Syakur dan Tim Jokowi

Syakur dan Tim Jokowi

Oleh: Nuim Hidayat (Dosen Akademi Dakwah Indonesia Depok)

Beberapa hari ini di grup-grup wa ramai membahas tentang ceramah Buya Syakur di kepolisian. Banyak tokoh-tokoh Islam yang menyayangkannya. Ceramah Syakur, bila dicermati, adalah khas ceramah tokoh-tokoh Islam Liberal di Indonesia.

Apa hubungan Syakur dengan tim Jokowi? Secara langsung mungkin tidak ada. Tapi secara pemikiran ada. Isi ceramah Syakur yang intinya pluralisme agama adalah agenda pemerintahan Jokowi yang dibungkus dengan nama program anti radikalisme.

Maka jangan heran, muncul ceramah model Syakur. Muncul pernyataan Letjen Dudung tentang semua agama sama. Muncul pernyataan Menteri Agama agar ada doa bersama semua agama di Kemenag dan lain-lain. Diangkatnya Yaqut Qoumas dan Nabiel Makarim adalah untuk menyukseskan program pluralisme agama ini.

Maka jangan heran akan muncul lagi keanehan-keanehan, baik di kementerian, polisi/tentara maupun dari istana. Penulis pernah dengar langsung ceramah dari salah satu kementerian Jokowi di Depok, yang mengampanyekan program pluralisme agama 

Tapi umat Islam tidak perlu risau. Meski pemerintah punya agenda program itu, kaum Muslimin masih mempunyai ribuan masjid dan sekolah untuk menangkal program itu. Guru-guru, dai-dai dan para kyai masih banyak yang berpegang pada fatwa MUI bahwa pluralisme agama adalah haram.

Ajaran yang menyatakan bahwa semua agama sama atau semua agama dijamin masuk surga, adalah ajaran baru untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslimin di tanah air. Ajaran ini sebenarnya bersumber dari pemikir-pemikir Barat yang sebenarnya tidak mengenal Al Qur'an dan sejarah perjuangan Rasulullah. Sayangnya kini banyak tokoh di Indonesia yang mengikutinya dan ikut mengampanyekannya.

Mereka yang terkena virus pluralisme agama, menjadi hilang kebanggaannya menjadi muslim. Hilang semangatnya membela Islam. Dan secara sadar atau tidak sadar menjadi pembebek agenda kaum lain. Ia selamanya menjadi pak turut dan tidak akan menjadi pemimpin. Apalagi menjadi pemimpin Islam.

Karena hilang semangatnya membela kemuliaan Islam, jangan heran mereka yang terjangkit virus ini kemudian menjadi rakus dunia (jabatan). Ia akan bangga menjadi pembela umat lain dan tidak merasa salah menyerang Islam atau umat Islam sendiri.

Persis seperti yang dikatakan penyair Muhammad Iqbal, 

"Kearifan umat beriman telah kulepaskan
Kini kupelajari kearifan umat yang murtad

Kearifan umat yang murtad adalah kebohongan dan tipu muslihat
Apakah kebohongan dan tipu muslihat? Perusak jiwa dan penegak tubuh

Inilah kearifan yang membebaskan diri dari tali Iman
Dan tersesat jauh dari rumah Cinta

Orang-orang yang mengikuti jalan Firaun ini
Berpikir seperti budak mengikuti kehendak majikannya

Dengan cara yang memikat, pendeta dan ulamanya
Menafsirkan agama menurut kemauan kaisarnya

Kesatuan umat dipecah belah dengan program pembeoannya"

000

Di tengah-tengah gencarnya kampanye pluralisme agama ini, kaum Muslim mesti harus tetap berpegang teguh pada Islam. Pada Al Qur'an, Sunnah dan ijtihad ulama atau kaum cendekia yang shalih.

Dengan akhlak mulia, kita yakin bahwa Islam tetap akan mewarnai Indonesia dan dunia. Lihatlah 'masjid-masjid penuh' di Eropa dan Amerika. Gereja-gereja banyak dijual, karena banyak masyarakat di sana yang sudah tidak percaya Bibel lagi. Masyarakat yang akalnya maju dan mau untuk mempelajari Al Qur'an, mereka hampir pasti masuk Islam.

Al Qur'an adalah satu-satunya kitab suci di dunia yang terjaga keotentikannya. Satu-satunya kitab suci yang mudah difahami dan dihafalkan. Satu-satunya kitab suci yang bahasanya sama dengan bahasa Nabi yang membawanya.

Kaum Muslim yang memahami Al Qur'an mustahil akan berpindah kepada agama lain. Kaum non Muslim yang mencoba mendalami 'kitab sucinya', justru banyak yang pindah ke agama Islam. Hanya Islam lah agama yang melakukan ibadah kepada Tuhannya dengan serius, lima kali sehari. Hanya Islam lah yang mempunyai teladan Nabi yang mulia yang mengajarkan cara hidup mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Bagaimanapun program Tim Jokowi dalam mengampanyekan pluralisme agama, insya Allah akan menemui kegagalan. Sebab kaum Muslim ingin meniru Rasulullah yang berjuang tidak kenal lelah selama 23 tahun untuk menyebarluaskan kemuliaan Islam.

Seperti dinyatakan Rasululullah di awal-awal dakwahnya,"Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini (penyampaian risalah), sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa, pastilah tidak akan aku meninggalkannya."

Janji Allah kepada RasulNya benar. Hanya dalam waktu 13 tahun, Islam telah mendapat tempat yang luas di masyarakat Madinah. Dalam waktu kurang dari 100 tahun Islam telah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Dan dengan damai sampai ke bumi Nusantara yang indah ini. Dengan damai pula, insya Allah akan mewarnai kembali tanah air dan dunia kembali. 

Selamat tinggal kaum yang tidak punya kebanggaan terhadap Islam. Tidak bangga terhadap Rasulullah dan Al Qur'an, anak cucumu akan menyesalimu. 

Marilah kita renungkan, ayat Al Qur'an,"Sungguh, orang-orang yang kafir dan mati dalam kekafiran, tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak memperoleh penolong." (QS Ali Imran 91).

Wallahu azizun hakim.

(Sumber: suaraislam.id)