Demo-demo Omnibus Law Sia-sia Belaka? TIDAK AKAN ADA PERJUANGAN YANG SIA-SIA!!


TIDAK AKAN ADA PERJUANGAN YANG SIA-SIA

Ada yang mulai putus asa, beranggapan demo-demo menolak omnibus law ini sia-sia belaka, tak akan membawa hasil apapun.

Tapi tidak dengan anak² muda, mahasiswa, pelajar, mereka tidak "kapok" turun ke jalan.

Mereka bertekad akan terus menjalankan aksi menolak UU yang sarat kepentingan cukong itu.

Ada jaminan bakal berhasil?!
Tidak!!

Tapi kalau tidak bergerak sama sekali, sudah jelas DIJAMIN bakal dijadikan obyek penderita selamanya oleh pemerintah dan DPR, yang mungkin ke depannya akan semakin seenaknya saja dalam membuat UU, karena tahu rakyatnya pasti bakal diam saja, pasrah diapakan saja.

Tidak ada perlawan yang sekali pukul lawannya langsung KO.
Apalagi untuk omnibus law cilaka ini tampaknya pemerintah dan DPR akan saling bahu membahu all out sampai goal, at all cost!

Ketimbang mencibir dan mencela yang berunjuk rasa, menganggap mereka sedang melakukan kesia-siaan belaka, lebih baik mendoakan semoga aksi mereka tidak sia-sia.

Toh sama² bisa dilakukan dari rumah, sambil pegang gadget atau duduk manis menyeruput kopi di depan layar TV atau menatap monitor PC.

Mencela dan mengecilkan semangat perlawanan, jelas tak menghasilkan apa².
Tidak juga membuat mereka berhenti berunjuk rasa.

Lebih baik ikut mendoakan, mengobarkan semangat, kalau ada rizki dan ikhlas, ambil gadget, buka mobile banking, transfer ke teman² yang memasok logistik, meski nominalnya tak seberapa, paling tidak bisa membantu yang kehausan dan kelaparan setelah berunjuk rasa.

Ironisnya, 
Yang "menunggu di tikungan" malah dipuji.
Ya, "menunggu di tikungan" itu istilah yang saya berikan kepada siapapun yang mencoba mencari panggung dari ending aksi unras, agar tampak bak pahlawan (yang kesorean).

Siapa itu yang menunggu di tikungan?
Bisa siapa saja.
Mereka menunggu kalau ada peserta aksi yang ditangkap polisi, lalu nanti mereka akan secara heroik maju menjadi "penjamin" agar dibebaskan.

Padahal, akar masalah, sumber dari segala sumber unjuk rasa itu adalah kesewenang²an pemerintah dan DPR dalam mengesahkan UU Omnibus Law Cilaka.

Kalau saja tak ada pengesahan tingkat pertama di tengah malam dan dilanjut pengesahan tingkat kedua (paripurna) yang mendadak dimajukan 3 hari, tentu tak akan ada demo dimana².

Kalau tak ada demo, ya tidak akan ada yang tertangkap aparat dan ditahan.

Ibaratnya begini: anda ikut bersama beberapa orang yang menabur pasir, menuangkan oli di jalanan. Lalu, orang² yang lewat jalan itu dengan kecepatan tinggi jelas bakal tergelincir, terpelanting dan jatuh.

Sementara anda menunggu di tikungan sambil menonton: siapa nih yang bakal "kena".

Ketika ada yang terjatuh, anda segera keluar dari tempat anda menonton, lalu membantu orang yang jatuh untuk berdiri, sedikit mengobati lukanya walau sebenarnya cuma lecet² sedikit, sekedar diberi obat merah, selesai.

Heroik?!
Bisa jadi "iya" bagi sebagian orang yang tidak tahu.

Tapi "TIDAK" bagi orang yang paham bahwa penyebab orang² tergelincir itu adalah pasir dan oli yang ditebarkan.

Dan anda adalah bagian yang ikut menebarkan. Minimal semestinya anda bisa ikut mencegah teman² anda agar jangan menebar jebakan batman.

Kalau mau jadi pahlawan sebenarnya, ya segeralah singkirkan pasir dan oli dari jalanan. Ajak semua teman anda melakukannya, agar tak mencelakai banyak orang.
Berani?!
Mau?!
Tidak!
Tapi tetap menunggu di tikungan untuk menolong yang tergelincir.

Buat saya, yang seperti itu kok malah tak pantas dipuji sedikitpun!
Masih sempat²nya MENCARI PANGGUNG di tengah demonstrasi, eeh maksudnya dari ekses demonstrasi.

Kalau mau, ya sekalian saja bantu pendemo: turun ke lokasi, memberikan bantuan logistik buat mereka. Kalau demonya berhari², ya berhari² pula disupport.

Tapi mana berani berbuat seperti itu, sebab "panggung" yang itu resikonya besar.
Anda akan dihujat teman² anda yang sama² ikut menebar pasir dan oli. Lha wong anda ikut menebar kok sekarang malah ikutan bantu yang demo.

Ya sudahlah...

Memang bis omni yang bikin celaka ini ujian bagi kita semua.
Ujian kesabaran, ujian KEBERPIHAKAN, ujian KETANGGUHAN SEMANGAT PERLAWANAN.

Sama seperti semut² Ibrahim, membawa setetes air untuk memadamkan api, atau burung² yang bolak balik terbang dengan sayapnya yang lemah, meneteskan air dari paruhnya.
Api yang membakar Ibrahim a.s. padam?! Tidak!
Tapi setidaknya semut dan burung itu menunjukkan DI BARISAN MANA mereka BERPIHAK.

Ketimbang cicak yang malah meniup² api. 
Mungkin apinya memang tidak membesar karena tiupan kecil cicak, tapi at least cicak menunjukkan dukungannya kepada Namrudz untuk membakar Ibrahim a.s.

Hari ini, kita diuji.
Jemari kita menunjukkan keberpihakan kita dimana.
Postingan di laman media sosial kita menjadi etalase yang menggambarkan di barisan mana kita berdiri.

Kalaupun nanti, akhir bulan ini atau awal bulan depan UU itu tetap disahkan, kita BUKAN bagian dari yang mendukung.
Sejarah akan mencatat.
Jika kelak, 5-10-20-30 tahun lagi UU itu membawa kemudharatan bagi anak², keponakan, bahkan cucu kita, akankah kita termasuk yang menangisi dalam penyesalan mendalam?!

Masing² merasa benar dengan pilihan dan keberpihakannya.
Kelak, akan dipertanggungjawabkan.
Toh kita semua sedang menunggu waktu, bukan?!

Kalau dengan dalih "strategi" lalu ikut membuat dan mengesahkan UU yang tidak berpihak pada rakyat, kemudian 1-2 tahun lagi kematian menjemput, masa iya nanti debat sama malaikat "wah, anda sih gak tahu, malaikat, itu kan strategi saja. Sayangnya belum selesai, keburu dijemput pulang."

No...
Jalan ke arah mana kita melangkah, itulah yang dicatat sebagai akhir keberpihakan kita.
Allahu 'a'lam...
Dunia cuma sementara saja.
Pangkat, jabatan, uang, semuanya tidak akan dibawa mati dan tidak pula bisa dijadikan pembela di mahkamah akhirat.

Semoga... saya, dan kita semua, diberikan kekuatan untuk istiqomah berada dalam barisan dan jalan kebenaran.

Selemah²nya "tangan" kita, setidaknya jangan melemahkan iman kita.

(By Fristy Hanon Dwi)

TIDAK AKAN ADA PERJUANGAN YANG SIA-SIA * Ada yang mulai putus asa, beranggapan demo-demo menolak omnibus law ini...

Dikirim oleh Fristy Hanon Dwi pada Selasa, 20 Oktober 2020