Cara Menyerah yang Paling Brutal dari Rezim yang Sudah Gagal

[PORTAL-ISLAM.ID]  Dosen Nanyang Technological University (NTU), Prof Sulfikar Amir melalui akun Twitter @sociotalker memberikan kritikan keras penanganan pandemi rezim Jokowi yang dinilai sudah gagal.

"cara menyerah yang paling brutal dari rejim yang sudah gagal πŸ‘Ž," ujar Prof Sulfikar di akun twitternya @sociotalker, Selasa (10/8/2021).

Prof Sulfikar merespons berita "Pemerintah Hapus Angka Kematian dari Indikator Penanganan Corona".

Hal ini disampaikan oleh Koordinator PPKM Jawa-Bali, Luhut Binsar Pandjaitan, saat mengumumkan perpanjangan PPKM Level 4 hingga 16 Agustus.

Hal itu, kata Luhut, diakibatkan oleh adanya kesalahan pada saat memasukkan data kematian. Sehingga keputusan selanjutnya yakni dengan meniadakan angka kematian dari indikator penanganan COVID-19.

"Evaluasi tersebut kami lakukan dengan mengeluarkan indikator kematian dalam penilaian karena kami temukan adanya input data yang merupakan akumulasi angka kematian selama beberapa minggu ke belakang sehingga menimbulkan distorsi dalam penilaian," kata Luhut.

Hingga saat ini, Indonesia kerap melaporkan kasus kematian harian tertinggi di dunia. Kemarin terdapat 1.475 kasus kematian yang dilaporkan. Sebanyak 108.571 orang telah dilaporkan meninggal dunia selama pandemi berlangsung.

Meski begitu, Luhut mengatakan Indonesia telah berhasil turun hingga lebih dari setengah dari puncak kasus pada 15 Juli lalu.

"Dari data yang didapat penurunan sudah dapat hingga 59,6% dari puncak kasus di tanggal 15 Juli 2021 lalu. Momentum yang sudah cukup baik ini harus terus dijaga," jelasnya.