islam era Orde Baru sebagai fenomena kelas menengah Muslim.

Tayangan wayang Gus Miftah yang menyerang Ust. Khalid Basalamah yang dihujat ribuan orang termasuk oleh banyak orang Jawa penggemar wayang, bagi saya, itu berada dalam track analisisnya Ricklefs.

Dulu, mayoritas masyarakat Jawa itu kejawen dan sangat menjiwai wayang sebagai sumber falsafah hidupnya, ketika pengaruh Islam semakin kuat mengubah pola hidup orang Jawa modern, sejak tahun 1930an seperti ditesiskan Ricklefs, pandangan hidup orang Jawa telah banyak berubah dan beralih ke Islam, apalagi sekarang dakwah Islam sudah semakin intensif. Kondisinya sekarang terbalik, bila Islam dan ulama diserang oleh kejawaan, masyarakat Jawa akan memilih berpihak pada Islam seperti ditunjukkan dalam kasus wayang Gus Miftah.

Ini menjadi sebuah tanda, bahwa beroposisi kepada Islam di Jawa, apalagi menyerang, sekarang akan berhadapan dengan sintesis mistik itu, lapisan baru masyarakat Muslim yang kian menebal, seperti ditunjukkan belakangan ini oleh semua kasus yang mempersekusi Islam dan ulama yang mendapat perlawanan dari masyarakat Isam termasuk Muslim Jawa.
Buku "Mengislamkan Jawa" yang beranak judul: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Para Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang," menandakan bahwa para penantang itu masih ada dan akan tetap ada, baik dari kalangan penguasa hingga kalangan masyarakat. 

Siapa saja orang Jawa yang menolak, nyinyir apalagi anti pada aspirasi Islam atau perkembangan dakwah Islam itulah para penentang (opponents) yang disebutkan Ricklefs. 

Politik anti aspirasi Islam, para BuzzerRp, suara-suara Islam-phobia dari Jawa, mungkin bisa dimasukkan ke dalam barisan itu. Dan Gus Miftah nampaknya telah membuka diri sebagai diantara "the oponents" itu.

*fb penulis
Baca juga :