Epidemiolog: Akurasi Data Pandemi DKI Jakarta Terbaik di Indonesia

JAKARTA – Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat terjadi pertambahan kasus baru Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) sebanyak 1.384 orang per kemarin. DKI Jakarta mencatat angka kasus baru Covid-19 terbanyak dengan 150 kasus.

Menariknya, tak ada tambahan pasien meninggal di DKI Jakarta. Dengan kata lain, angka kematian di Ibu Kota nol. Hal ini merupakan capaian nol kematian pertama akibat Covid-19 di DKI Jakarta.

Sejumlah pihak menilai nol angka kematian merupakan capaian keberhasilan pemerintah DKI Jakarta. 

Epidemiolog dari Universitas Indonesia, dr. Pandu Riono, menyebutkan nihilnya pasien Covid-19 yang meninggal kemarin membuktikan keberhasilan program vaksinasi di Jakarta. 

"Ini bukti bahwa cakupan vaksinasi tinggi bisa mencegah kematian dan tingkat keparahan seseorang terjangkit Covid-19," kata dr. Pandu ketika dihubungi, kemarin (8/10/2021).

Berdasarkan data situs web resmi Covid-19 DKI per kemarin, angka vaksinasi dosis pertama di Jakarta mencapai 10.591.515 atau 118,5 persen. Adapun angka vaksinasi dosis kedua mencapai 7.895.222 atau 88,3 persen

Cakupan vaksinasi bagi warga lanjut usia atau di atas 60 tahun juga tinggi. Buktinya, vaksinasi dosis pertama terhadap orang lansia mencapai 92,2 persen. Adapun vaksinasi dosis kedua bagi warga lansia mencapai 80,7 persen. 

"Tingginya vaksinasi orang lansia ini sangat penting, sangat mengurangi risiko kematian," kata dokter lulusan PhD University of California Los Angeles – USA itu.

Kabar tentang nol angka kematian di DKI sempat ramai pada Kamis lalu. Saat itu Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menceritakan kabar baik tersebut di akun media sosial miliknya. Anies mengatakan capaian ini masih jauh dari kata sukses. Sebab, faktanya pandemi Covid-19 belum selesai.

Anies lantas meminta masyarakat tidak lengah dan tetap taat protokol kesehatan. Ia berharap masyarakat mengingat betul kondisi kritis Covid-19 yang melanda Jakarta pada Juli lalu. "Jangan sampai kita kembali ke titik itu," demikian tulisan Anies di akun media sosialnya.

Namun, berdasarkan data Satgas Covid-19 DKI dan pusat, rupanya terselip satu korban meninggal pada Kamis lalu. Pemerintah DKI buru-buru memberikan klarifikasi. Intinya, terjadi perbedaan waktu pencatatan data.

Meski demikian, Pandu menganggap silap data tersebut bukan masalah esensial. Sebab, faktanya kondisi pandemi Covid-19 di DKI Jakarta memang menunjukkan perbaikan dalam beberapa waktu terakhir.

Soal data Covid-19, Pandu yakin DKI menjadi salah satu provinsi terbaik dalam pengelolaan data. Sebagai bukti, pencatatan data Covid-19 di DKI menjadi yang paling akurat di Indonesia. 

"Pelaporan data diupayakan masuk pada hari yang sama. Ini yang bikin data terlambat masuk sangat kecil," kata Pandu.

Data Pandemi DKI Jakarta Terbaik 

Satu suara dengan Pandu, epidemiolog dari Universitas Airlangga, Windhu Purnomo, menganggap kualitas data pandemi Covid-19 milik DKI Jakarta menjadi yang terbaik di Indonesia. Sebab, sejak awal masa pandemi, DKI sudah menerapkan pengawasan yang rinci dalam setiap aspek pandemi, seperti jumlah dan hasil pengetesan serta korban meninggal.

"Sehingga data epidemiologi Covid-19 di Jakarta paling mendekati realitas. Demikian pula dalam hal keterbukaan data, mereka yang terbaik," kata Windhu ketika dihubungi, kemarin.

Sementara itu, kolaborator ahli LaporCovid-19, Dicky Pelupessy, mengatakan data pandemi Covid-19 memang menjadi masalah yang selalu muncul di Indonesia. Menurut Dicky, belum semua pemangku kepentingan di pemerintah daerah dan pusat punya kesadaran tentang pentingnya akurasi data.

Padahal data menjadi salah satu parameter terpenting bagi pemerintah dalam menetapkan sebuah keputusan pada masa pandemi ini. Penggunaan data yang salah bisa berbuah blunder ketika pemerintah memutuskan sebuah sikap. "Pengumpulan dan pelaporan data masih menjadi kendala utama," kata Dicky.

Dia pun berharap akurasi data akan menjadi evaluasi utama pemerintah, termasuk DKI Jakarta. Dia berharap pemerintah DKI mampu menjaga keakuratan dan keterbukaan data pandemi.

Bahkan perbedaan satu angka kematian akibat Covid-19 tak boleh dianggap sepele. "Memang kecil, tapi satu angka kematian itu berarti satu nyawa orang. Itu berharga," kata Dicky.

(Sumber: Koran TEMPO, 09-10-2021)