MEMIKIRKAN NEGERI: MENENGOK KEMBALI ISLAM

MEMIKIRKAN NEGERI: MENENGOK KEMBALI ISLAM

Oleh: Dr. Moeflich Hasbullah (Pakar Sejarah Islam)

Sebuah negara besar yang mayoritas penduduknya Muslim, tak punya solusi atas kondisi negerinya dan tak bisa keluar atas problem atau kemelut bangsanya sebenarnya tidak mungkin. Itu tidak ada presedennya dalam sejarah. Selalu akan ada solusi² cerdas dan berani dari para ulama dan para pemimpin Muslimnya. Inilah "history of optimism."

Penghambatnya sekarang adalah para politisi nasionalis sekuler yang menggadaikan negeri hanya untuk keuntungan² pragmatis politik kekuasaan kelompok dan ekonomi jangka pendek. Tapi, dari perspektif sejarah optimis, ini tidak akan lama alias hanya periode sejarah tertentu saja.

Mengapa? Karena nasionalisme sekuler hampir tidak punya solusi selain hanya berputar² dalam relatifisme  dan berusaha tambal sulam atas kondisi negeri yang sudah terjebak dalam lingkaran setan kekuasaan yang sudah berada dalam kendali para pemodal dan negara korporasi. 

Oleh para ulama dan pemimpin Muslim, lagi-lagi Islam akan menjadi energi, inspirasi dan andalan atas solusi negeri karena itulah yang telah menjadi kekuatan sejarah Indonesia. Tak terbayangkan, sejarah Indonesia tanpa kekuatan energi Islam yang disuarakan para ulama dan para pemimpin Muslimnya, mungkin sekarang sudah menjadi negara persemakmuran Hindia Belanda sebagaimana Australia menjadi commonweath dari negara Inggris Raya (Great Britain). Karena para ulama pemberontak dan para pemimpin radikallah, membuat penjajah Belanda harus hengkang dari bumi Indonesia.

Masalahnya, Islam Indonesia tidak terlalu bernafsu pada kekuasaan bahkan ketika kesempatan itu ada. Islam Indonesia akan bergerak tanpa kompromi hanya bila bangsa dan harga diri umat terancam. Mereka berpolitik bukan untuk kekuasaan tapi untuk kemaslahatan. Begitulah sejarah politik Islam di Nusantara alias Indonesia. Kolonialsme dihadang dan dilawan terus²an secara heroik, dan ketika Belanda sudah angkat kaki dan Indonesia merdeka, hak² kekuasaan malah diberikan kepada kaum profesional dan para politisi nasionalis berhaluan Barat. 

Piagam Jakarta dihapuskan, umat Islam menerima demi persatuan dan keutuhan bangsa, yang dalam perkembangannya kemudian malah merasa banyak dikhianati. Pancasila sering dipakai alat untuk memukul pada yang justru telah menghadiahkan Pancasila kepada bangsa dan negara. Air susu berbalas air tuba.

Kondisi yang sudah seperti sekarang ini, yang sudah terperangkap dalam jebakan korporatisme dan hampir tak punya jalan keluar selain akhirnya harus hanya tunduk pada kendali dan dikte kaum pemilik modal, siapa lagi pihak yang bisa diharapkan bisa mengembalikan marwah dan harga diri umat, rakyat bangsa? 

Sejarah menginspirasikan hanya kekuataan agama yang bisa melakukannya, yang bisa diandalkan, energi dari Tuhan, yang kini tampak sedang dimusuhi karena ignorance dan dianutnya "Snouck-Hurgronje-isme."(*)