Jauh Sebelum Konvensi Jenewa, Islam Sudah Mengatur Tawanan Perang dengan Sangat Manusiawi

Tawanan Badar dan Gerakan Intelektual

Salah satu sisi kemanusiaan syariat Islam adalah memperlakukan tawanan perang dengan baik. 

Mereka tidak boleh disakiti apalagi dibunuh. Jauh sebelum konvensi Jenewa ditanda-tangani, syariat Islam sudah mengatur hal sekecil itu.

Padahal tawanan itu aslinya adalah kombatan. Niat dia ikut perang adalah ingin membunuh kita. Tapi karena kalah di medan tempur, dia menyerah lalu jadi tawanan.

Pada saat itulah kita dilarang membunuh lawan, meski sebelumnya dia adalah pembunuh berdarah dingin di medan pertempuran. 

Dalam Perang Badar, setidaknya ada 70 orang tawanan dari kalangan musyrikin Mekkah. Oleh Nabi SAW, tawanan ini tidak disiksa, tapi dimanfaatkan dari dua sisi.

Yang banyak duit dimintai uang tebusan. Tapi yang kurang makmur, diminta mengajar baca tulis. Ini sangat menarik untuk digaris-bawahi. 

Rupanya meski sering disebut sebagai bangsa yang "ummi" dalam arti tidak bisa baca tulis, namun harus dicatat bahwa di kala itu budaya baca tulis justru sedang mulai berkembang. 

Bangsa Arab yang tadinya ummi itu sedang melakukan putaran baliknya, berputar di titik sejarah menuju ke zaman intelektualisme yang melek baca tulis dan jadi pusat literasi.

Awalnya memang dari masyarakat Mekkah sendiri. Sejarah menceritakan bahwa dinding Ka'bah seringkali dijadikan tempat untuk menempelkan teks syair para pujangga Arab.

Mekkah terkenal sebagai kota ritual peribadatan, sekaligus kota dagang dan kota seni. Setiap waktu selalu dipertontonkan syair indah karya para pujangga dari seantero tanah Arab.

Yang dianggap sebagai pemenang berhak mendapatkan hadiah istimewa, karyanya dipajang di dinding Ka'bah. 

Jadilah Ka'bah seperti mirip majalah dinding zaman kita sekolah dulu, atau di masa kini kira-kira seperti billboard besar. 

Ini menunjukkan bahwa penduduk Mekkah yang sudah terlepas dari buta huruf. Sebab kalau tetap terpuruk dengan keummian masa lalu, percuma saja menggantung teks di dinding Ka'bah. Toh tidak ada yang bisa baca juga. 

Kadang juga ditempelkan teks perjanjian, sebagaimana teks pemboikotan kepada Bani Hasyim di Syi'ib Ali. Lalu Allah SWT mengirim rayap untuk memakan kulitnya dan hanya menyisakan lafazh bismikallahumma.

Kemampuan baca tulis dipelopori oleh masyarakat Mekkah, khususnya keluarga Abu Sufyan bin Harb. Konon kakek Beliau yang pertama kali memperkenalkan teks tulisan kepada bangsa Arab. 

Khatnya masih mirip kaligrafi khat Kufi yang kotak-kotak. Dr. Ghanim Al-Qaduri, pakar sejarah penulisan teks Al-Quran berteori bahwa memang dari Kufah itulah sumber asli pengambilan aksara Arab. 

Maka wajar kalau Muawiyah putera Abu Sufyan ketika masuk Islam, termasuk jajaran Tim Penulis Wahyu. 

Banyak tokoh musyrikin Mekkah yang sudah pada melek huruf ikut dalam Perang Badar, lalu jadi tawanan. Disitulah mereka diberdayakan agar kaum muslimin di Madinah ikutan dapat transfer ilmu dan peradaban, khususnya dalam urusan baca tulis.

Tawanan yang sukses mengajarkan baca tulis untuk 10 orang Madinah, akan dibebaskan. Tawaran yang unik dan out of the box

Saya menghitung, anggaplah separuh dari 70 tawanan itu tidak mau bayar tebusan pakai harta, tapi memilih program mengajar baca tulis, setidaknya ada 35 orang pengajar baca tulis.

Kalau masing-masing mengajar 10 orang, maka jumlah muridnya 350 orang. Itu lebih banyak dari peserta Perang Badar di pihak muslimin. 

Sementara kita tahu bahwa ada kebutuhan khusus bagi umat Islam kala itu untuk bisa baca tulis. Al-Quran yang turun dari langit selama ini hanya turun berupa suara bukan teks.

Memang sih dihafal juga, tapi tetap butuh satu per satu dituliskan secara manual. Apalagi mengingat pada periode Madinah ayat yang turun lebih banyak ayat yang panjang. 

Setiap turun satu ayat, Nabi SAW perintahkan para shahabat untuk menuliskan. Disebutkan bahwa para penulis wahyu bukan hanya satu dua orang, tapi jumlahnya sampai 43 orang. 

Itu di luar mereka yang menulis secara mandiri atas inisiatif diri mereka sendiri. 

Ada memang selama ini yang kita kenal sebagai penulis Wahyu hanya itu-itu saja, seperti Ali, Muawiyah, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab. Ternyata jumlah mereka jauh lebih banyak. 

Selain untuk menulis Wahyu, Nabi SAW sendiri butuh para sekretaris untuk menuliskan surat yang dikirim kepada para raja. 

Muhammad Syit Al-Khattab dalam Sufara'un Nabi menuliskan setidaknya ada 15 surat yang dikirimkan kepada para raja dunia kala itu.

Bisa berupa surat ajakan masuk Islam atau pun surat perjanjian ini dan itu, termasuk perjanjian gencetan senjata. Salah satunya Perjanjian Hudaibiyah. 

Sebelumnya Nabi SAW mengikat perjanjian dengan berbagai klan Yahudi Madinah, yang kita kenal dengan Piagam Madinah. 

Meski dalam Al-Quran kita menemukan kata ummi, baik yang disematkan kepada Nabi Muhammad SAW atau pun kepada bangsa Arab, namun keummian itu bukan kutukan. 

Keummian itu sekedar fakta awal yang kemudian mengalami perubahan secara gradual. Titik awal bangsa Arab jadi melek huruf kurang lebih ketika Wahyu diturunkan. 

Diawali dengan perintah membaca yaitu: IQRO' dan diteruskan dengan menuliskan 6.236 ayat yang turun selama 23 tahun. 

Di masa Khalifah Utsman teknik Rasm disempurnakan sehingga tertulislah beberapa versi mushaf Ustmani yang disesuaikan dengan ragam qiraat, lalu dikirimkan ke Mekkah, Kufah, Syam, Yaman, Mesir, Bahrain dan lainnya sebagai mushaf standar.

Seratusan tahun kemudian dunia menyaksikan bahwa negeri Arab menjadi pusat literasi ilmu. Murid dan cucu murid para shahabat mulai revolusi besar di bidang tulis menulis. 

Karya para ulama Muslim mengalir deras. Ibnu Syihab Az-Zuhri menulis kitab hadits. Imam Malik menulis Al-Muwaththa', Imam Asy-Syafi'i menulis Al-Hujjah, Al-Umm, Ar-Risalah. 

Ulama lain juga banyak yang menuliskan ilmunya seperti Al-Laits di Mesir, Sufyan Ats-Tsauri di Kufah, Ibnu Juraij di Mekkah, Al-Uza'i di Syam, Hammad bin Salamah di Bashrah.

Kesimpulan:

1. Nabi SAW dan bangsa Arab memang disebut ummi alias tidak bisa baca tulis. Tapi itu bukan kutukan yang berlaku selamanya. Itu fakta sejarah mereka di masa lalu, yang dengan kedatangan syariat mulai berubah dan ditinggalkan. 

2. Tawanan Perang Badar notabene bukan muslim. Kalau mereka muslim, tidak mungkin ikut dalam barisan musuh dan jadi tawanan. Namun meski kafir, Nabi SAW memerintahkan para shahabat mengambil ilmu dari mereka.

(Ustadz Ahmad Sarwat)