Gus Baha & Ustadz Adi Hidayat

Mohon maaf, kali ini agak terbuka dengan menyebutkan nama. Karena warganet, kalau tidak disebut nama, sering salah tangkap maksud dari penulis.

Di dunia maya, saya baca -paling tidak- ada dua nama ustadz/kiyai, yang begitu dipandang tinggi oleh warganet, dan dianggap "paling alim". Yang pertama, Ustadz Adi Hidayat. Yang kedua, Gus Baha. Hafizhahumallahu ta'ala.

Tentang keilmuan dan kekuatan hafalan keduanya, kita tidak meragukan. Semoga Allah memberkahi ilmu mereka dan membuatnya bermanfaat untuk kaum muslimin. Tapi, ada bibit sikap berlebih-lebihan kepada mereka, saat sebagian jamaahnya menganggap dua nama ini sebagai "yang paling alim".

Karena dianggap paling alim, pendapat dan pernyataan yang mereka lontarkan di dunia maya, dianggap sudah paling paten, tak mungkin salah lagi. Yang menyelisihi mereka, hanya orang-orang bodoh saja. Ini pemahaman sebagian warganet, yang bisa kita temukan, baik di youtube, facebook, maupun di tempat lainnya.

Karena dipandang begitu tinggi seperti ini, membuka kemungkinan ada dari kalangan santri yang menemukan kesalahan mereka, baik secara sengaja dicari kesalahannya, atau secara kebetulan. Dan memang ada.

Untuk Ustadz Adi Hidayat, dulu pernah mendapat banyak kritik karena ada konsep aqidah yang disampaikan, cenderung mengarah ke qadariyyah. Yang mengkritik bukan cuma dari kalangan "ustadz sunnah", tapi juga dari asatidz haraki, dll.

Kemudian kesalahan menyebut biografi ulama, kesalahan dalam mengutip pendapat fiqih, dan lain-lain.

Gus Baha pun demikian. Seingat saya, dulu ada kiyai muda NU yang cukup tersohor di FB, yang mengkritik Gus Baha dalam sebagian bahasan ilmu kalam, dan menganggap Gus Baha tidak mendalami bab tersebut, sehingga keliru. Yang mengkritik bukan dari afiliasi berbeda, tapi dari yang seafiliasi.

Oh ya, supaya tidak salah paham. Penyebutan kekeliruan-kekeliruan ini, bukan untuk merendahkan dan menjatuhkan mereka. Tidak sama sekali. Siapapun yang pernah punya pengalaman mengajar agama, tentu sadar, bahwa kesalahan-kesalahan tersebut sangat manusiawi. Bisa dimaklumi, toh namanya manusia, bisa keliru, bisa salah ingat, bisa salah konsep, dan semisalnya.

Namun yang disayangkan, sikap warganet yang tidak menyadari hal ini, sehingga polemik berkepanjangan. Menurut mereka, pihak pengkritik itu, di bawah ustadz/kiyai yang mereka kagumi, sehingga tak layak mengkritik, dan kritiknya tentu tidak benar. Mereka tak mau melihat substansi kritik, dan memang tidak paham hal tersebut. Tapi pembelaan terus dilakukan. Mirip pendukung fanatik kpop atau pesepakbola.

Karena itu, saya sering sekali menyampaikan, kepada ustadz/kiyai itu, kita istifadah (mengambil faedah) dan belajar dari mereka, tanpa menafikan kemungkinan mereka salah dalam satu atau dua bab, betul-betul salah, bukan berbeda karena perkara khilafiyyah.

Dan tidak perlu juga membuat pernyataan, "fulan paling alim", karena meskipun ini hal biasa di era salaf, tapi di tempat kita, kebanyakan pernyataan ini tidak dilandasi kejujuran, sikap inshaf, wara' dan pertanggungjawaban ilmiah. Sehingga tidak ada nilainya. Yang ada malah menyuburkan fanatisme tokoh dan membuat seseorang menutup diri dari kebenaran.

(Muhammad Abduh Negara)