Mengenang Syekh Ali Jaber Lewat Tulisan Salah Seorang Rektor ITS

Obituari Syekh Ali Jaber

Oleh: Prof Ir Joni Hermana MScES PhD (Rektor ITS 2015-2019)

Saat menjadi Rektor, saya pernah mengundang beliau ke kampus Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sekitar tahun 2016 yang lalu. Saat berceramah di Masjid Manarul Ilmi ITS, beliau sangat fokus menyuarakan kecintaan pada Al Quran karena keinginan besarnya mengajak seluruh muslim Indonesia terutama anak-anak, agar mampu memaknai keindahan isi Al Quran, baik saat membaca, menghafal maupun mempelajari isinya.

Saat acara itu pula, beberapa anak yang ternyata mampu hafal dan juga ada yang sudah hafidz diberinya hadiah umrah gratis. Beliau juga lalu mengundang para jamaah yang hadir untuk turut bersedekah Al Quran. Dan saya sangat terkesan sekali, karena respon jamaah yang luar biasa saat itu. Tertumpuk puluhan bahkan ratusan sedekah AlQuran dalam sekejap. Masya Allah...

Saat ada jeda dan kami bersilaturahmi, beliau cerita bagaimana beliau pertama ke Indonesia dan jatuh cinta dengan negara ini dan langsung memutuskan untuk tinggal disini karena ingin mengentaskan generasi muda Islam di Indonesia agar cinta Al Quran. Saat itu boleh dibilang, seluruh harta kekayaannya dia gunakan untuk membantu umat. Sementara beliau sendiri terpaksa harus hidup di rumah kontrakan di Jakarta, bersama istrinya yang berkebangsaan Indonesia.

Niat yang tulus menjadi pendakwah karena semata mendapat ridho Allah SWT ini akhirnya berbuah, perlahan beliau dapat membangun rumah tangganya maupun santri-santrinya dengan pertolongan rejeki dari Allah SWT. Bahkan beberapa televisi swasta mengontrak beliau untuk mengisi acara mereka, termasuk yang paling banyak digemari yaitu Hafidz Indonesia di RCTI.

Sebagai pendakwah, beliau sangat santun dan sangat terjaga perilakunya. Beliau tidak pernah berbicara apapun yang berkaitan politik maupun kepemerintahan. Termasuk juga pendakwah maupun ulama lainnya. Beliau sangat mendukung kerukunan umat maupun antar umat. Juga sangat patuh pada peraturan, termasuk dalam menjaga niat dakwah dan ucapannya. Dalam kaca mata saya, sungguh beliau benar-benar contoh insan yang berakhlak baik serta benar sebagai seorang muslim, pendakwah maupun sebagai seorang ulama.

Makanya saya pernah heran tidak habis pikir, ketika di Lampung ada “orang gila” yang mencoba melukainya. Apa salah dia? Hampir tidak ada cacatnya kecuali kebaikan dan ketauladanan semata....

Saya baru sadar pagi ini ketika mendengar berita duka tentang kepergian beliau, yang ternyata usianya masih sangat muda (44 tahun) dibandingkan dengan keluhuran ilmu dan akhlaknya. 

Selamat berbahagia Syekh, selamat kembali kepada Sang Pemilik ruh yang akan menyambutmu dengan bangga dan ridho, Insya Allah karena engkau telah berhasil menjalankan amanahNYA sebagai manusia yang bermanfaat bagi umat. Selamat kembali kepada keabadian, tempat yang tidak lagi menjadi ajang pertarungan hawa nafsu manusia yang sering menyesatkan kita dari jalanNYA. 

Semoga kami yang ditinggalkan mempunyai kesempatan sama untuk kembali keharibaanNYA dengan keridhoan dan kemuliaan dariNYA. Seperti keridhoNYA kepada para Syuhada, para orang Shaleh dan para Sahabat Rasulullah. AamiinYRA 

(JH, ITS Surabaya)