Edy Mulyadi Sebaiknya Datang ke Kalimantan, Minta Maaf Secara Langsung dan Terbuka

TEMPAT JIN BUANG ANAK

Oleh: Ustadz Muhammad Abduh Negara*

Saya menjadi bagian dari orang kalimantan yang berharap Pak Edy Mulyadi yang "kepleset lidah" berbicara tentang kalimantan, mendatangi lembaga adat, perkumpulan warga, atau tokoh masyarakat kalimantan dan meminta maaf secara terbuka di sana.

Tapi saya sangat tidak sepakat dengan penggiringan dan penggorengan isu, untuk menyerang PKS atau semua pihak yang kritis terhadap kebijakan pemerintah. Khusus PKS, saya sempat baca ada yang bilang, "Kita buat PKS nol suara di Kalimantan", aw kama qaala.

Ini jelas salah alamat dan sangat tendensius, memancing di air keruh, karena pernyataan Pak Edy dan temannya itu pernyataan pribadi, tidak ada hubungannya dengan PKS.

Apalagi PKS, meski masih banyak kekurangan -tentu saja-, adalah salah satu partai politik yang masih bisa diharapkan oleh umat keberpihakannya pada umat, dan masih bisa diharapkan semangatnya mendukung formalisasi syariah Islam.

Kalau pun mau membuat satu partai nol suara, lebih baik itu diarahkan ke partai yang jorjoran pasang baliho kepak sayap, atau ke partai baru yang kata Pandji Pragiwaksono isinya kosong.

***

Saya paham betul, publikasi media Pak Edy Mulyadi tentang pemindahan IKN itu tidak berniat menghina kalimantan. Saya pun sepakat, pemindahan IKN ini perlu kajian komprehensif, dan kemudian disampaikan ke publik secara objektif, tanpa dirancukan oleh preferensi politik, baik pro jokowi atau anti jokowi, tapi melihatnya dari sudut pandang kemaslahatan umat.

Tapi yang dilupakan Pak Edy yang mengatakan "tempat jin buang anak" dan teman beliau yang ikutan nyeletuk "monyet", bahwa ucapan beliau itu terlalu jakarta sentris atau jawa sentris. Seakan orang Indonesia itu hanya di jakarta atau jawa saja. Jadi menganggap IKN yang baru itu terlalu jauh dan tak ada yang mau ke sana, sampai dibilang tempat jin buang anak. Ya, jauh bagi orang jawa, tapi bagi masyarakat kaltim itu kan dekat. Mengapa tidak melihat dari sudut pandang mereka?

Saya pertama kali mendengar istilah "tempat jin buang anak" itu dari dialog Ustadz Rahmat Abdullah dalam film "Sang Murabbi" dulu, dan saat itu konteksnya adalah lahan yang masih berupa hutan, seram, sepi dan jauh dari peradaban. 

Jadi saat mendengar Pak Edy mengucapkan itu, makna yang langsung saya tangkap sama dengan dialog di film tersebut. Bagi yang jakarta sentris atau jawa sentris, mungkin akan menganggap ucapan itu wajar dan tidak menghina. Tapi bagi orang kalimantan, sangat mungkin penerimaannya berbeda. Saya saja, yang tidak punya fanatisme buta pada kesukuan dan kedaerahan, juga lumayan ter-trigger dengan ucapan itu.

Kembali lagi, saya pribadi menunggu kajian komprehensif tentang pemindahan IKN ini, baik yang pro maupun kontra, dengan data yang kuat, serta analisis dari sisi politik, ekonomi dan lainnya. Sehingga saya dan masyarakat lainnya juga bisa menyikapi dengan tepat isu ini. Tapi harap hati-hati dalam bernarasi, jangan sampai menyinggung daerah orang lain.

*fb (26/1/2022)