NDESO 😂! Balapan ATC Di Mandalika Ditunda Karena Kekurangan Marshall, MGPA: Bukannya Bertugas Malah Pada Nonton!

[PORTAL-ISLAM.ID]  MANDALIKA - Heboh pembatalan, yang kemudian diralat menjadi penundaan kejuaraan balap motor usia remaja Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) di Pertamina Mandalika International Street Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu (14/11/2021), karena kekurangan marshall (petugas perlombaan), mendapat respon pihak Mandalika Grand Prix Assosiation (MGPA).

MGPA adalah pengelola sirkuit International Mandalika, Lombok Tengah, yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Jumat (12/11/2021) kemarin.

"Balapan Idemitsu Asia Talent Cup (IATC) dijadwalkan ulang. Dari yang mestinya berlangsung di Pertamina Mandalika International Street Circuit pada Minggu, 14 November hari ini karena alasan teknis akan dilangsungkan akhir pekan depan," ujar Dyan Dilato selaku Head of Operations Sporting MGPA kepada mobilinanews.

Dyan Dilato menambahkan, Dorna Sports selaku promotor bersama dengan Pertamina Mandalika International Street Circuit, dapat mengonfirmasikan final IATC terdiri dari 4 race akan berlangsung 19-21 November, 2021 bersamaan dengan final WorldSBK.

Putaran IATC pertama di Mandalika direncanakan agar sirkuit baru dapat menguji fasilitas dan layanan lintasannya. Tantangan dalam Organisasi Olahraga telah diidentifikasi dan sekarang sedang ditangani untuk memastikan keselamatan pengendara setelah balapan berlangsung. Demikian lanjut Dyan Dilato yang juga menjabat sebagai Direktur Hubungan International dan Event IMI Pusat.

Lalu, bagaimana tentang petugas marshall yang dianggap kurang oleh Dorna Sport sehingga memutuskan menunda balapan IATC?

"Wah, marshallnya katro semua, ndeso. Bukannya bertugas sebagai marshall, tapi malah pada nonton balap. Dan yang dipersoalkan bukan jumlah marshall, tapi kualitasnya," ujar Dyan Dilato yang juga CoC Pertamina Mandalika International Street Circuit.

Yang jadi persoalan, tutur Dyan Dilato yang juga anggota Komisi Balap Motor FIM, ada peraturan dari Gubernur NTB dan Bupati Lombok Tengah yang mengharuskan memberdayakan masyarakat sekitar sirkuit untuk tenaga marshall.

"Gak boleh import (mendatangkan dari daerah lain). Lah wong nurunin batu buat proyek aja harus AKAMSI alias Anak Kampung Sini. Jadi memang hambatan terbesar, sumber dayanya, masih terbelakang," ungkap Dyan Dilato.

Sebuah sumber yang tinggal di Lombok menambahkan, kalau saat ini susah untuk mencari marshall dari warga lokal sekitar sirkuit Mandalika. "Maklumlah, lagi musim benur (anak udang)," ujarnya.

Yang jadi pertanyaan, kenapa MGPA tidak jauh-jauh hari melatih marshall, seperti yang dilakukan pengelola sirkuit lain untuk menghadapi sebuah event international sekelas WSBK dan MotoGP?

Bahkan Faryd Sungkar yang pernah menjadi Wakil Pimpinan Perlombaan dan Pimpinan Perlombaan WSBK dan GP500 di Sirkuit Sentul pada 1994-1997, telah mengingatkan dengan menyampaikan pihaknya telah menyiapkan dan melatih sekitar 300 petugas lomba (marshall) 3 bulan sebelum event.

"Dan secara berkala, sekali dalam 2 minggu, kami melakukan simulasi kepada para marshall seolah-olah berlangsung balapan WSBK dan GP500. Dengan begitu, mereka benar-benar siap dan mengerti apa yang harus dilakukan jika terjadi accident (insiden) dalam balapan. Dan memang benar, kami juga memberdayakan masyarakat sekitar Sentul. Tapi, melakukan secara selektif. Kita anggap gak mampu, ya kita ganti dengan yang mampu, dan seterusnya begitu" terang Faryd Sungkar.

Dan ternyata baru sepekan lalu pihak MGPA mendatangkan beberapa figur yang biasa menjadi pimpinan perlombaan dan juri balap motor dari IMI dan Jatim untuk melatih para marshall di Mandalika yakni Doni Mahardjono, M Taufik serta Achmad Subehan.

"Saya sebenarnya juga diminta untuk ke Mandalika. Tapi karena sudah lebih dulu diminta Oneprix sebagai Race Direction, saya usulkan beberapa nama yang kemudian berangkat ke sana. Baru minggu depan (WSBK), saya bisa ke sana," ungkap Eddy Horison.  

(Sumber: mobilina)