Selamat Untuk Warga Jakarta, Angkat Jempol Untuk Gubernur Anies

SENEN

"Maling, maling..., " teriak seorang ibu dari kejauhan. Saya pun terkesiap, mencari asal muasal suara itu. Rupanya ibu itu baru saja dijambret perhiasannya. Si maling berlari kencang ke arah sebuah gang sempit di dekat Jl. Kenanga, kawasan Senen, Jakarta Pusat. Menghilang dan tak bisa ditemukan lagi. 

Kejadian ini sudah mahfum terjadi, saban hari. Apalagi saya yang setiap dua hari dalam seminggu berlatih bulutangkis di Gelanggang Remaja Planet Senen, atau kursus gitar di tempat yang sama. Cukup naik metromini 05 dari rumah di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, akan sampai sekitar 15 menit ke Senen.

Senen pada 1979 amatlah kumuh dan menakutkan. Banyak copet, preman, dan sebangsanya, berkumpul di sini. Maklum, oleh Gubernur Ali Sadikin, Senen dijadikan Pusat Perbelanjaan, sekaligus Pusat Hiburan. Jangan lupa, Chairil Anwar pernah bermukim di Planet Senen, melahirkan karya puisinya yang kesohor ke seluruh jagad. 

Pada 1974, Senen habis terbakar, saat peristiwa Malapetaka 15 Januari atau Malari. Miliaran rupiah kerugian yang harus ditanggung  pedagang emas di Proyek Senen. Puluhan toko emas dijarah tanpa sisa, entah oleh siapa. Kebakaran menghanguskan Pusat Perdagangan di Tanah Air. 

Kawasan Senen bertetangga dekat dengan Tanah Tinggi. Sebuah kawasan tempat bermukimnya para preman kesohor saat itu. Maaf saya tak menyebut nama. Dari rumah saya menuju Senen lewat Tanah Tinggi, cukup naik becak. Para preman dari Tanah Tinggi inilah yang membuat Senen makin suram. Para wartawan menyebutnya sebagai kawasan neraka ibu kota. 

Hiburan juga ada di Senen. Ada dua bioskop di kawasan ini: Mulia Agung dan Grand. Keduannya saling berdekatan. Di dua bioskop ini diputar berbagai film nasional dan Amerika. Kalau bawa pacar di malam Minggu, ya pasti kedua bioskop ini. Saya paling sering di Mulia Agung, karena lebih bersih. 

Para tokoh agama di kawasan ini berupaya semaksimal mungkin mengubah citra Senen. Berbagai kegiatan mereka lakukan, seperti pengajian dan dakwah dari penceramah kondang kala itu seperti Habib Alwi Jamalulail dan ustadz Anwar Sanusi. Tapi masih seperti itu juga. Kumuh dan menakutkan. 

Di kawasan segitiga Senen, masih berdiri kokoh bangunan peninggalan Cina. Di sana banyak berdiri toko-toko, seperti Siong Foe yang menjual kaos, sepatu, dan perlengkapan lainnya untuk bermain sepakbola. Kawasan segitiga ini, pada 1990-an dibongkar  dan berubah menjadi Atrium Senen hingga saat ini. 

Mr. Sjafruddin Prawiranegara, mantan menteri di era Orde Lama, pernah berceramah Idul Fitri di depan Pusat Perbelanjaan Senen. Tepatnya pada Idul Fitri 1978. Judul ceramahnya saya masih ingat betul: "Jangan Ganti Pancasila dengan Pancagila". Ceramahnya ini banyak  menyinggung kebijakan pemerintah Orde Baru. Sholat Idul Fitri di kawasan ini diselenggarakan oleh Dewan Dakwah yang bermarkas di Jl. Kramat Raya, berdekatan dengan Senen. Didukung oleh berbagai masjid dan musala di kawasan padat penduduk ini. 

Dari tahun ke tahun, Senen masih menyeramkan. Hampir setiap tiga tahun, terjadi kebakaran di Pusat Perdagangan Onderdil Mobil. Penguasa sudah saling berganti. Dari gubernur hingga presiden. Kawasan Senen tetap saja angker dan kumuh. Bahkan tak ada kebijakan gubernur yang bisa menyentuh dan merubah kawasan ini. 

Tiga bulan belakang ini, saya selalu melewati kawasan Senen. Di awal pekan, setiap Senin, saya harus berada di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat yang berada di Jl Bungur Raya, untuk sebuah perkara. Wajah Senen berubah total, disulap sedemikian rupa dengan pendekatan yang humanistik. Pejalan kaki merasa nyaman, lorong penyebarangan orang dibuat semodern mungkin. 

Lampu kelap-kelip bersinar dari berbagai sudut. Bus Transjakarta hilir-mudik menjemput penumpang. Sungguh kampung kumuh, kini menjadi kawasan yang modern dan humanis. Saya baca tulisan Gubernur Anies Baswedan tentang perubahan kampung kumuh menuju kawasan modern. Oh begitu toh konsepnya. 

Perubahan ini tanpa membongkar rumah penduduk. Malah kawasan perumahan kumuh di sekitar Senen menjadi tertata apik. Konsep perubahan ini membuat saya angkat jempol untuk Gubernur Anies. 

Selamat untuk warga Jakarta.

(By Asep Rachmat)