Macron Surati Erdogan Ajak Berbaikan dan Tingkatkan Hubungan Bilateral

Surat Macron kepada Erdogan dengan panggilan “YANG MULIA” berbahasa Turkey ('Değerli Tayyip') dan ditulis tangan menjadi topik hangat di media Perancis. Macron menyampaikan ingin memperbaiki hubungan dengan Erdogan dan ikut memperbaiki Eropa. FYI, Perancis satu dari negara nuklir terkuat di dunia.

Gw pribadi gak kaget dengan sikap Macron. Banyak orang gak tau ketika Macron positif Covid, Erdogan adalah kepala negara pertama yang berkirim surat kepada Macron mendoakan kesembuhan dan kebaikan bagi Macron. Kawan bahkan lawan paham politik “manusiawi” Erdogan yang membuatnya disegani.
 
Demikian disampaikan pengamat internasional Hasmi Bakhtiar, yang saat ini menempuh studi hubungan internasional di universitas Lille Prancis, melalui akun twitternya, Sabtu (16/1/2021).

***

Macron Surati Erdogan Ajak Berbaikan dan Tingkatkan Hubungan Bilateral

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengirim surat kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan untuk menyampaikan niatnya meningkatkan hubungan bilateral, kata Menteri Luar Negeri Mevlüt Çavuşoğlu, Jumat (15/1/2021).

Dalam surat tersebut, menurut Çavuşoğlu yang berbicara dengan wartawan sekembalinya dari kunjungan resmi ke Pakistan, Macron menggarisbawahi pentingnya Turki bagi Eropa dan keinginannya untuk mengembangkan hubungan positif.

Sebagaimana dilansir Daily Sabah, Cavusoglu mengatakan bahwa kedua pemimpin dapat segera berbicara melalui konferensi video atau panggilan telepon untuk membahas hubungan serta masalah regional, termasuk masalah Libya dan Suriah.

Dalam konferensi pers bersama dengan Menlu Portugis Augusto Santos Silva di Lisbon pekan lalu, Cavusoglu memberikan sinyal hubungan yang menghangat dan menyatakan bahwa Paris dan Ankara telah mengerjakan peta jalan untuk menormalisasi hubungan.

“Itu telah berjalan dengan baik. Jika Prancis tulus, Turki juga siap untuk menormalisasi hubungan dengan Prancis,” ujar Cavusoglu.

Turki telah berulang kali berselisih dengan Prancis terkait kebijakan di Suriah, Libya, Mediterania Timur, dan Nagorno-Karabakh, serta atas penerbitan kartun Nabi Muhammad di Prancis. Perselisihan telah meningkat ke tingkat baru dalam beberapa bulan terakhir karena Prancis telah bergerak untuk menindak beberapa kelompok Muslim setelah terjadi beberapa serangan di wilayahnya.

Ankara dan Paris sebelumnya telah perang kata-kata setelah pejabat Prancis pada 2018 bertemu dengan para pemimpin afiliasi kelompok teroris PKK di Suriah, YPG.

Kedua negara juga berada di sisi yang berlawanan di Libya, di mana Ankara mendukung Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (GNA) di Tripoli melawan serangan pemberontak Jenderal Khalifa Haftar. Prancis mendukung Haftar, tetapi secara resmi menegaskan pihaknya netral dalam konflik tersebut.

Pejabat Turki telah mengecam campur tangan Prancis dalam sengketa Mediterania Timur, mengingat negara itu tidak memiliki wilayah di kawasan tersebut. Prancis mendakwa kapal perang Turki berperilaku agresif setelah kapal perangnya mencoba memeriksa sebuah kapal pada Juni yang diduga melanggar embargo senjata PBB di Libya, tetapi Turki membantah telah melecehkan Courbet.

Perselisihan kedua negara semakin meningkat setelah Prancis mengirim aset angkatan laut ke Mediterania Timur untuk mendukung kapal perang Yunani yang membayangi kapal Turki di perairan yang disengketakan.

Bulan lalu, Uni Eropa menyiapkan langkah-langkah hukuman atas perselisihan Turki dengan Yunani dan pemerintahan Siprus Yunani atas hak atas sumber daya lepas pantai di Mediterania Timur, tetapi akhirnya memutuskan untuk menunda tindakan tersebut hingga Maret meskipun sebelumnya ada dorongan dari Prancis untuk memberikan sanksi kepada Ankara.

Setelah ketegangan selama berbulan-bulan, Presiden Recep Tayyip Erdoğan dan Presiden Prancis Emmanuel Macron membahas perselisihan antara mereka dalam panggilan telepon pada bulan September dan sepakat  untuk meningkatkan hubungan. Tapi, kedua presiden kemudian kembali bertengkar hebat atas sejumlah masalah, terutama atas kartun pelecehan terhadap Nabi Muhammad.

(Daily Sabah)