Cerita Emak-emak Aksi Reuni 212: "Ampuuunlah! Musola dan UGD saja di-sweeping. Beraninya sama ummat nih w*rcok"

Cerita Emak Aktivis Hari Ini

Oleh: Pipiet Senja (Penulis senior)

Alkisah, ummat akan Reuni 212.

Seperti tahun-tahun sebelumnya di grup perjuangan sudah sibuk. Ada yang berkenan donasi. Sekadar titip untuk logistik pada hari H nya.

Ada juga yang menyerahkan amanah kepada Yayasan Maharani Peduli. Agar dana yang terkumpul bukan hanya untuk logistik jamaah 212. Melainkan juga untuk berbagi dengan para kuli jalanan, pekerja kasar lainnya yang dilewati konvoy kami.

Berita pernyataan ancaman para dedemit, eeeh, petinggi pun seliweran. Mulai dari sekadar himbauan sampai serius mengancam akan dipidanakan. Jika nekad datang untuk Reuni 212.

Kami aktivis perjuangan sudah kebal sepertinya dengan berbagai ancaman macam Jenderal itu.

Bahkan segera emak-emak berjamaah bikin status.
Intinya balik mengancam, eeeeh, siapa takut?

Mau dipidanakan? Sok welah di mana kira kira dipenjarakannya?
Monas? Malah asyik!
Kita bisa bikin gerakan makar seriuuussss…. Kan dicontohkan oleh KKB. Biar dirangkul sama isilop, eaaaaa!

Mendadak ada berita Panitia sudah pilih titik kumpulnya di Az Zikra, Sentul. Sekalian takziah dan tahlilan untuk putra alm Arifin Ilham.

Sempat pecahlah suara emak-emak. Ada yang menyambut baik.
Ada juga yang merasa tak enak.

“Masa orang lagi berkabung malah dihebohkan untuk Reuni 212?”
“Mending gak jadi sajalah reuniannya!”
“Iya gak ada sejarahnya itu!”
“Pindah sana, pindah sini, huh!”
“Panitianya mau saja ditur-atur, apa gimana sih?”

Buru-buru ada yang menengahi.
“Kita tetapkan saja tikpul di Patung Kuda. Dari pagi sampai siang.”
“Oke, Ndan!”

Menjelang tengah malam diberitakan, semua jalan menuju Patung Kuda ditutup!
Kali ini tidak hebohan. Semua sudah sepakat.
Jangan kalah sebelum berperang.
Semua punya cita-cita; syahid!
Jalan terus!

Bada Subuh aku pamitan kepada anak cucu. Mau ceklab ke rumah sakit. Hihi. Padahal masih seminggu lagi jadwalnya.
Sebab kemarin aku baru transfusi.
Aku pun naik Gocar menuju Indosat. 
Anakku sudah transfer untuk tambah nebus obat.
Biasanya kami aman berkumpul di situ.

Eeeeh, jalanan ternyata serius sudah ditutup.
Polisi dengan kendaraan berat untuk perang ada di mana-mana.
Serius. Jadi teringat saat diundang ke Mesir 2013. Tepat Presiden Mursi digulingkan.

Ya Allah….segitunya wercok!

Pagar berduri membentang di jalan menuju Indosat.

Nekad sajalah. Aku kucluk-kucluk sendirian, mau menerobos pagar petugas.

Ya, memang harus masuk ke kawasan rumah sakit Budi Kemuliaan.

Saat ditanya polisi; “Mau ke mana, Bu?”

“Mau ke rumah sakit. Boleh?” sahutku tegas.

“Sakit apa, ya Bu?”

“Darting gara gara kelakuan kalian. Super panik nih yaaa!” tujasku sambil ngeloyor masuk pintu gerbang rumah sakit.

“Eeeeh….” Dia tak mengira mendapat jawaban begitu agaknya, terheran-heran memelototiku.

“KKB urus tuh di Papua, Pak Polisi!” teriakku lantang sebelum jalan cepat memasuki kawasan rumah sakit.

Bodo amatlah, mau diapain kek!
Jumpa dengan Ridha dan Siska dari Maharani Peduli ruang tunggu UGD. Kami bincang-bincang melepas kangen. Dua tahun tak jumpa, gara-gara si Koped.

Ridha mantengin grup. Ketuanya, Maidah Maharani, malah tepar di rumah sakit. Adhit dan emak-emak bagian logistik sudah berada di sekitar Patung Kuda.

Berharap bisa menjebol pagar berduri.
Jika Allah Swt berkenan, apapun bisa terjadi.

Beberapa saat aku sempat memandu cucuku, Qania. Latihan soal Ulangan.

“Jadi balik ke SD lagi, ya Mak,” komentar Siska, menertawakan kelakuanku.

Mujurlah pelajaran Bahasa Indonesia, makananku kabeh, hehe.

Tak lama kemudian tampak beberapa polisi masuk, mendatangi kami.

“Silakan keluar bagi yang tidak berkepentingan!” perintahnya dalam nada tegas dengan tampang dipasang sangar.

Ampuuunlah!
Musolah dan UGD saja di-sweeping.
Cari jalan keluar agar kumpul lagi bersama dua emak MP.

Digiring ke sana digiring ke mari. Sudah seperti kepada hewan saja perlakuan wercok kepada ummat.

Ya Allah….

Beberapa jenak aku termangu-mangu di depan pagar berduri.

Seketika serasa ada yang mencabik-cabik ulu hatiku. Nyeri kurasakan.

Mengapa mereka begitu benci Islam dan anti pemeluknya?
Islamophobia banget!
Lihat saja Dungpret koar-koar; Tuhan bukan orang Arab. Serius, preeeet banget!

Lihat video viral, di Papua mereka kocar-kacir dikejar KKB.
Beraninya sama ummat nih wercok.
Mentang-mentang kami senantiasa mematuhi seruan Ulama. 
Sabar, sabar, sabar tiada batasnya.

Sementara massa semakin banyak berdatangan.
Ridha dan Siska mengajakku naik Gocar.
Aku pun terhenyak di sebelah Pak Sopir.
Semesta doa kami, segera turunkan azab-Mu kepada para pemimpin zalim, gumamku membatin,

Kemudian kami diarahkan agar merapat ke Jalan Thamrin – Kebon Sirih. Dikabarkan Patung Kuda jebooool!

“Alhamdulillah…. Ya Robbana!” gumam kami kompak.

Panjang umur perjuangan.

Allahu Akbar!

Jakarta, 212 - 2021