Ambyarrrrr...!! Rektor UIII juga Rangkap Jabatan Komisaris BUMN, Kamu serakahnya ampun-ampunan atau bagaimana?

Kamu teh serakahnya ampun2an atau bagaimana?

Satu lagi rektor sebuah kampus yang rangkap jabatan. Ini juga sudah sejak beberapa bulan lalu, baiklah, kita pecahkan saja gelasnya. Biar ramai. Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, UIII. Orang ini melanggar statuta yang konon dia sendiri yang bikin. Dia bilang, dia dulu ikut merumuskan statuta tsb. 

Pernyataannya 24 jam terakhir sangat kocak, sekaligus ambyar. (JawaPos)

Dia tahu persis itu melanggar peraturan, dia TAHU!

Lantas saat ditanya kok masih begitu? Dia jawab dengan: 'UIII itu masih masa perintisan, konsolidasi. Ketika jadi komisaris, kampus juga belum beroperasi. Jadi tidak mengganggu'

Wow, wow, wow 3000x

Coba dibalik logikanya, Pak Rektor. Justeru karena masa perintisan itulah, UIII sangat membutuhkan pemikiran, waktu, tenaga, dan semua hal yang bisa diberikan Rektor, dosen, staff dll. Atau ehem, jujur sajalah, karena gaji rektor kecil, sedangkan tantiem komisaris empuk, maka disambikan saja sekalian?

Dan hanya karena Anda sudah ijin Setwapres, dll, dsbgnya, bilang bisa jadi jembatan program ekonomi syariah di UIII, bukan berarti itu jadi pembenaran. Seriusan, dengan Anda tahu persis itu melanggar statuta UIII, secara etika, moralitas, di detik itu juga Anda dengan gagah bilang, saya tidak mau. Bukan malah di-embat juga. 

Seriusan, lama2 negeri ini kehilangan teladan.

Rektor satunya, Rektor UI, entah sampai hari ini apa suaranya. Kementerian BUMN juga entah apa kesimpulannya. Atau mereka sengaja selow, santai, biar lama2 orang lupa, wassalam. Pesta pora rangkap jabatan diteruskan.

Orang2 ini paham tidak sih, BUMN itu milik rakyat. Itu bukan perusahaan pribadi milik Menteri, dll. Dikritik seperti ini wuiih, netizen pembelanya langsung koar2 membela. 

Dan peraturan adalah peraturan. Seriusan, kamu teh mau ngasih contoh apa ke generasi berikutnya? Menggampangkan peraturan? Nah, jika rektor memang ngebet sekali jadi komisaris, kan simpel, mundur dari posisi rektor. Negeri ini butuh keteladanan. Ayolah, itu cuma soal uang berapa sih? 10-20 milyar per tahun. Duh Gusti, itu ingus kecilnya dibanding kehormatan. Konsistensi. Integritas. Saya benar2 kecewa, sedih, menyaksikan orang2 yg seharusnya jadi teladan integritas, yang fasih sekali bicara soal anti korupsi; saat dia sendiri dalam posisi begini, dia malah milih melanggar peraturan.

Tidak ada tapi, tapi, tapi dalam perkara ini. Jika statuta sebuah kampus sudah bilang NO untuk rangkap jabatan, maka kamu juga ikut NO. Bukan malah kamu 'korup' peraturan itu dengan berbagai argumen ngeles. 

Semoga pejabat2, elit2 di negeri ini masih mau menerima kritik. Jika tidak, ngimpi kamu berharap negeri ini diberkahi langit. Ujung ke ujung isinya orang2 tukang ngakalin, termasuk tega ngakalin utk rebutan bansos, masuk sekolah favorit, dll, dsbgnya.

(By Tere Liye)

*fb