TURKI VS ISRAEL


TURKI VS ISRAEL

Oleh: Hafidin Achmad Luthfie

Setelah UEA dan Israel melakukan normalisasi hubungan politik dan ekonomi banyak HOAX dan ISU SESAT yang dishare oleh pendukung MBS (Saudi) dan MBZ (UEA) tentang Erdogan dan Turki.

Diantara hoax dan isu sesat yang beredar luas adalah bahwa Turki dan Israel punya hubungan mesra diplomatik. Dan bahwa Erdogan akrab dengan pemimpin-pemimpin Israel.

Hoax dan isu sesat itu seringkali disertai foto-foto tanpa keterangan dalam acara apa dan apa konteksnya.

Umat Islam perlu tahu hakikat hubungan Turki dan Israel di masa kepemimpinan Erdogan dan AKP.

(1) Pertama, hubungan politik Turki dan Israel sudah ada jauh sebelum Erdogan dan AKP berkuasa.

Namun setelah Erdogan dan AKP berkuasa, hubungan kedua negara mengalami setback (kemunduran). Sering terjadi kontraksi politik diantara pemimpin kedua negara itu. Bahkan Erdogan pernah menuding Ariel Sharon sebagai pembunuh di forum ekonomi internasional, menolak duduk bersamanya, dan kemudian meninggalkan forum.

Turki dalam membina hubungannya dengan Israel, di bawah kepemimpinan Erdogan dan AKP, selalu menempatkan masalah Palestina sebagai parameter dan barometer politiknya. Erdogan pernah berkata:
نقف إلى جانب الشعب الفلسطيني..لم ولن نترك فلسطين لقمة سائغة لأحد أبدا

"Kami akan selalu berdiri disamping rakyat Palestina. Selamanya kami tidak dan takkan pernah membiarkan Palestina dijadikan santapan gratis oleh siapapun."

(2) Kedua, Turki bersedia membuka hubungan diplomatik dengan Israel  sebagai pemenuhan syarat bergabung dengan Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Jadi, prinsip dasar hubungan ini bukan atas dasar kepentingan politik dan ekonomi.

Hubungan Turki dan Israel di masa lalu selalu diliputi pasang surut dan naik turun. Bukan selalu hangat dan mesra. Bahkan melihat fakta yang ada lebih banyak ribut dan kisruh.

Tahun 1956 Turki mengutuk Israel karena bersama Inggris dan Prancis menyerang Mesir. Serangan itu dikenal dengan "Agresi Tiga Negara" (Al-'udwaan Ats-Tsulaatsi).

Tahun 1967 ketika terjadi Perang Arab Israel selama enam hari Turki berpihak pada Koalisi Arab (Mesir-Siria-Jordania). Sebaliknya Turki mengecam agresi dan aneksasi Israel pada Jalur Gaza, Tepi Barat, Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.

Betul pada dekade tahun sembilan puluhan terjadi perbaikan dan kedekatan. Namun, dekada itu tak bisa dijadikan simpulan buat melihat hubungan Turki dan Israel.

Setelah Erdogan dan AKP berkuasa hubungan politik Turki dan Israel cenderung buruk. Apa faktanya?

Tahun 2004 Turki mengecam keras Israel setelah helikopter militer Israel menembakkan tiga rudal pada kendaraan Syaikh Ahmad Yasin yang berakhir dengan syahidnya pemimpin spiritual Hamas tersebut. Turki menyebut Israel sebagai "Teroris Negara" (irhaabud daulah).

Tahun 2008 dan 2009 Turki menentang agresi Israel ke Jalur Gaza dan mengecamnya sebagai tindakan penjajah yang biadab.

Dan tahun 2010 kembali Turki mengutuk dan mengecam Israel karena pasukan komandonya menyerbu Kapal Marmara Turki yang berlayar menuju Jalur Gaza untuk membuka blokade dan menyalurkan bantuan pangan dan obat-obatan. Akibat peristiwa itu Turki memanggil pulang duta besarnya dari Tel Aviv.

Erdogan konsisten menekan Israel. Juga menentang blokade Jalur Gaza, pendudukan di Tepi Barat, serta status Al-Quds dan Masjid Al-Aqsho versi Israel.

Sejak tahun 2010 sudah tak ada lagi kunjungan timbal balik antar pejabat Turki dan Israel. Bahkan juga tak ada lagi proyek-proyek bersama yang dilakukan kedua negara.

Dan tahun 2011 Turki justeru mendukung rakyat diberbagai negara arab yang melakukan intifadhoh dan tsauroh (The Arab Spring).  Sementara saat yang sama penguasa-penguasa diktator Arab malah makin dekat dan mesra dengan Israel.

Kemudian puncaknya Turki menentang proposal perdamaian Palestina dan Israel yang digagas Amerika. Proposal yang di Dunia Arab dikenal dengan istilah 'shofaqotul qorn' (transaksi abad 21) salah satu isinya adalah menetapkan Al-Quds sebagai ibukota Israel.

Sementara itu saat yang sama banyak negara Arab justru menerima proposal perdamaian Donald Trump itu. MBZ sampai dikecam habis-habisan karena menyetujui ide proposal tersebut yang terang-terangan menjual Al-Quds kepada Israel.

Sebagai akibat sikap penolakan Turki itu The Jerusalem Post mengatakan:

"Turki telah menjadi ancaman serius bagi Negara Israel."

(3) Ketiga, Turki sekarang adalah negara utama pendukung Palestina merdeka. 

Dalam forum-forum internasional Turki tak canggung membela rakyat Palestina dan menceritakan kebiadaban penjajah Israel.

Turki tak hanya memberikan dukungan politik pada Palestina namun juga memberikan berbagai bantuan kemanusiaan.

Dukungan Turki pada Palestina tak terbatas pada jajaran pemerintahnya bahkan rakyat Turki secara luas juga memberikan dukungan yang sama.

Menurut saya para penyebar hoax dan isu sesat itu bodoh tentang sejarah dan politik. Mereka tak mampu menafsirkan hubungan Turki dan Israel secara benar.

Profesor Abdullah Ma'ruf, guru besar sejarah di Istanbul 29 Mayis University, mengatakan bahwa sejak AKP berkuasa hubungan Turki dan Israel sekadar formalitas. Keduanya sekarang bagaikan dua musuh bebuyutan.

Akhirnya The Jerusalem Post menyimpulkan bahwa:

"Sesungguhnya ancaman Turki pada Israel tidak terbatas secara verbal. Bahkan ia juga sebagai bentuk ancaman ideologi dan agama."

Para penyebar hoax dan isu sesat sesungguhnya adalah zionis-zionis merah jambu.

Mereka mengaku benci Israel namun saat yang sama membela Israel dan hendak merusak cita-cita mulia dan perjuangan suci Bangsa Palestina dan kaum muslimin seluruh dunia.[]

___
*Keterengan foto:
1. Pidato bersejarah Presiden Erdogan di Sidang Tahunan PBB di New York, 24 September 2019. Dimana Erdogan menunjukan peta Palestina yang dicaplok oleh penjajah Israel sejak 1947. Pada tahun 1947 wilayah Palestina masih luas (area hijau), hingga terus dicaplok oleh penjajah Israel, dan saat ini hanya tinggal Tepi Barat dan Gaza.

2. Presiden Erdogan pada Sabtu kemarin (22/8/2020) menerima delegasi HAMAS yang dipimpin Ismail Haniyah di Istana Kepresidenan di Istanbul.