Kenapa ANIES dan GERINDRA Yang Jadi NOMOR 1?

Kenapa ANIES dan GERINDRA Yang Jadi NOMOR 1?

Hasil survey Indikator ini berani. Berani meninggalkan pakem yang biasanya menempatkan tokoh-tokoh dalam tanda kutip sebagai urutan teratas. 

Bicara Presiden pilihan anak muda, saya anggap hasil survey Indokator sangat berani ketika hasilnya tidak menempatkan sosok AHY sebagai urutan pertama atau sosok Ridwan Kamil yang aktif di jejaring sosmed dengan dukungan anak mudanya. 

Jargon anak muda, udah menjadi milik AHY. Karena dari beberapa kandidat, AHY memang paling muda dan jabatannya adalah pimpinan partai. Apalagi saat ini Demokrat sedang mengalami 'kedzoliman' yang langsung digoreng oleh tim sosmed mereka untuk mendulang dukungan dan simpati. 

Atas apa yang terjadi pada Demokrat, beberapa minggu lalu membuat elektabilitas Demokrat mengalami kenaikan yang signifikan. Sudah jamak apabila masyarakat merespon dengan simpati. 

Dan sedikit kaget ketika Indikator malah menempatkan AHY dibawah tokoh-tokoh lama, saat sasaran surveynya adalah anak muda.

Kekagetan selanjutnya ketika Indikator menempatkan nama Puan jauh dibawah tokoh-tokoh yang mempunyai nama. Artinya, sosok Puan tidak dijadikan pilihan utama bagi anak muda. Padahal, sebelumnya nama Puan selalu menyodok diantara tokoh-tokoh politik yang kalibernya sudah diakui. 

ANIES BASWEDAN

Sosok Anies sudah diprediksi akan menjadi pemberitaan dalam beberapa minggu ini. Terlebih ada aktifitas Anies yang lain dari kebiasaannya, mengunjungi kulineran masyarakat Jakarta. Keluar masuk pasar, nongkrong di pinggir jalan sembari mencicipi makanannya dan mengupload hal itu dalam akun sosmed miliknya. 

Apa yang dilakukan Anies saat ini, jauh dari kebiasaan sebelumnya. Ada frekuensi berlebih atas kunjungan yang ia lakukan ke masyarakat, khususnya menikmati kuliner masyarakat Jakarta yang diperjualbelikan. 

Dan itu sah-sah saja. Di penghujung masa jabatannya yang akan berakhir 1 tahun lagi, Anies perlu memberikan kedekatan lebih pada masyarakat DKI. Sebagai modal elektabilitasnya tetap terjaga. 

Pilkada 2022 sudah dipastikan tidak jadi diadakan, dan diundur ke 2024. Kekosongan kekuasaan di DKI setelah masa jabatan Anies berakhir akan diambil oleh Kemendagri dengan menunjuk Plt sampai masa pilkada 2024. 

Atas fakta ini, Anies harus melakukan berbagai cara untuk menanamkan namanya pada masyarakat DKI khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya, untuk modal apabila ia mengincar pencalonan Presiden di pemilu 2024. 

Namun syarat utamanya, Anies harus bergabung ke partai lebih dahulu. Ia harus memutuskan apa partai yang dipilihnya, agar berbagai upaya yang telah ia lakukan tetap mendapatkan tempat dan selalu terjaga elektabilitas seiring kegiatan baru Anies di partai barunya. 

Jika Anies tidak segera bergabung ke partai setelah berakhirnya jabatan gubernur DKI, nama Anies akan cepat dilupakan karena perpindahan dan pertukaran nama tokoh politik yang menjadi pemberitaan sangat cepat beredar mengikuti apa kegiatannya. 

Ketika Indikator merilis hasil dengan nama Anies sebagai pilihan utama, saya anggap survey ini bisa diberi aplaus karena emang begitu penampakannya. Bahkan nama Anies bisa menggeser nama Prabowo, ketika anak muda yang diminta berpendapat. 

Sosok Prabowo tetap masuk sebagai kandidat potensial capres bersama Sandiaga Uno. Ada duo Gerindra dirilis Indikator dengan posisi yang bagus. Jika dua nama ini digabungkan, maka persentase mereka bisa menjungkalkan semua kandidat yang dirilis survey Indikator. 

GERINDRA

Keberanian Indikator selanjutnya ketika menempatkan Gerindra sebagai partai yang paling dipilih oleh Anak muda. Keberadaan Gerindra di koalisi pemerintahan, plus banyaknya kecaman pada mereka akibat memilih jalan sunyi dalam bekerja nyata membantu rakyat, menjadikan Gerindra sebagai partai yang diragukan bisa mengulang kisah lama. 

Namun hasil survei Indikator malah berkata sebaliknya, justru Gerindra menempati posisi teratas di pilihan anak muda. Meninggalkan nama PDIP yang selalu juara dalam rilis hasil survey sebagai partai yang paling banyak dipilih. 

Anak muda biasanya mudah percaya pemberitaan di sosial media. Memancing emosi dengan postingan provokasi, sangat mudah menyasar anak muda. Karena kebiasaan mereka yang langsung panas tanpa mencari informasi perbandingan. Namun rilis Indikator berkata lain. 

Pemberitaan pada Gerindra saat memilih berkoalisi pada pemerintah benar2 telah membuat framing buruk untuk menurunkan elektabilitas. Namun hal ini ternyata tidak menjadi dasar anak muda untuk mempercayainya. Terbukti masih adanya kepercayaan mereka pada Gerindra dan menempatkan Gerindra menjadi partai pilihan nomor 1 yang dipilih. 

Terpilihnya partai Gerindra dikarenakan para kader mampu memfungsikan diri menjadi teman masyarakat. Baik kader yang duduk di parlement maupun kader penggerak di arus bawah (lapangan). 

Kader-kader di parlemen tetap bersuara kritis pada pemerintah atas kebijakan yang dianggap merugikan rakyat. Silih berganti mereka menyuarakan ketidak adilan dan menjadi rujukan pemberitaan publik. Selain itu, tetap menjalin komunikasi dengan turun ke berbagai daerah untuk memperlihatkan kepedulian di masa pandemi. 

Tokoh-tokoh seperti Andre Rosiade di DPR dan Adnan Taufiq di DPRD DKI selalu membagikan kegiatan mereka bersama masyarakat di akun-akun sosial medianya untuk memperlihatkan apa yang telah dikerjakan sebagai langkah  kepedulian. 

Fadli Zon, Habiburokhman, Romo Syafii, dan Bu Hima pun aktif memberikan tanggapan atas situasi yang memberatkan rakyat dalam menilai kebijakan pemerintah. Kritik mereka dilakukan baik secara online melalui pemberitaan maupun sosial media, juga melalui offline saat dengar pendapat di tingkat komisi yang mereka tempati.

Semuanya ada proses dan analisa mengapa bisa menempatkan pihak-pihak tersebut pada urutan pertama. 

Baru kali ini saya bisa sedikit 'nerima' hasil survey, ketika rilisnya meninggalkan kebiasaan yang dimainkan. 

(By Setiawan Budi)