Khutbah Idul Adha Singkat: Terus Bergerak Seperti Ibunya Ismail

Khutbah Idul Adha Singkat:
Terus Bergerak Seperti Ibunya Ismail

Oleh: Ustadz Muh. Nursalim

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ 
اللهم صل على محمد وعلى الى محمد
فيَا أَيُّهَا الحاضرون اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
قال تعالى في كتاب الكريم

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahil hamdu

Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Salah satu ritual haji adalah sa’i, yaitu berjalan antara Sofa dan Marwa. Dua tempat itu dulunya adalah sebuah bukit. Tetapi sekarang sama sekali tidak tampak bahwa tempat itu merupakan bukit. Karena sudah didesain oleh pemerintah Arab Saudi untuk keamanan dan kenyamanan para jamaah haji.

Satu sisi renovasi itu memudahkan jamaah, tetapi pada aspek sejarah, umat Islam tidak lagi dapat membayangkan apalagi merasakan bagaimana perjuangan seorang wanita mulia, yaitu Hajar ibunya Ismail.

Kita semua sudah tahu bagaimana kisahnya. Usaha keras seorang ibu dalam mencari air demi anaknya yang masih balita. Ia tahu di daerah yang super duper tandus itu tidak akan menemukan air. Seperti yang digambarkan Allah saw berikut:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

"Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati." (QS Ibrahim: 37)

Mengapa lembah itu tidak ada tanaman, padahal biasanya sebuah lembah itu rumputnya hijau dan pohonnya rindang ?

Jawabanya jelas. Karena di tempat itu tidak ada air. Karena air adalah sumber kehidupan. Maka bila tidak ada air berarti tidak ada kehidupan.

Di lembah Bakah atau Mekah itulah Ibrahim mengantarkan sang istri yaitu Hajar dan putra satu-satunya Ismail bertempat tinggal. Padahal di situ tidak ada tanaman, tidak ada manusia dan tidak ada sumber air. Setelah mengantarkan keduanya Ibrahimpun meninggalkan mereka untuk kembali ke Palestina. Sementara sang istri dan si bayi berada di lembah itu sendiri.

Pada  tempat tandus seperti itu tentu akan sia-sia jika terus berputar mencari air. Tidak ada sumbernya tidak ada pula saluran air yang menuju ke sana. Maka sebenarnya Hajar tahu langkahnya hanyalah sia-sia. Tetapi ia terus tetap melakukan, tanpa kenal lelah.

Terus bergerak ditengah kesulitan dan kemustahilan. Itulah yang dijalankan ibunya Ismail. Mungkin dia berfikir. Kalaupun tidak ada air di lembah itu, barangkali ada musafir lewat yang dapat dimintai pertolongan. Maka ia naik ke bukit, supaya terlihat area yang lebih luas bagian bawah. Karena ketika kita berada pada posisi yang relatif tinggi, banyak hal yang bisa terlihat dengan posisi demikian.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu
Kaum muslimin yang dirahmati Allah 

Usaha yang tanpa kenal putus asa Hajar tidaklah sia-sia. Memang ia tidak menemukan orang yang dapat dimintai tolong. Dia juga tidak ketemu dengan sumber air. Akan tetapi Allah sangat tahu ihtiar yang luar biasa hambanya. Maka Diapun memberikan rezeki yang Hajar cari. Yaitu sumber air yang terbaik di dunia dan tidak pernah mampat. Itulah air zamzam, yang diedarkan oleh para jamaah haji dan umrah ke seluruh muka bumi.

Allah tidak tidur, Allah mengamati dan menilai setiap usaha yang dilakukan manusia. Kemudian membalasnya dengan imbalan terbaik. Karena Dia sangat suka dengan orang-orang yang terus berihtiar. Sebagaimana firman Nya. 

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ

Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." (QS Attaubah: 105)

Kaum muslimin rahimakumullah

Di masa sulit seperti sekarang, laku ibundanya Ismail perlu dicontoh. Bahkan meskipun di saat PPKM darurat. Di mana mobilitas warga sangat dibatasi, kita dianjurkan agar tetap berada di rumah, tidak usah pergi-pergi.

Tetapi kita perlu terus bergerak walaupun sedang di rumah. Bahkan meskipun sedang isolasi mandiri atau dikarantina. 

Bagaimana bisa bergerak dengan pembatasan yang ketat seperti ini?

Jangankan kita yang terjaga, sedangkan ashabul kahfi yang tidurpun terus bergerak agar metabolisme tubuhnya berjalan normal. Itulah cara Allah menjaganya agar tetap sehat dan bugar sebagaimana disebut dalam alqur’an:

وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ

“Dan kamu mengira meraka itu terjaga  padahal mereka tidur, dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri” (Al Kahfi: 18) 

Tubuh para pemuda itu digerakkan Allah ke kanan dan kekiri, mengikuti arah sinar matahari yang menelusup ke pintu gua. Seperti tukang sate yang membakar dagangannya agar semua bagian matang dan tidak ada yang gosong.

Allahu Akbar Allahu Akbar walillahil hamdu
Kaum muslimin yang dirahmati Allah

Ada dua gerak yang dapat dilakukan di masa PPKM darurat ini, yaitu gerak hati dan gerak badan.

Pertama gerak hati

Setiap manusia punya hati. Pada bagian inilah iman dapat tumbuh dan berkembang, atau sebaliknya kerdil dan mati. Hati orang beriman akan merasa nyaman  dalam  keadaan apapun, karena ia yakin Allah yang menentukan segala sesuatu yang menimpa dirinya. Sehingga ia dapat ridha atas segala ketetapan Allah.

Gerak hati dilakukan dengan mengingat Allah, sehingga hatinya tentram dan tenang. Sebagaimana firman Allah.

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ 

"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS Arra'du: 28) 

Banyak orang stress menghadapi kenyataan saat ini. Baik yang sakit, yang keluarganya sakit, yang kena PHK, yang tidak laku jualannya maupun yang gagal pesta karena dilarang aparat negara.

Dengan mengembalikan segala urusan kepada Allah, segala gundah gulana maupun petaka yang menimpa insya Allah hati menjadi tentram. 

Gerak hati juga dapat dilakukan dengan memperbanyak baca alqur’an. Karena membaca al qur’an adalah bentuk zikir terbaik. Kita membaca kalam Allah, itu berarti seperti sedang berbicara dengan Allah swt. 

Kedua gerak badan

Gerak badan bisa bermakna olahraga boleh juga bekerja. Hari-hari seperti sekarang setiap orang dituntut memiliki kekebalan tubuh yang tinggi. Kondisi seperti itu berarti seseorang harus sehat dan salah satu ihtiar agar tetap sehat dan imunitas tinggi adalah olahraga.

Kata para ahli, sehari minimal 30 menit untuk olahraga ringan, seperti jalan pagi, bersepeda ataupun senam sudah cukup mengantarkan seseorang dalam kondisi bugar. Bila badan sehat insya Allah covid lewat.

Makna lain gerak badan adalah bekerja. Mencari penghidupan untuk kebutuhan sehari-hari. Keadaan memang sulit akan tetapi ihtiar  mendapatkan fadhilah dari Allah perlu terus dilakukan.

Di tengah kemustahilan akal, jika terus berihtiar Allah akan memberi jalan keluar. Jangan menunggu rejeki yang tidak disangka-sanka bila ihtiar belum maksimal. Rejeki nomplok hanya akan diterima oleh mereka yang sudah lelah berusaha. Seperti ibunya Ismail yang telah payah dan lunglai mencari air. Saat itulah Sang Pencipta baru turun tangan, memberinya rejeki yang tidak pernah behenti. Itulah air zamzam.

Imam Syafi’i memberi nasehat  begini.

 إني رأيت وقوف الماء يفسده **** فان ساح طاب وان لم يجر لم يطب
والأسد لولا فراق الأرض ما احترست **** والسهم لولا فراق القوس لم يصب

Aku melihat air yang diam itu merusak 
Jika ia mengalir menyehatkan bila berhenti membawa penyakit
Singa jika tidak meninggalkan sarangnya tidak dapat menjaga teritorialnya
Anak panah bila tidak lepas dari busurnya tidak akan mengenai sasaran  

Bergerak dan menggerakkan menjadi kata kunci bertahan di masa covid-19 ini. Gerak dalam arti apa saja. Fisik, pikiran maupun ruhani. Atau bahkan ketiganya berjalin berkelindan. Berpadu untuk meraih kesuksesan. Karena bergerak tanpa dipikir hanya mubazir. Seperti orang gila, bergerak ke mana-mana tetapi tidak menghasilkan apa-apa.

Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah ini dengan berdo’a kepada Allah swt. Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, tetangga kita, kawan-kawan kita dari wabah covid ini. Juga semoga dengan hari raya qurban ini Sanga Pencipta segara “menyembelih” virus corona, sehingga tidak berkembang semakin tidak karuan. 

(Catatan: teks do'a silahkan tambah sendiri)