Tere Liye: Alasan Proyek Kereta Cepat Ditalangin APBN Biar Tidak Mangkrak, Ini Alasan Ajaib Sekali!

MANGKRAK

Salah-satu alasan pendukung proyek kereta cepat agar ditalangin APBN adalah: biar tidak mangkrak.

Ini alasan ajaib sekali. Kenapa? Karena proyek ini sejak awal kan konsepnya B2B, business to business. Ngerti nggak sih kamu arti B2B? Swasta dan swasta. Swasta China ketemu swasta Indonesia. Kalau mangkrak, maka itu mangkraknya swasta. Selesai. Nggak ada urusan sama negara? Right?

Biarkan saja mangkrak. Kalau ada yang protes, kamu tinggal bilang: 'WOI! itu tuh b2b, 100% swasta, nggak ada urusan sama pemerintah. Dasar hater, kadal gurun, lihat dong data dan faktanya!".

Tapi begitulah, proyek ini sejak awal memang penuh 'tipu-tipu'. Atas 'nipu', bawah 'nipu'. MEREKA ngoceh kemana-mana bilang b2b, tapi kamu tahu tidak konsorsium perusahaan ini, 40% swasta China, 60% swasta pemerintah. Nah, siapa swasta ini? BUMN patungan bikin anak perusahaan. Jadi apakah ini swasta? Kagak!

Mana ada sejarahnya BUMN itu swasta. Yang ada, kalau untung, laba, mereka 'congkaknya' minta ampun, bilang ini kinerja gue. Tapi kalau rugi, nyaris bangkrut, mereka minta talangan. Total dana talangan bisa puluhan, ratusan trilyun. Coba kamu totalkan saja, berapa dana pemerintah dibenamkan di BUMN-BUMN ini 10 tahun terakhir, kaget nanti. 

Maka, sejak awal, proyek ini memang b2b KW alias b2b abal-abal. 

Siapa yang bersorak dan pesta pora? China. Mereka genius sekali. Jepang awalnya ngasih angka biaya 6,2 milyar dollar, tapi dia minta jaminan pemerintah. China pinter dong, angkanya 5,9 milyar dollar, b2b. Pemerintah Indonesia lantas 'mengkhianati' Jepang yang padahal riset lebih dulu lewat JICA. Kepincut sama b2b abal-abal ini tadi. Seolah-olah jika b2b begitu, nanti pemerintah bisa lepas tangan. Ambyar!

Proyek berjalan, tahun demi tahun berlalu. Bahan baku, seperti baja, dll, dari mana dong? Tenaga kerja ahli, dll, dsbgnya dari mana dong? Ehem, China sudah untung di sini. Namanya untung konstruksi. Bunga pinjaman setiap tahun bayar ke siapa dong? Lagi-lagi, China sudah untung di sini, namanya untung pendanaan. Dapat semua mereka. Dan saat biaya membengkak, tinggal bilang, 'Haiya, boss, itu telnyata salah hitung. Koleksi ya, boleh?"

Proyek membengkak jadi 8 milyar dollar. China tertawa lebar. Karena ehem, skema b2b itu memang abal-abal. Bahkan saat mereka bilang naik lagi 10 milyar dollar, pemerintah Indonesia harus bertekuk lutut.

Kenapa?

Karena biaya pencitraan itu mahal! Proyek ini mangkrak, nanti Candi Hambalang ada temannya. Bangkai busway ada temannya. Stadion-stadion ada temannya. Dan sst, jika ini mangkrak, siapa yang nanggung biaya bunga, pokok pinjaman? Anak perusahaan BUMN! Kalau anak perusahaan ini kenapa-kenapa, siapa yang nanggung? Rakyat Indonesia.

Pinter.   

Maka, sejak awal, China sudah genius. 

Apapun yang terjadi, proyek ini harus jadi. Dan besok-besok, tiket penumpang HARUS disubsidi habis-habisan. Kamu benar-benar halu jika bilang tiket tidak akan disubsidi. Coba sini lihat FS kalian. Lulusan Universita Mars pun tidak bisa nulis asumsi tiket Rp1 juta sekali jalan Jakarta-Bandung. Asumsi 3 juta penumpang per tahun? Ngimpi. Lagi-lagi subsidi pakai dana APBN. Karena kalau operasionalnya jeblok, itu bunga dan utang siapa yang bayar?

Nah, jika NKRI lepas tangan, nyerah, karena kadung banyak utang, tenaaang China akan mengambil-alih semuanya, mereka akan bereskan, sepanjang kita terus bayar bunga, pokok, dll, dsbgnya. Plus konsesi lain yang menguntungkan China.

Sesimpel ini kamu tidak paham? Itu teh, sudah terjadi di mana-mana, coba belajarlah dikit dari kesalahan negara lain. Biar literasi proyek kamu itu lebih baik. Bukan cuma nafsu pencitraan doang yang gede.

(By Tere Liye)

*fb penulis 22/10/2021