Tuntutan GAR ITB itu Kacau Semua

Melihat permasalahan GAR ITB sebagai masalah internal mereka itu wajib hukumnya. Kita cukup ngece aja para alumnus ITB dan almamater ITB bahwa ternyata civitas mereka berhasil menelurkan bibit yang salah gen. Kalau menurut saya, tuntutan GAR itu kacau semua:

1. Kalau mereka concern karena Pak Din Syamsuddin adalah salah satu pengurus lembaga di ITB, ini permasalahan rektorat. Seharusnya yang menegur Rektorat ITB (kalau yang disampaikan GAR ITB benar). Yang dilakukan GAR ITB itu overlapping garis kewenangan. Kalau mau, mereka bikin laporan ke Rektorat ITB dan bikin petisi menolak kehadiran Pak Din di lembaga yang ada dibawah ITB. Itu ciamik, langkah cerdas. Kalau yang sekarang norak dan semakin menunjukkan miskinnya intelegensia para penerima subsidi negara.

2. Karena laporannya ke KASN (Komisi Aparatur Sipil Negara), ini juga salah alamat. Harusnya GAR ITB melaporkannya ke IAIN Wali Songo dulu baru meminta IAIN melaporkan Pak Din ke KASN. Ini overlapping maha jauh, selain karena nama mereka pakai ITB yang ngga nyambung sama IAIN Wali Songonya. Memang mereka pikir mereka siapa bisa melaporkan orang yang kerja diluar lingkungan mereka ke lembaga pengawas? Sama aja kayak saya melaporkan direktur A ke polisi atas tuduhan korupsi di perusahaan A, dimana saya bekerja di perusahaan B. Walaupun boleh-boleh aja, tapi lucu dan iya kalau bakalan di back-up sama perusahaan A, kalau ngga? Koplak! Sekali lagi ini menunjukkan betapa menyedihkannya para kaum intelektual kita. Miskin logika dan miskin sistematika berpikir.

Jadi sekali lagi saya serukan kepada para kaum eksternal ITB, ngga usah ikutan mengkomentari masalah ini. Ini masalah internal ITB, kita cukup ngeledekin aja mereka. Jangan dilihat ini sebagai langkah yang menghina, justru ini langkah yang memicu perbaikan di dalam internal ITB tanpa harus turut campur urusan dapur orang. Ejek dengan intelektualitas yang baik, bahasa yang santun tapi nyelekit. Semisal:

(Ini cuma contoh)
"Ikatan Alumni ITB harusnya berani menindak keras dan mempertanyakan pemilihan logo GAR ITB. Karena dengan nama ITB, harusnya itu bukan gajah tapi Ganesha. Kecuali sekarang ITB itu ternyata kebun binatang, karena logonya GAR ITB menggunakan gambar gajah Afrika". 🤣🤣🤣

Foot note:
Padahal Bapak Mertua saya itu alumni pasca sarjananya ITB, saya saja berani kenapa anda tidak?

(By Arung Isyadi)

Melihat permasalahan GAR ITB sebagai masalah internal mereka itu wajib hukumnya. Kita cukup ngece aja para alumnus ITB...

Dikirim oleh Arung Isyadi pada Minggu, 14 Februari 2021