Ustadz Abrar: Pangdam Jaya Sedang Khilaf

Pangdam Jaya Sedang Khilaf 

Oleh: Ustadz Abrar Rifai

Ketika seorang perempuan yang tidak penting mencoba mengusik Habibana Rizieq Syihab dan FPI, saya sengaja tidak menanggapi. Sebab memang tidak penting. Buat apa menanggapi hal yang tidak penting!

Nah, sekarang ini nih yang perlu ditanggapi. Tentara menurunkan baliho HRS. Serius, dalam sejarah Republik Indoesia berdiri, baru kali ini tugas Satpol PP dalam penurunan Baliho diambil alih Tentara. 

Kemudian Pangdam Jaya, Mayjend Dudung Abdurrahman memberikan pengakuan, bahwa semua itu atas perintahnya. Dahsyat! 

Bukan sekedar menyatakan bahwa penurunan baliho oleh Tentara Nasional Indnesia itu atas perintahnya, tapi Pak Dudung juga menyerukan agar FPI dibubarkan. Hebat! 

Bahkan pada kesempatan tersebut, Lelaki Sunda tersebut menyitir ayat Al Qur`an, surat At-Tahrim Ayat: 6, "Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka...!"

Sebenarnya Pak Dudung pun membaca teks aslinya, bahasa Arab. Tapi sengaja tidak saya tirukan. Sebab susah saya menirukannya. 

Tapi, yang pasti keren beliau. Membenarkan sikap dan tindakannya dengan memakai dalil Al Qur`an. Saat sebagian orang menolak kebenaran (sebagian) isi Al Qur`an. Tapi urusan dalil tersebut nyambung atau tidak dengan pokok keterangannya, itu urusan lain. 

TNI yang dulu bernama ABRI dengan satu elemen di dalamnya adalah POLRI, berada dalam semua lini struktur Negara. Kemudian atas amanat Reformasi, POLRI dikeluarkan dari ABRI dan Tentara disuruh kembali ke barak. 

Sebutan ABRI pun ditanggalkan. Perlahan namun pasti, Tentara benar-benar profesional. Tak terusik dengan hiruk pikuk politik yang terus terjadi pasca reformasi. Habibie dan Gus Dur, adalah dua presiden pertama yang serius menempatkan Tentara pada tempatnya. 

Tentara profesional tidak ngurusi politik. Tidak melakukan tindakan yang bukan wewenangnya. Kecuali pada kondisi tertentu yang benar-benar genting dan darurat, atau terkait dengan ancaman terhadap kedaulatan dan pertahanan Negara.

Tapi terkait keberadaan spanduk dan pemasangan baliho, apanya yang genting? Dimananya yang darurat? 

FPI apa kegiatannya yang dianggap mengancam kedaulatan NKRI? 

HRS apa sikapnya yang dianggap mengganggu ketahanan Indonesia? 

Dengar, mari sini dengar... Ancaman itu misalnya kalau ada kooptasi asing terhadap jalannya pemerintahan. Asing bisa berbentuk korporasi, lembaga keuangan, lembaga kemanusiaan dan lain sebagainya. 

Ancaman itu juga kalau ada negara asing yang melakukan operasi intelejen di Indonesia, tanpa ada kesepakatan dengan Indonesia sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. 

Ancaman itu kalau ada kapal laut dan kapal terbang negara asing yang memasuki perairan dan udara kita dengan semena-mena. Atau juga para pelaut dari negara asing yang mencuri ikan dari laut kita. 

Ancaman itu gerakan pengacau keamanan di Papua, yang jelas ingin memberontak terhadap negara kesatuan Republik Indonesia. Mereka juga tak segan menantang Tentara. 

Dan banyak lagi contoh-contoh ancaman terhadap kedaulatan dan pertahanan Negara, yang seharusnya menjadi urusan Tentara. Bukan malah ngurusi baliho yang seharusnya diurusi Satpol PP atau maksimal Polisi. 

Ya Allah, Pak Dudung, itu panser kami, tentara kami, baju loreng kebanggan kami, kenapa justru Anda alihkan untuk urusan yang tidak semestinya? Miris! 

TNI adalah rakyat. Rakyat adalah TNI. Saya sengaja tidak menyebut sebagai bagian. Sebab sejatinya TNI dan rakyat sedari awal memang sudah lebur menjadi satu sebagai penjaga Indonesia yang sejati. 

Sebagai rakyat, FPI selama ini terlibat aktif dalam kerja-kerja kebangsaan yang sebagiannya tidak sanggup diselesaikan TNI, POLRI dan unsur Pemerintah yang lain. 

Pada setiap bencana yang terjadi, FPI selalu hadir. Mereka terdepan, tak hirau dengan bahaya yang mengancam nyawa. Bukan sekedar jiwa, tapi harta dan kepentingan keluarga pun mereka pertaruhkan. 

Berbagai kegiatan maksiat dan bentuk kejahatan lainnya, FPI seringkali membuat penyelesaian, saat Polisi ternyata enggan atau tidak berdaya melakukan penyelesaian. 

Saat ada orang bernama Ahok melakukan penistaan agama Islam, agama yang dianut mayoritas bangsa ini, FPI juga yang terdepan memaksa yang bersangkutan agar diseret ke penjara. 

Apakah organisasi ini yang Anda maksud untuk dibubarkan, Pak Dudung? 

Habib Rizieq Syihab adalah tokoh Bangsa yang begitu mencintai negara ini. Sudah beragam seruan orang kepada beliau untuk melakukan kudeta terhadap rezim ini. Tapi tegas beliau tolak! 

Andai HRS mau, pada Aksi 411 atau 212, sudah selesai Pemerintahan Jokowi. Saat 4 juta sampai 7 juta orang menyokong Habib R1zieq untuk melakukan apa saja yang diinginkannya. Termasuk andai HRS mau melakukan kudeta. 

Tapi Habibana Rizieq begitu mencintai bangsa dan negara ini. Berbagai rayuan, ajakan dan seruan untuk melakukan tindakan inkonstitusional semuanya beliau tolak! 

Apakah orang seperti ini yang akan Anda musuhi, Pak Dudung?  

Adapun seruan Revolusi yang diteriakkan Habib Rizieq Syihab akhir-akhir ini adalah revolusi akhlak. Akhlak itu sikap atau perilaku. Termasuk di dalamnya adalah perilaku politik para elit yang tidak berpihak kepada rakyat. 

Jadi di mana salahnya seruan revolusi ini, Pak Dudung? 

Pak Dudung, sungguh kecintaan kami kepada TNI tidak berubah. Termasuk juga Anda di dalamnya. Adapun tindakan Anda yang telah mengeluarkan panser dan mengerahkan tentara untuk menurunkan baliho, kami anggap sebagai bentuk kekhilafan yang bisa diperbaiki. 

Siap, Pak Dudung. Bersama rakyat TNI kuat![]