Enyahlah Rasisme!

Enyahlah Rasisme! 

Dahlan Iskan menulis bahwa saldo di rekening Heryanti yang menjadi sumber bilyet giro dana 2 Triliun itu hanyalah 30 Juta. 

Mengutip Dahlan Iskan juga, guna mengurus proses pencairan uang 2T tersebut, Heryanti meminjam uang 3 Milyar kepada Siti Mirza Nuria, mantan Putri Indonesia yang disebutnya Si Cantik. 

Konon uang yang sedang diupayakan Heryanti untuk dicairkan dari bank di Singapura sejumlah total 15 Triliun. 

Status Heryanti sampai sekarang masih simpang siur. Pada satu keterangan, disebut sudah jadi tersangka. Tapi pada keterangan lainnya, katanya masih terperiksa. Sumber dari institusi yang sama, walau berbeda orang. 

Luar biasa memang Heryanti Binti Akidi Tio ini, sanggup menjadikan satu lembaga seperti Kepolisian jadi tidak kompak memberikan keterangan terkait status dirinya  

Dir. Intelkam Polda Sumatera Selatan Kombes Pol Ratno Kuncoro, sebelumnya menyebut Heryanti telah jadi tersangka. Tapi kemudian pernyataan tersebut dibantah oleh Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Supriadi, yang menyebut Heryanti hanya diperiksa. 

Heryanti juga sanggup membuat orang-orang seperti Ade Armando, yang tadinya memang sudah bermuka gedek menjadi seperti bermuka badak. 

Awalnya Ade Armando menyanjung keluarga Akidi Tio setinggi Antariksa, yang disebutnya orang Tionghoa (cina) menyumbang uang sangat besar untuk Indonesia. 2 Triliun itu uang semua, kata pembela utama Jokowi itu. “Uang semua lho, gak pake pasir!” 

Bahkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sempat menyebut bahwa Akidi Tio berpeluang menerima penghargaan Bintang Mahaputera. Wow! 

Kini setelah diketahui bahwa sumbangan 2T itu ternyata bohong, ramai-ramai orang yang tadinya menyanjung, disertai dengan narasi-narasi rasis khas buzzer, akhirnya kelimpungan. 

Ada yang menyampaikan kegeramannya. Tapi ada juga yang tetap membela, dengan alasan bahwa Heryanti sudah bermaksud baik, tak perlulah jadi tersangka. 

Apapun, silakan kalian ribut sendiri. Berantem sendiri. Silakan tengok Heryanti dan keluarga Akidi Tio lainnya dengan kacamata masing-masing. Silakan pula perangkat hukum yang ada kalian buat sesuai kemauan masing-masing. Jadi tersangka atau tidak, bebas saja. 

Hanya saja orang-orang seperti Ade Armando dan kawan-kawan ini memang rasis, ketika melihat --walau dengan kacamata kuda-- orang-orang Tionghoa memberikan sumbangan, lantas menyanjung etniknya Pak Ahok tersebut, sembari menginjak etnik lainnya yang dianggapnya tidak bisa memberikan sumbangan seperti Pak Akidi Tio. 

Sungguh, sebenarnya persoalan ras ini sudah usai. Masing-masing kita sudah saling menerima, saling menghargai dan saling bekerjasama antar semua etnik. Karena kita sudah lebur menjadi satu Bangsa. 

Tapi kenapa orang seperti Ade Armando yang konon terpelajar --dosen UI, justru mengulik-ulik kembali hal tersebut, hanya karena pembelaannya yang membabi-buta terhadap rezim. 

Di masa Presiden Soeharto, selama 32 tahun orang-orang Cina memang tidak mendapatkan akses politik --tidak menjadi pejabat-- secara leluasa. Tapi mereka bebas berbisnis, hingga banyak di antara mereka yang akhirnya menjadi kaya raya di tanah ini. 

Presiden Gus Dur datang, mempersilakan mereka untuk berpolitik. Kitapun tidak mempermasalahkan hal tersebut. Semua berjalan sebagaimana mestinya. 

Sepanjang Pemerintahan SBY pun gak pernah ada masalah. Sentimen Cina bukan Cina tidak mengemuka, sehingga menimbulkan pembelahan siapa yang lebih peduli atau tidak kepada Bangsa ini. 

Tapi pada rezim ini, kenapa diksi Cina dan Pribumi ini kembali mencuat? 

Karena orang-orang seperti Ade Armando terlalu bersemangat menyanjung mereka, bersamaan dengan upayanya mengkerdilkan simpul-simpul anak Bangsa lainnya. 

(Ustadz Abrar Rifai)