dr. Tifa: Taat pada ‘Ulul Amri tidak berlaku terhadap Penguasa yang zalim

Kalau dalil  yang menyatakan bahwa rakyat harus mengikuti apa kata 'Ulil 'Amri walaupun dia zalim sekalipun kepada rakyatnya, harus kita ikuti. 

Berarti...

Nabi Ibrahim as salah dong karena menentang Raja Namrud.

Nabi Daud as salah dong karena menentang, bahkan membunuh Raja Jaluth. 

Nabi Musa as salah dong karena menentang Firaun. 

Ketiganya adalah Rasul. Rasul artinya ajarannya bukan hanya untuk umat pada waktu itu. tetapi untuk seluruh umat.

Apalagi ketiga kisah itu ada dalam Al Quran, yang merupakan firman dari Allah swt. Sumber absolut yang tak terbantahkan kebenarannya. 

Jadi?

Dalil itu benar. Sahih. Tetapi tekstual dan kontekstual. Berkaitan dengan ruang dan waktu.  Pada waktu hadith itu turun, Rasul saw sedang apa, bagaimana situasi yang dihadapi, dan sebagainya.

Berkaitan dengan Hadith, Rasul saw juga bersabda dalam HR Bukhari.

Ketaatan manusia itu, yang pertama adalah kepada Allah, kedua kepada RasulNya, dan ketiga baru kepada Ulil 'amrinya. 

Sekarang, kalau kita punya Ulil 'Amri, tetapi dianya tidak taat kepada Allah dan RasulNya, bagaimana? 

Jadi, kedua hadith itu, hendaknya digunakan berkelindan.

Setuju, kita taat kepada ulil'amri. sepanjang dia menjalankan tugasnya, berlandaskan kepada Ajaran Allah dan Rasul. Sepanjang dia tidak berbuat keburukan, kemaksiatan, membela kejahatan, dan berbuat zalim.

Dari Abdillah RA berkata bahwa Nabi SAW bersabda, 

“Wajib untuk mendengar dan mentaati (pemimpinnya) atas seorang muslim, baik suka maupun terpaksa. Kecuali bila dia diperintah untuk kemaksiatan. Jika dia diperintah untuk kemaksiatan, tidak ada kewajiban baginya untuk tunduk dan patuh kepada pemimpinnya.” (HR.Bukhari)

Jadi kalau sebuah negara, memiliki Penguasa yang zalim, hadith mana yang mau dipakai? 

Sayyid Qutb menafsirkan bahwa yang dimaksud ‘Ulul Amri dalam surat an-Nisa ayat 59 yaitu pemimpin dan ulama. Karena pemimpin mempunyai kewajiban untuk memerintah dan menetapkan hukum.

Dalam buku Fii Dzilalil Qur’an. Sayyid menafsirkan bahwa urutan “taat” kepada pemimpin berada di urutan ketiga, yaitu setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Hal ini menandakan bahwa pemimpin yang harus kita taati dan patuhi terlingkup pada mereka yang taat pada aturan dan syari’at Allah serta apa yang disampaikan Rasullullah. karena itulah, perintah “أطيعوا”  atau taatilah tidak diulangi pada lafadz Ulul Amri.  Sekali lagi, Sayyid menekankan bahwa kata “taat” hanya berlaku pada hal-hal yang baik, bukan terhadap kemaksiatan. (Fii Dzilali-l-Qur’an 2/691)

Ini penjelasan yang penting.

Apa itu perbuatan maksiat?

Maksiat (bahasa Arab: Sayyi’ah, khathi’ah) adalah perilaku atau tindakan manusia yang melanggar hukum moral yang bertentangan dengan perintah Allah SWT.

Jadi, 

Saya, menggunakan Al Quran. Hadith sebagai referensi kedua. 

Ibrahim as, Daud as, Musa as, sudah memberikan contoh dan teladan. Tertulis sebagai Firman Allah swt. 

Silakan, bagi Ahli Quran dan Ahli hadith memberikan tanggapan dan menambah penjelasan.

Tapi bukan ustad sosmed dadakan ya.

(dr. Tifauzia Tyassuma)