Catatan Ke-2 Ulil: Isu Taliban Bukan Soal "Perang Melawan Terorisme", Tapi Soal "Pendudukan Asing" di Afghanistan

Catatan Ulil Abshar Abdalla Ke-2:

Masih ingin curhat soal Taliban, melanjutkan yg semalam (Catatan Ke-1, klik).

Yang jarang dilihat orang ketika mau memahami Taliban, al-Qaidah, ISIS, dll, adalah: kenapa kelompok ini muncul pertama kali. Tentu saja ada faktor teologi. Itu ndak bisa disangkal. Tetapi faktor lain juga penting dilihat.

Negeri Afghanistan itu, kalau dipiilkir-pikir, kasihan sekali. Sejak tahun 1979, negeri ini menjadi sasaran pendudukan militer asing, nyaris tanpa berkeputusan. Situasi pendudukan jelas memicu idelogi radikal untuk muncul ke permukaan. 

Harus dipahami konteks pendudukan ini.

Afghanistan ini, di masa lampau, adalah bagian dari kawasan peradaban besar yang di era Islam dulu disebut Provinsi Khurasan. Para sufi-sufi yang mengislamkan Nusantara, ajaran2nya pertama-tama berkembang di kawasan ini, menyebar ke Gujarat, terus ke Nusantara.

Sekarang ini, hanucur lebur.

Saya ingin mengajak publik di Indonesia untuk melihat soal kembalinya Taliban ke kekuasaan di Afghanistan saat ini bukan dengan bias "perang melawan terorisme". Itu bisa menipu. Apalagi meng-eksploitasi isu Taliban yang sedang "menang" ini untuk menakut-nakuti publik di sini.

Sudah tentu, saya sama sekali tidak suka dg model keislaman yg dipeluk oleh pengikut Taliban. Tetapi itu soal lain. 

Taliban sudah pasti akan menerapkan hukum Islam yg "keras" di negeri itu. Tetapi ini tidak berarti mengesahkan intervensi negara asing seperti kemaren-kemaren.

Saya cenderung yakin, jika proses politik dibiarkan berlangsung secara alamiah di Afghanistan, tanpa diintervensi terlalu jauh oleh negeri lain, akan ada proses pelan-pelan menuju moderasi. Saat berkuasa nanti, Taliban pasti akan melakukan sejumlah kompromi.

Seperti apa corak negeri Afghanistan di masa depan, itu urusan masyarakat negeri itu sendiri. Pasti akan ada proses negosiasi antar-faksi dalam tahun-tahun mendatang. Melalui negosiasi ini, negeri itu akan pelan-pelan mencapai semacam "new political equilibrium".

Yang tidak saya suka adalah: semua negara sepertinya mau dipaksa mengikuti model Barat. Itu yg problematis. Semua negara mau dinilai dg standar universal. 

Ndak bisa hal itu dilakukan untuk masa-masa mendatang. Apalagi sekarang Barat sudah mulai kehilangan "moral hegemony"-nya.

Model Islam Taliban sudah pasti susah diterapkan secara konsisten oleh Taliban di masa-masa mendatang. Kalau dia mau melakukan itu, pasti akan dikucilkan oleh komunitas global, selain dikritik oleh sesama negeri Muslim sendiri.

Yang bisa dilakukan adalah ya kompromi. Sebagian aspirasi teologis Taliban sudah pasti akan berjalan di Afghan, tapi hanya hingga batas tertentu. Sementara, rakyat Afghan juga ndak bisa dipaksa mengikuti model dan standar negara Barat. 

Yg paling mungkin: jalan tengah.

Yang saya kurang setuju adalah sikap panik seolah-olah Taliban ini akan membawa kekacauan di negeri itu, maupun menciptakan instabilitas regional. Elit Taliban, jika mau berkuasa beneran, harus mau bersikap pragmatis dan mencari sahabat di kawasan.

Ini keniscayaan politik.

Sekian.

(Dari twit @ulil, 16/8/2021)