PEMABUK YANG YAKIN MASUK SURGA

PEMABUK YANG YAKIN MASUK SURGA

Oleh: Azwar Siregar

Sebut saja namanya Wak Min. Seorang Duda beranak tiga.

Sejak kematian istri tercintanya, hidupnya setiap malam selalu ditemani seteko Tuak.

Pekerjaan Wak Min adalah Kuli Bangunan. Buruh lepas. Kalau ada proyek Pembangunan Rumah, Sekolah atau Jembatan, baru dia bekerja. Selebihnya dia akan mengganggur.

Tetapi jadwal rutinnya ke Warung Tuak selalu tetap. Sekalipun dia sedang menganggur. Tinggal tulis "bon-hutangan". Sebulan, dua bulan, bahkan setengah tahun kemudian ada Proyek pekerjaan, baru dibayar.

Suatu hari dia mendatangi saya. Saya baru selesai Shalat Isya. Masih pakai Sarung. Duduk santai selonjoran di teras Rumah.

Wajah Wak Min kelihatan sangat berbahagia. Walaupun matanya memerah. Dia sedang mabuk. Bau tuak tercium menyengat.

"Duduk Wak, kelihatannya heppi betul nih malam. Tembus kah nomor buntutnya?"

"Bukan Gar. Wawak memang sangat bahagia. Karena barusan Wawak dapat Pencerahan"

Bah! Apa si Wawak kesurupan Lia Eden ya?

"Pencerahan gimana Wak?"

"Wawak kemungkinan besar bisa masuk Surga, Gar!"

"Ya, bisalah. Kalau Wak Min bertaubat. Jangan mabuk-mabukan lagi. Jangan main perempuan lagi. Laksanakan perintah Agama, khususnya Sholat"

"Bukan Gar. Wawak kalau berharap masuk Surga dari amal ibadah itu berat. Bacaan Sholat aja Wawak ngga hafal sampai sekarang"

"Terus gimana caranya Wawak yakin masuk surga, apa Wawak merasa punya koneksi dengan Tuhan?" Tanya saya sambil tersenyum melecehkan. Dasar Tukang Mabuk. Tapi juga sedikit merasa penasaran.

"Gar, Wawak memang Tukang Mabuk. Tapi Wawak tahu dan malu menjadi Pemabuk. Sedangkan Wawak lihat, ada umat Nabi Muhammad yang mengaku orang-orang baik. Sering posting Sholat. Bahkan sudah Haji. Tapi dia bangga memposting di Media Sosialnya sedang minum Wine."

Saya terdiam.

"Gar, Wawak memang Tukang main Perempuan. Tapi Wawak tau itu salah. Tapi sebejad begini, Wawak tidak pernah ngefans sama pelaku Zina. Tidak mencari pembenaran atas kemaksiatan"

Saya semakin terdiam. Saya jadi teringat pembelaan mati-matian saya kepada seorang Pemusik Ganteng dan Artis Cantik yang Video perzinahan mereka tersebar ke masyarakat. Kemudian si Pemusik ditahan. Saya melakukan Pembelaan dan mengatakan "Jangan menghakimi seseorang karena bisa saja kita juga melakukan hal yang sama".

"Gar, Wawak memang Pemain Judi. Tapi Wawak tau diri. Sangat hormat dan mencintai Ulama. Apalagi Ulama keturunan Rasulullah. Jangankan mencaci-maki apalagi menyakiti, lewat depan Baliho Ulama saja Wawak menunduk hormat. Beda dengan mereka yang berpangkat. Masuk Masjid diberikan shaf terdepan. Tapi malah anti dan mengkriminalisasi Ulama dan Dzurriyat Rasulullah."

Kepala saya semakin tertunduk. Teringat seseorang yang malah diberikan umat maju ke tempat Khatib. Eh malah ceramah "Jangan terlalu dalam belajar agama". Dasar manusia sakit jiwa.

"Hidup Wawak memang berantakan. Bergelimang noda dan dosa. Tapi Wawak tahu itu salah. Wawak tidak terlalu paham agama. Bacaan alfatekah Wawak saja kemungkinan banyak yang salah. Tapi Wawak cuma merugikan diri sendiri. Wawak tidak mengajak orang. Tidak menyesatkan orang. Tidak menyelewengkan ayat suci dan hadist Nabi hanya demi jabatan. Demi Kursi Menteri. Demi kursi Wakil Presiden."

Wak Min menarik nafas. Saya masih tetap terdiam. Tidak menyangka kata-kata Pemabuk yang saya anggap sampah ini penuh dengan mutiara.

"Selama hidup Wawak memang bukan laki-laki bertanggung jawab. Tapi Wawak hanya membuat sengsara empat jiwa. Almarhum Wawakmu yang perempuan dan ketiga anak Wawak. Itupun karena Wawak tidak punya kemampuan. Karena Wawak cuma Kuli Bangunan. Di sisi lain ada seorang Muslim yang kita sebut Presiden memiliki kemampuan dan kekuasaan. Tapi dia membuat sengsara ratusan juta orang. Siapa yang lebih tidak bertanggung jawab, saya atau Presiden kalian? Apakah salah kalau Wawak merasa lebih berhak salah satu kursi Surga ketimbang sebagian besar dari kalian yang mengaku orang beriman?"

Saya baru mau jawab, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara Azan. Antara nyata dan tiada.

"Lho, barusan Isya. Azaan apaan ini ya?"

Innalillahi, ternyata saya cuma bermimpi. Dan saya ingat Wak Min sudah beberapa tahun yang lalu meninggal dunia.

(fb)