OKSIGEN: NIKMAT YANG TAK TERHITUNG, MASIHKAH KITA LALAI?

OKSIGEN: NIKMAT YANG TAK TERHITUNG

Juru Bicara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jodi Mahardi menegaskan seluruh oksigen yang digunakan oleh industri dan dunia usaha harus dialihkan untuk kebutuhan rumah sakit.

Pemerintah juga akan melakukan berbagai cara untuk memenuhi ketersediaan oksigen, baik produksi dalam negeri maupun impor untuk menangani sektor kesehatan.[Republika, 6/7]

Akhirnya kita harus menyaksikan pemandangan memilukan yang sekian bulan lalu hanya disaksikan di layar kaca. 

Yakni manakala fasilitas kesehatan di India nyaris lumpuh dihajar pandemi akibat pemerintahnya salah urus. Antrean  berburu tabung oksigen mengular dimana-mana.

Karena kelangkaan oksigen, penduduk desa di India yang sedang meregang nyawa hanya digeletakkan keluarganya di bawah pohon besar sambil diguyur air gula. 

Di Indonesia, belum lama beredar kabar 63 pasien yang meninggal tersebab tak mendapatkan akses oksigen di salah satu RS. Meski kabar itu belakangan dibantah oleh pihak otoritas. 

Namun kalau kondisi ini terus dibiarkan, rasanya tinggal menunggu waktu tragedi di India akan terjadi di negeri tercinta.

La hawla wa la quwwata illa billah.

Oksigen, berdasarkan massa merupakan unsur paling melimpah ketiga di bumi, setelah hydrogen dan helium. 

Sains membuktikan, matahari hanya mengandung 0,9 persen oksigen, Mars hanya memiliki 0,1 persen oksigen dan Venus bahkan memiliki kadar konsentrat yang lebih rendah lagi.

Itu sebabnya manusia hanya bisa tinggal di bumi. Karena manusia setiap hari harus menghirup oksigen tanpa henti. 

Normalnya, manusia bernapas sekitar 12-24 kali per menit. Dalam setiap tarikan napas sekitar 3-4 liter udara masuk atau sekitar 7-8 liter per menit. Bila dijumlahkan, kebutuhan udara manusia tiap tahun 9,5 ton dimana 23 persenya adalah oksigen.

Kalau satu batang pohon menghasilkan sekitar 118 kilogram oksigen setiap tahunnya, maka satu tahun manusia membutuhkan sekitar 7-8 pohon untuk menyuplai kebutuhan oksigennya. 

Bayangkan bila manusia harus membeli oksigen seperti yang marak hari-hari ini. Harga tabung ukuran paling kecilnya saja sekitar Rp2,5 juta. 

Isi ulang tabung ukuran 0,5 meter kubik seharga Rp10.000, tabung ukuran 1,5 meter kubik Rp25.000. Ukuran 2 meter kubik mencapai Rp30.000 dan 3 meter kubik Rp40.000.

Tinggal kalikan saja kebutuhan setiap harinya. Maka dalam satu tahun bisa terbaca berapa angkanya. Kalau manusia diberi jatah usia 63 tahun, maka jumlahnya akan sangat fantastis!

Bila hari ini kita masih sulit membayangkan harus membeli oksigen, kecuali untuk orang sakit yang membutuhkan, maka bisa jadi cerita akan berbeda 20 atau 50 tahun lagi.

Seperti halnya 50 tahun lalu, orang juga tidak membayangkan setiap tetes air yang diminum harus dibeli.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)." [QS Ibrahim: 34]

Masihkah kita lalai? Sementara di tengah pandemi ini kematian terus mengintai.

Jakarta, 6/7/2021

(By Uttiek)