Siapa Sultan Alparslan "The Lion of Manzikert 1071 M"?

[PORTAL-ISLAM.ID] Presiden Recep Tayyip Erdogan memperingati ulang tahun ke-950 dimulainya Pertempuran Malazgirt yang dipimpin Sultan Alparslan dan diikuti masuknya bangsa Turki ke Anatolia.

Pertempuran Malazgirt

Penguasaan Turki atas Anatolia dimulai dengan Pertempuran Malazgirt, yang juga dikenal sebagai Pertempuran Manzikert, pada 26 Agustus 1071, di mana pasukan Seljuk Turki yang dipimpin oleh Sultan Alparslan mengalahkan tentara Bizantium yang jumlahnya jauh lebih besar.

Kemenangan Turki atas pertempuran tersebut mempercepat pelemahan Kekaisaran Bizantium, dan menyebabkan lebih banyak orang Turki menetap di wilayah tersebut, membuka jalan bagi pendirian Kekaisaran Ottoman.

Sultan Alparslan "The Lion of Manzikert 1071 M"

Pada tahun 1064 M Sultan Saljuk pertama, Tughril Bey wafat, sepeninggal Tughril Bey, Sultan saljuk berikutnya dijabat oleh keponakannya sendiri yakni Sultan Muhammad Bin Daud Chaghir Bey yang bergelar "Alp Arslan" (Singa Yang Gagah Berani). Di bawah kepemimpinan Sultan Alp Arslan Kesultanan Saljuk terus melakukan perluasan wilayah.

Di sebelah Selatan, perang dengan Dinasti Syiah Fatimiyah terus dilakukan demi mengurangi rongrongan dan pengaruh Syiah di wilayah Kekuasaan Kekhalifahan Abbasiyah. Wilayah Mesir, Aleppo, Yerusalem, dan Ramallah berhasil diambil alih dari tangan Dinasti Syiah Fatimiyah. Sementara di sebelah Utara, Sultan Alp Arslan terus mengerahkan pasukan besarnya untuk menuju Georgia dan Armenia, hal itu dilakukannya demi memancangkan panji-panji Islam di tanah-tanah Kekuasaan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur).

Karena hal itu lah, yang pada akhirnya memaksa Kaisar Byzantium Constantinus IX untuk menyepakati gencatan senjata dengan Kesultanan Saljuk dan memberikan keleluasaan bagi Saljuk untuk menguasai seluruh wilayah Armenia dan Georgia, termasuk Kota Caesarea yang dahulunya milik Byzantium. Dan pada tahun 1068 M Romanus IV Diogenes naik Takhta sebagai Kaisar Imperium Byzantium yang baru untuk menggantikan Kaisar Constantinus IX yang meninggal karena Sakit.

Kaisar Romanus IV Diogenes yang baru saja dilantik langsung melakukan perombakan besar pada struktur pemerintahan didalam tubuh Kekaisaran, hal itu ia lakukan demi menahan laju kemunduran Imperium Byzantium yang begitu hebat dan terlihat semakin nyata, kebijakan Romanus IV antara lain, dengan menambah anggaran militer dalam jumlah yang sangat besar, melakukan perbaikan kekuatan militer, melakukan pembersihan pejabat yang korupsi serta membasmi pejabat yang berkhianat kepada Negara, dan ia juga, terus melakukan peningkatkan stabilitas keamanan di seluruh wilayah perbatasan negara dengan mengerahkan ribuan pasukannya untuk berpatroli secara rutin di wilayah perbatasan. pengamanan dilakukan lebih ketat di wilayah yang bersinggungan dan berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan Kesultanan Saljuk.

Setelah memimpin Byzantium selama 1 Tahun penuh. dan berjuang keras dalam menahan laju kemunduran Imperium Kekaisaran yang hebat. Pada awal tahun 1069 M Kaisar Romanus IV Diogenes menugaskan keponakannya Manuel Comnenus untuk memulai Ekspedisi Militer melawan Kesultanan Saljuk. Dalam Ekspedisinya Manuel Comnenus bersama 78.000 Pasukannya berhasil menguasai Hierapolis Bambyce di Syria, dan memukul mundur serangan Saljuk ke Iconium, akan tetapi Manuel Comnenus berhasil di tangkap oleh Sultan Alp Arslan.

Namun sangat disayangkan Sultan Alp Arslan lebih memilih jalan damai dengan Byzantium setelah kemenangannya menawan Manuel Comnenus, mengapa Sultan Alp Arslan lebih mengutamakan jalan damai? salah satu penyebabnya adalah, karena Sultan Alp Arslan lebih mengkhawatirkan perkembangan Daulah Syiah Fatimiyah di Mesir, sehingga ia tak ingin ada permusuhan antara Front Utara dan Front Selatan.

Pada bulan Februari 1071 M, Kaisar Romanus IV Diogenes mengirimkan Utusan untuk memperbaharui perjanjian damai. Utusan Romanus IV diterima dengan baik oleh Sultan Alp Arslan di Istana Kesultanan Saljuk, mengingat Alp Arslan perlu Menstabilkan perbatasan Utaranya yang bersinggungan langsung dengan Kekaisaran Byzantium (Romawi Timur). Setelah melakukan pembaharuan kesepakatan damai, Sultan Alp Arslan segera memerintahkan kepada para Jenderalnya untuk mengakhiri pengepungan Provinsi Edessa yang dikuasai Byzantium.

Setelah mengakhiri pengepungan Provinsi Edessa, Sultan Alp Arslan bersama pasukannya langsung bergerak menuju Selatan dan menyerang Kota Aleppo di Suriah yang kembali diduduki oleh Dinasti Syiah Fatimiyah. Akan tetapi ada maksud tersembunyi dibalik perjanjian damai antara Byzantium dan Kesultanan Saljuk. Ternyata perjanjian itu hanyalah tipu muslihat yang dirancang Oleh Kaisar Romanus IV Diogenes untuk mengalihkan pandangan Alp Arslan ke selatan. Kini Kaisar Romanus IV dapat dengan bebas mengerahkan ratusan r ibu balatentaranya untuk merebut kembali benteng-benteng peninggalan Romawi didaerah Armenia sebelum Saljuk datang menyadarinya.

Tanpa disadari oleh Alp Arslan, Pada awal bulan Agustus 1071 M Ekspedisi Militer Byzantium yang sangat besar itu pun dimulai, ekspedisi militer ini dipimpin langsung oleh Kaisar Romanus IV Diogenes, dalam Ekspedisi itu Romanus IV di temani oleh Panglima (Andronicus Ducas) yang diakhir pertempuran meninggalkan Kaisar dimedan tempur. Sebanyak 200.000 Pasukan gabungan Romawi Timur dan Eropa diberangkatkan dari Kota Konstantinopel menuju Asia Kecil (Anatolia). 

Dalam ekspedisi militernya itu, Pergerakan menuju Asia Kecil merupakan perjalanan yang sangat panjang dan juga berat, sehingga Kaisar Romanus IV memutuskan untuk membawa rombongan kereta kuda pribadinya yang sangat mewah, karena hal inilah para pasukannya menjadi tidak simpati kepada diri sang Kaisar. Selain itu, penduduk lokal juga menderita kerugian yang sangat parah, akibat penjarahan yang dilakukan oleh pasukan bayaran Franks, yang terpaksa dibiarkan oleh Kaisar Romanus IV.

Setelah melakukan perjalanan berat yang sangat panjang dan melelahkan, Kaisar Romanus IV memutuskan untuk beristirahat, Kaisar bersama Ratusan Ribu Balatentaranya beristirahat di Sebasteia ditepi Sungai Halus, dan mereka baru sampai Theodosiopolis pada 23 Agustus 1071 M. Disana Kaisar dan Para Jenderal berdebat hebat untuk memutuskan Strategi apa yang akan mereka gunakan untuk menghadapi Turki Saljuk.

Sebagian Jenderal Romanus IV, mengusulkan untuk langsung masuk ke wilayah Saljuk sebelum Alp Arslan menyadarinya, akan tetapi Jenderal Nicephorus Bryennios mengusulkan untuk bertahan dan memperkuat posisi pasukan Romawi, Setelah melakukan perdebatan alot yang sangat panjang dan juga panas, pada akhirnya Kaisar Romanus IV memutuskan untuk terus maju dan masuk ke wilayah Saljuk.

Pertimbangan Kaisar Romanus IV untuk terus maju adalah, karena Kaisar sangat yakin bahwa Alp Arslan sedang berada di tempat yang jauh dan tidak akan datang, dan setelah berlangsungnya perdebatan itu, Romanus IV Bersama pasukannya terus maju hingga ke Danau Van dengan harapan dapat merebut wilayah Manzikert secara cepat, bahkan mungkin saja dapat merebut benteng Khilat. Akan tetapi Tanpa sepengetahuan Kaisar Romanus IV, Sultan Alp Arslan justru sudah sampai di sekitar area tersebut dan diperkuat oleh 20.000 pasukannya yang berasal dari Aleppo dan Mosul.

Lebih jauh lagi, pengintai Alp Arslan sudah mengetahui persis kekuatan Romawi serta posisi Kaisar Romanus IV, sedangkan Romanus IV sendiri sama sekali belum menyadari akan pergerakan dan posisi Sultan Alp Arslan. Dan pada 25 Agustus 1071 M Kaisar Romanus bersama 200.000 pasukannya telah memasuki Manzikert yang dengan mudah ia kuasai, hal ini langsung direspon oleh pihak saljuk dengan mengirimkan utusan untuk berdamai, namun sayang utusan Alp Arslan tidak mendapatkan penerimaan yang baik ditenda Mewah Kaisar Romanus IV.

Kaisar Romanus IV berpendapat bahwa saat ini adalah kesempatan dia untuk mengalahkan Saljuk dan mengusirnya dari tanah-tanah Romawi, dirinya berpikir bahwa penundaannya akan sangat mahal, terutama untuk memobilisasi pasukannya yang akan sangat menguras banyak kas keuangan Byzantium. Keesokan harinya pada hari Jum'at 26 Agustus 1071 M (27 Dzul Qa'dah 463 H) 200.000 pasukan Byzantium sudah bersiap dalam formasi tempur dan terus bergerak merangsek masuk kedalam wilayah Kekuasaan Kesultanan Saljuk.

Kini, Pasukan Byzantium bergerak dalam 4 Lini Formasi Tempur, dengan lini kiri Pasukan Byzantium yang dipimpin oleh Jenderal Nicephorus Bryennios dan lini kanan pasukan dipimpin oleh Jenderal Theodore Alyates, Sementara dilini tengah pasukan dipimpin langsung oleh Kaisar Romanus IV dan lini pasukan cadangan dipimpin oleh Panglima (Andronicus Ducas). Salah satu kesalahan terbesar Kaisar Romanus IV adalah mempercayakan lini pasukan cadangannya dipimpin oleh Panglima Andronicus Ducas mengingat Ducas penuh catatan negatif.

Setelah melihat pergerakan Pasukan Byzantium dalam jumlah yang sangat besar, dengan cepat Sultan Alp Arslan langsung mengumpulkan pasukannya yang berjumlah 20.000 personil saja. Pada awalnya Sultan Alp Arslan cukup gentar setelah melihat betapa megah dan besarnya jumlah Pasukan Byzantium yang dibawa Kaisar Romanus IV, namun seorang ulama yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Abdul Malik Al Bukhari menasihati Sultan, ia berkata:

“Sesungguhnya engkau berperang dalam membela agama Allah, dan Allah telah menjanjikan kemenangan untuk menolong agamanya, dan Allah akan memenangkan agamanya atas semua agama. Saya berharap Allah yang maha kuasa telah menuliskan kemenangan ini atas namamu. Maka hadapilah mereka di jam-jam saat para Khatib Jum'at sedang berdoa di atas mimbar, sebab mereka berdoa untuk kemenangan kaum mujahidin.”

Ketika memasuki waktu Jum'at, Sultan Alp Arslan ditunjuk menjadi imam shalat Jum'at oleh pasukannnya. Setelah selesai melakukan Shalat Jum'at, Sultan menangis yang diikuti isak tangis para pasukannya. Lalu Sultan mengangkat tangannya ke langit dan berdoa yang di aamiin kan oleh seluruh pasukannya. Kemudian Sultan berdiri dan berkata dengan lantang!.

“Siapa saja yang ingin meninggalkan tempat ini, maka tinggalkanlah. Sebab di sini, tidak ada seorang sultan yang menyuruh kamu datang dan melarang kamu pergi.”

Kemudian Sultan mengambil busur dan anak panahnya serta mengambil pedang tajamnya. dan merenung sejenak. Kini didalam benak Sultan sudah tidak ada lagi bayangan keindahan dunia yang tersemat. Kemilau emas dan perak, wanita-wanita yang cantik, Istana besar yang mewah, taman-taman yang asri dan tempat tidurnya yang empuk. Kini yang terlintas di hati dan pikirannya hanyalah bayangan kematian, bayangan bertemu dengan Allah dan Rasul yang sangat ia rindukan. Lalu setelah itu ia memakai pakaian putih-putih dan bersumpah untuk berjuang hingga titik darah penghabisan sembari berkata!

“Jika saya terbunuh, maka pakaianku yang akan menjadi kafanku!” ujar Alp Arslan kepada seluruh Pasukannya!

Detik-detik penentuan pun mulai berdetak, kedua belah pihak pasukan dari dua Kekuatan tersebut telah saling berhadap-hadapan, Jumlah Pasukan yang tidak seimbang dan hembusan angin yang sangat kencang, semakin menambah suasana medan pertempuran yang kian mencekam. Sebelum perang dimulai, Sultan Alp Arslan kembali turun dari Kuda Putihnya dan ia bersimpuh dan bersujud kepada Allah, ia berdoa untuk yang kesekian kalinya dan meminta kemenangan dari Yang Maha Pemberi Kemenangan,,, lalu tanpa berlama-lama genderang perang pun mulai dibunyikan oleh Pasukan Romawi sebagai tanda perang telah di mulai, dengan sigap Sultan Alp Arslan langsung memerintahkan pasukannya untuk segera membentuk formasi tempur dalam bentuk Bulan Sabit.

Pasukan panah Saljuk menghujani barisan lawan dengan panah, yang membuat lini tengah pasukan Byzantium mundur perlahan dan kedua lini sayapnya melebar. Namun Hujan panah berhasil diserap oleh lini tengah Byzantium. Setelah hujan panah reda, Dengan segera Kaisar Romanus IV memerintahkan 45.000 pasukan Kavaleri Berat Berkudanya untuk maju dan menghantam pasukan Saljuk. 45.000 pasukan Kavaleri Berat Berkuda Byzantium di bawah pimpinan Jenderal Joseph Tarchaneiotes itu maju dengan sangat cepat bagai air bah yang keluar dari bendungan.

Namun seolah menjawab doa Sultan, setengah pasukan berkuda Byzantium terbunuh, dan Jenderal Joseph Tarchaneiotes berhasil ditawan. Adalah sebuah kesalahan fatal jika mengirimkan pasukan berkuda saja untuk menghadapi pasukan inti Saljuk. Tidak terasa waktu terus berjalan, hingga matahari sudah nampak di ufuk barat, namun perang belum juga dapat dimenangkan oleh Byzantium yang secara kacamata Militer unggul secara jumlah pasukan, logistik, pengalaman tempur, dan juga peralatan militer.

Berkali-kali pasukan Byzantium mengajak pasukan Saljuk untuk bertempur jarak dekat, tetapi tidak pernah diladeni oleh pasukan saljuk. Sultan Alp Arslan menyadari jika ia meladeni untuk melakukan pertempuran jarak dekat maka Pasukannya akan sangat mudah dikalahkan oleh pasukan Byzantium. Saat itu Matahari sudah hampir terbenam, Kaisar Romanus IV pun mengeluarkan perintah kepada seluruh pasukannya untuk segera mundur dari medan pertempuran.

Namun pasukan lini cadangan yang seharusnya melindungi manuver pasukan lini tengah untuk mundur, tidak melakukan tugas sebagaimana mestinya. Panglima Andronicus Ducas sengaja meninggalkan Kaisar Romanus IV di gelanggang pertempuran, dan seketika Kaisar Romanus IV telah berada dalam ancaman yang sangat besar. Peluang yang ditunggu-tunggu oleh Sultan Alp Arslan telah tiba, dan ia melepaskan seluruh pasukannya yang selama ini bermanuver mundur untuk maju sekuat-kuatnya ke arah lini tengah yang tidak lagi memiliki perlindungan.

Lini sayap kanan Pasukan Byzantium langsung hancur akibat serangan terarah pasukan Saljuk, Sementara, lini sayap kiri Pasukan Byzantium dibawah Jenderal Bryennios bertahan lebih lama dan berjuang mati-matian menjaga lini tengah yang didalamnya ada diri Sang Kaisar, namun lini sayap kiri Byzantium juga segera hancur lebur oleh serangan cepat pasukan Saljuk. Setelah hancurnya kedua lini pasukan. lini tengah Byzantium menjadi semakin terkepung. Kesatuan pasukan bayaran Varangian juga setia melindungi diri Kaisar Romanus IV walau mereka seperti pulau kecil yang dikelilingi samudera Saljuk.

Keesokan harinya pertempuran telah berakhir dengan kemenangan telak dipihak Saljuk, setengah pasukan Byzantium terbunuh oleh tombak dan pedang Pasukan Saljuk, dan hanya sedikit yang selamat, Sementara Kaisar Romanus IV berhasil ditahan. Namun ketika Kaisar diserahkan kepada Alp Arslan, ia tidak menyangka bahwa orang yang terluka dan berdebu yang sekarang berada dihadapannya adalah seorang Kaisar dari sebuah Imperium Besar, (Romawi Timur).

Sultan Alp Arslan memperlakukan Kaisar Romanus IV dengan sangat baik dan kembali menawarkan klausul perdamaian yang sama dengan yang pernah ia tawarkan sebelum terjadinya pertempuran. Romanus IV ditawan selama satu pekan, dimana ia diperbolehkan menyantap hidangan satu meja dengan Sultan, sambil merundingkan klausul perdamaian. Kota benteng Antioch, Edessa, Hieropolis, dan Manzikert diserahkan kepada Saljuk. Hampir seluruh wilayah tengah Anatolia tak disentuhnya padahal sudah tidak ada lagi kekuatan Byzantium yang mampu mempertahankannya.

Pada hari terakhir Kaisar ditahan, Sultan Alp Arslan bertanya kepadanya.

(Alp Arslan bertanya) "Menurutmu apa yang akan kamu lakukan bila aku yang menjadi tawananmu?" (Romanus menjawab) "Mungkin aku akan membunuhmu, atau menggiringmu dengan penuh kehinaan di jalan-jalan Kota Konstantinopel". (Alp Arslan membalas) "Hukumanku lebih berat daripada itu, engkau kumaafkan dan kubiarkan pergi!" Ujar Sultan.

Setelah mendengar ucapan Sultan, Kaisar langsung berdiri dan memberi minum kepada Sultan sebagai tanda penghormatan, setelah itu dia bersujud dan mencium tanah dihadapan Sultan dan juga mencium tanah yang menghadap ke arah Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad sebagai tanda ketundukan. Permintaan Alp Arslan sejumlah 10 juta keping uang emas untuk pembebasannya dirasanya terlalu mahal sehingga sultan turunkan menjadi 1.5 juta keping emas saja, dengan diikuti pembayaran upeti sebesar 360.000 keping emas per tahun.

Sultan juga memberikan hadiah yang sangat banyak kepada Kaisar, serta memberinya bekal perjalanan sebanyak 1000 Keping Emas Dinar untuk kembali ke Konstantinopel, dan memerintahkan kepada 2 orang jenderalnya sebagai pendamping, serta 100 orang pasukan berkuda Mamluk sebagai pengawalnya hingga ke Konstantinopel. Ibnu Katsir menerangkan bahwa pasukan yang  mengawalnya membawa panji yang bertuliskan "لا اله الا الله محمد رسول الله".

Kekalahan ini adalah bencana dan kehancuran besar bagi Byzantium. Jalan menuju Konstantinopel lewat Anatolia telah terbuka dengan lebar, dan Kesultanan Saljuk tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Hanya dalam 20 tahun setelah berlangsung nya pertempuran Manzikert, Kesultanan Saljuk berhasil menguasai sebagian besar Anatolia.

Ibrah yang bisa kita ambil dari pertempuran ini adalah, Keimanan dan Keyakinan Sultan Alp Arslan telah membuktikan kekuatannya yang tak terbatas, terbukti ketika Alp Arslan berhasil menghancurkan kekuatan Pasukan Romawi, yang baik secara jumlah, pengalaman serta peralatan tempurnya jauh diatas pasukan Saljuk.

Barakallah Sultan Muhammad Bin Daud Chaghir Bey (Alp Arslan).

The End. 

___
Refrensi : 
1. Battle Of Manzikert. (Markham, Paul)
2. A History of the Crusades. (Steven Runciman)
3. The Byzantine Wars: Battles and Campaigns of the Byzantine Era 2001, (Haldon, John)
4. "Alp Arslan, The Lion Of Manzikert 1071 M"