TAK TERDUGA

TAK TERDUGA

Oleh: Dr. Moeflich Hasbullah (Pakar Sejarah Islam, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung)

Sekitar Tahun 2017, datang seorang mahasiswa ke ruang dosen menghampiri saya karena sudah janjian. Nama inisalnya "P." Saya sedang bersama sahabat sekaligus guru saya ngobrol santai di ruang itu. Si mahasiswa itu memelas, meminta nilai yang kosong. Ia sudah semester akhir dan nilai kosongnya banyak. Biasanya karena tak ikut ujian, tugas tidak masuk, absen kurang dll. Banyak dosen sering bingung menghadapi mahasiswa seperti ini karena banyak yang cuma beralasan atas masalahnya, walaupun ada juga yang jujur. 

Beruntung, saya sedang bersama sahabat sekaligus guru yang saya percayai ilmu dan kemampuannya. Saya memintanya 'membaca' si mahasiswa itu. Sahabat saya menerangkan bahwa ia anak prihatin, berjuang membantu kekurangan ekonomi keluarganya dan tanggung jawabnya sangat bagus. 

Saya tanya, si mahasiswa itu mengakui, ia banyak bolos kuliah karena selain mengurus ibunya, juga harus sering berjualan gorengan bertanggung jawab atas sekolah adik-adiknya. 

Setelah dijelaskan begitu. Wajah jujurnya tertangkap. Saya trenyuh mendengarnya. Batin bergetar. Saya percaya.

Biasanya, yang akan saya beri nilai susulan, saya kasih dulu tugas atau tugas tambahan lain. Tapi kata sahabat saya saat itu, "gak usah, kasih dia uang!" Lho? "Dia sedang sangat membutuhkan. Tanggung jawab pada adik-adiknya itu lebih dari kuliah. Itu akan lebih bermakna ketimbang memberinya tugas." Hati saya berkata: "Benaaar ... setuju!!" 

Si mahasiswa itu sungguh beruntung, biasanya yang meminta nilai itu diberi tugas, bahkan banyak dosen tidak mau melayani, ini malah dikasih uang. Karena percaya dan hati yang berbicara, tugas saya batalkan. Dan, tanpa mikir, saya kasih nilai A dan memberinya uang 150 ribu. 

Saya bilang: "Itu nilai A adalah nilai atas tanggung jawab pada adik-adikmu dan 150 ribu adalah rizkimu dari Allah. Terimalah dan teruskan berjuang!" 

Mahasiswa itu berkaca-kaca, matanya tampak agak basah, mau menangis. Terharu, mengalami peristiwa aneh. Batinnya tampak seperti ingin menjerit bahagia ada orang, dosennya, yang mengerti penderitaan hidupnya 😭😭😭. Padahal saya tidak mengerti, saya hanya diinstruksi yang saya rasakan benar 😊.

Ia pun berterima kasih dengan segenap rasa sambil bingung harus berkata apa. Ia mencium tangan dan pergi. Ia tak bisa apa-apa kecuali harus menerima dan bersyukur atas kemudahan dan pemberian itu. Saya gak tahu, diluar mungkin dia menangis yang tadi ditahannya. 

***

8 Nopember 2020. Saya diminta mengisi acara talkshow komunitas "Generasi Gemilang Mumpuni" dalam rangka Sumpah Pemuda dengan tema "Kiprah Pemuda sebagai Penentu Arah Sejarah." Sekitar 25 mahasiswa dari berbagai kampus di Bandung hadir yang tergabung dalam komunitas itu. Pemimpin komunitasnya tak hadir. Saya biasa, berbicara berapi-api, lebih banyak memotivasi sebisa mungkin, dari hati, dengan jiwa. Alhasil, yang hadir katanya terkesan, sangat senang, banyak terinspirasi dan motivasi banyak terbangun. Saya pun diminta lagi kesiapaannya untuk acara mendatang.

Esok malamnya alias tadi, ada pesan we-a, mengucapkan terima telah mengisi acara kemarin dan menyampaikan kesan para peserta mahasiswa yang terkesan dengan materi kemarin. Pesan itu dari ketua komunitasnya yang tak bisa hadir. Dia bilang, "Pak itu yang hadir adalah wakil dari beberapa komunitas yang ada di Bandung. Saya sedang menggabungkan beberapa komunitas anak-anak muda di Bandung dan yang sudah bergabung dan terbina baru 20 komunitas anak-anak muda." 

Oh ya? Saya kaget dan senang mendengarnya. Memang terasa antusiasmenya hidup. "Dengan sangat, kami memohon Bapak bersedia menjadi pembina komunitas itu." Siaap ... jawab saya tanpa mikir. "Pak," katanya lagi, "berdirinya komunitas itu adalah hasil dari kuliah-kuliah bapak dan motivasi-motivasi Bapak yang sangat terkesan yang saya terima selama kuliah." Hah? Kuliah yang mana? Kapan?   

"Saya sangat terkesan, bapak banyak memberi motivasi dalam kuliah yang berbekas pada jiwa saya. Saya banyak mencatat kalimat-kalimat Bapak saat kuliah. Dan ada yang sangat berbekas saat bapak menjelaskan tentang persatuan umat Islam dari surat Al-Mudatsir: Yaa ayyuhal mudatsir ... haii ... orang-orang yang berselimut!! Qum fa-andhir. Warabbaka fakabbir!! Bangunlah, berilah peringatan dan Tuhanmu besarkanlah!!"

Saat itu Bapak menjelaskan: "Bangun, agungkan dan besarkan hanya Tuhanmu saja, hanya Allah saja, bukan kelompokmu, komunitasmu, golongannmu, organisasimu. Bukan NU-mu, bukan Muhammadiyahmu, bukan Persismu, bukan HMI-mu, bukan FPI-mu, bukan 212-mu, tapi Tuhanmu saja. Itu perintah Al-Qur'an. Kuburkan kepentingan semua kelompok dan organisasi saat nama Allah harus diagungkan dan dibesarkan. Membesar-besarkan dan mengutamakan kelompok dan organisasi hanya akan menghasilkan perpecahan, konflik internal dan rebutan kepentingan duniawi!" 

Saat itu saya berpikir Pak, "Iya ya, apa sih yang dicari oleh para pemuda sekarang ... banyak yang saling membangga-banggakan kelompoknya masing-masing, jadi ashabiyah, perpecahan terjadi dan pemuda jadi lemah. Nah, berdasarkan kuliah itu, penjelasan yang berbekas itu yang membuat saya sekarang bercita-cita ingin menyatukan para pemuda di Bandung, yang sekarang baru tergabung 20 komunitas, yang hadir kemarin hanya 12 komunitas."

Masya Allaah ... saya sudah lupa dengan kuliah itu. Yang ingat dalam kuliah, saya sering memberi motivasi dan membangunkan jiwa supaya pada hidup semangat. "Ceritanya panjang Pak, yang jelas itu hasil kuliah bapak. Sekarang saya dan anak-anak komunitas selalu mengikuti status-status bapak di fesbuk. Banyak tulisan yang menggugah ... jadi inget kuliah-kuliah Bapak dulu."

"Dan yang membuat saya terharu, Bapak pernah ngasih nilai A dan uang 150 ribu padahal maksud kedatangan saya mau minta nilai. Saya gak hadir ujian komprehensif karena ibu sedang sakit. Saat itu saya sangat terharu Pak, beneerr ... begitu keluar ruangan mata saya basah Pak, berbekas di jiwa saya seumur hidup. Sekarang, selain saya jadi aktifis sosial, alhamdulillah Pak, istri saya adalah dosen dan saya sedang membangun kantor pemasaran property."

Saya banyak termenung mendengar laporannya. Lupa, tak percaya, bangga, kaget, terharu, campur aduk. Ada dinding jiwa bergetar hampir runtuh. 

Tulisan ini adalah keterharuan saya. Ternyata dia yang sudah maju itu adalah si "P" itu.

(fb)