Tuhan (Tetap) Maha Baik

Tuhan (Tetap) Maha Baik

Atas kecelakaan penerbangan yang dialami oleh pesawat Sriwijaya Air SJ182 PK CLC jurusan Jakarta Pontianak, pada Sabtu sore 9 Januari 2021 kita semua turut berduka. Seraya memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memberikan takdir terbaik bagi penumpang, awak pesawat dan seluruh keluarganya. 

Duka mendalam, tentu saja dirasakan pihak keluarga. Terbayang, kehilangan orang-orang yang dicintai dalam musibah semacam itu. Semua orang juga pasti mati, namun waktu dan kondisi kadang menyayat hati. 

Menunggu di bandara tujuan, untuk menjemput orang yang dicintai. Namun yang diterima adalah kabar hilangnya pesawat. Lalu disusul berita temuan yang diduga puing-puing pesawat di lautan.

Namun, di tengah suasana seperti itu. Ada juga cerita lain. Misalnya salah satu komentar netizen atas berita kecelakan pesawat itu yang dilansir detiknews. "Keponakan saya tidak memenuhi syarat untuk ikut terbang. Ia selamat. Tuhan Maha Baik". 

Sontak, komentar itupun ditanggapi beragam. Ada yang berpersepsi positif. Luar biasa, Tuhan Maha Baik. Ada yang punya persepsi lain. Lha emang kalau keponakannya ikut, lalu menjadi korban, Tuhan Tidak Baik? Atau komentar senada, Tuhan Maha Baik kepada satu orang dan Tidak Baik kepada 59 orang yang diduga ada dalam pesawat? 

Lepas dari pro kontra komentar netizen tersebut, kita meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan (Allah SWT) itu Maha Baik kepada semua hamba-Nya. Mungkin satu peristiwa dipandang menyakitkan, namun selalu ada rahasia, dimana itu baik menurut Allah SWT. Tinggal bagaimana kita sebagai hamba, memaknai dan mengambil hikmah dari setiap peristiwa. 

Peristiwa kematian, memang selalu membuat kita berduka. Sebagaimana yang disampaikan Gus Baha, ketika malaikat maut mendatangi Nabi Ibrahim as untuk mencabut nyawa beliau. Lalu Nabi Ibrahim as mempertanyakan, bagaimana kekasih Allah kok dibunuh? 

Kemudian Izrail menyampaikan kepada Allah SWT, keberatan dari Nabi Ibrahim as. Allah SWT pun menjawab, "Bagaimana kekasih kok tidak siap diajak bertemu dengan yang dicintainya?" Dan, Ibrahim as pun memahami kematian sebagai peristiwa untuk segera bertemu dengan Dzat yang sangat dicintai selama ini, Allah SWT. 

Satu peristiwa yang sama, akan menjadi berbeda, ketika dipandang dengan cara pandang yang berbeda. Terkadang taqdir Allah SWT hanya kita lihat dari satu sisi. Hal itu yang membuat ada perasaan berat untuk bisa menerimanya. Kadang malah sampai berburuk sangka (suuzhan) kepada Allah SWT.

Padahal di dalam setiap peristiwa, termasuk kematian bagaimanapun keadaannya, sungguh Tuhan Allah SWT selalu Maha Baik. Tuhan tetap Maha Baik, meski membuat kita berduka. 

Semoga kita selalu bisa menerima setiap ketetapan-Nya dengan menjaga husnuzhan (baik sangka) kepada Allah SWT. Diberikan pemahanan dan hikmah atas peristiwa yang kita alami. Terus meyakini sepenuhnya bahwa Tuhan tetap Maha Baik, sampai kapanpun dengan ketetapan apapun bagi kita. 

Aamin🤲🏻

(By Setiya Jogja)