SERAMBI MEKKAH

S E R A M B I  M E K K A H

Oleh: Abrar Rifai

Aceh akan selalu terkenang. Berjanji pada diri, untuk suatu ketika nanti kembali ke Aceh. Berdiam di Banda Aceh beberapa lama, menyusuri semua kedai kopi yang bertebaran di seantero Banda.

Selanjutnya menyambangi banyak distenasi budaya, alam dan berbagai kekhasan Aceh yang tak dimiliki daerah lain di Nusantara ini.

Indonesia tanpa Aceh, tak akan pernah ada. Aceh adalah penopang awal negara ini berdiri. Maka, mengenyampingkan Aceh, serupa dahan, ranting dan tangkai daun yang merobohkan pohonnya.

Saya sampai di Banda Aceh, tepat di waktu Asar. Dari rencana sebelumnya yang ingin tiba di kota ini di waktu Subuh. Apa daya, ban mobil kami meletus di Bireuen, setelah sebelumnya menghantam trotoar pembatas jembatan.

Tersungkur saya di Masjid Baiturrahman, membayangkan kejadian tsunami dahsyat yang meluluh lantakkan Banda Aceh dan berbagai daerah lain di Aceh.

Baiturrahman tetap kokoh berdiri. Rumah Tuhan ini menjadi tempat berkumpulnya manusia menyelamatkan diri. Hingga kini Baiturrahman tetap menyangga kehidupan, yang kian ke sini semakin terseok.

Saya berkunjung ke museum tsunami. Tak sanggup membaca nama. Sekedar menyaksikan gundukan tanah, yang menjadi kuburan massal para korban. Tangis tertahan. Isak tercekat.

Pun, ketiak mendatangi kapal yang entah berapa ton, terseret dari laut hingga puluhan kilometer ke darat. Dahsyatnya tusunami!

Ada banyak nama yang ditulis. Hingga bibir tak sanggup mengeja. Pun, jari tak mampu menunjuk.

Aceh dengan kearifan lokalnya yang khas, akan tetap berada di pangkuan Ibu Pertiwi. Syariat Islam yang tengah diupayakan untuk tegak, bukanlah penghalang bagi Aceh untuk tetap menjadi sebaik-baiknya anak Pertiwi.

Para perempuan Aceh, dengan busana rapat menutup aurat. Berupa wajah, dari Arab, India, hingga Eropa dan bahkan Cina, dimiliki oleh wanita-wanita Aceh.

Para lelakinya adalah pemberani. Mengalami ketidak-adilan, mereka tidak menyerah.

Aceh terus bangkit, melupakan pilu masa lalu. Mengubur segenap kisah duka, untuk tersenyum mempersembahkan peradaban nan elok. Sebagai hadiah terindah bagi anak-anak Banda, yang kelak akan terus berbabgga menjadi penghuni Serambi Mekkah.(*)