SIKAP HIPOKRIT MENAG YAQUT: Antara Habib Bahar dan Ferdinand Hutahaean

SIKAP HIPOKRIT MENAG YAQUT

Oleh: Ahmad Khozinudin, SH (Advokat Muslim)

Menag Yaqut sepertinya belum bisa move on bahwa dirinya berkedudukan sebagai pejabat penyelenggara negara, menteri bagi segenap rakyat. Yaqut masih merasa dirinya sebagai ketua ormas, yang dianggap lumrah mengambil sikap partisan.

Sebagai menteri bagi segenap rakyat, Menag Yaqut semestinya berdiri ditengah, atau berdiri di atas semua golongan. Tidak boleh memihak, baik secara terbuka atau implisit.

Namun sikap itu tak ditampakkan oleh Yaqut. Menag justru menampakkan sikap hipokrit.

Menag Yaqut tegas saat kasus Habib Bahar bin Smith terkait tuduhan penyebaran kabar bohong atau hoaks. Harus diadili tanpa pandang bulu.

"Saya mendukung apa yang dilakukan Polri terhadap Bahar Smith," kata Yaqut kepada wartawan, Rabu (5/1/2022).

Yaqut menyebut bahwa Indonesia berstatus negara hukum. Artinya, kata dia, semua orang harus mematuhi semua peraturan yang ada di Indonesia. Bila melanggar, lanjut dia, sudah sewajarnya harus ditindak tanpa pandang apapun latar belakangnya.

Namun, sikap Yaqut berbeda 180 derajat pada kasus Ferdinand Hutahaean. Padahal, kasus Ferdinand lebih sensitif, yakni kasus dugaan penodaan agama.

Menag Yaqut meminta masyarakat tidak buru-buru menghakimi Ferdinand Hutahaean dalam kasus cuitan ‘Allahmu lemah’.

“Saya mengajak masyarakat untuk tidak buru-buru menghakimi Ferdinand. Kita tidak tahu apa niat sebenarnya Ferdinand memposting tentang ‘Allahmu Ternyata Lemah’ itu,” kata Yaqut dalam keterangannya, Jumat (7/1/2022).

Sebuah sikap hipokrit seorang Yaqut yang telanjang dihadapan publik. Sikap Hipokrit ini, sepertinya sudah menjadi karakter bawaan Yaqut.

Saat Yaqut merasa dicemarkan Gus Nur, dia melaporkan Gus Nur ke polisi. Namun, tidak pernah menghadiri persidangan meski telah dipanggil lima kali. Yaqut tak berani menghadapi Gus Nur secara jantan di pengadilan.

Tidak layak, seorang menteri apalagi menteri agama justru memihak kepada orang yang diduga menista agama. Tidak adab, seorang menteri apalagi menteri agama memberikan legitimasi bagi kezaliman terhadap ulama.

Sungguh, sikap hipokrit yang terbuka ini benar-benar menjijikkan. Sebuah sikap, yang tidak mencerminkan karakter persaudaraan karena Islam.(*)