Mendadak Arif Bijaksana Mengomentari Banjir

Teman-teman saya yang tahun kemarin hampir tiap hari berisik banget mengomentari banjir DKI, menuduh gubernurnya govlok, gak bisa kerja, gubernur mayit, gubernur sunatullah, gubernur retorika, dan sebutan-sebutan melecehkan lainnya, sampai saat ini gak ada komentar sama sekali tentang banjir di Kalsel.

Padahal Kalsel itu juga Indonesia lho!

Saya lihat postingan-postingan mereka akhir-akhir lebih bijak.

"Jaga persatuan dan kesatuan. Hormati pemimpin dan umaroh kita. Sabar, semua ini cobaan."

Begitu rata-rata isi postingan mereka sekarang.

Luar biasa. Waktu telah mengubah mereka menjadi lebih arif. Sangat menginspirasi.

Tapi gak tau juga. Mereka memang telah berubah bijak, atau karena DKI belum banjir aja.

Nunggu DKI banjir boleh-boleh saja, asal jangan didoain. Didoain banjir.

Jahat banget kalo klen kayak gitu.

Jangan ya!

(Wendra Setiawan)