Media India Ribut jika Ada Muslim Positif Corona, tapi Bungkam Saat 743 Anggota Kuil Hindu Terinfeksi Covid-19


[PORTAL-ISLAM.ID]  Kelompok Muslim dan analis politik menuduh pemerintah India menerapkan standar ganda setelah sebuah kuil Hindu di negara bagian Andhra Pradesh, India selatan. Lebih dari 700 anggota kuil Hindu dinyatakan positif terinfeksi virus corona baru-baru ini.

Tuduhan tersebut menyusul klaim bahwa Tablighi Jamaat (TJ), sebuah kelompok misionaris Muslim, adalah penyebar virus setelah pertemuan mereka di New Delhi pada Maret lalu. Beberapa pihak percaya bahwa pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi sedang memecah belah umat dalam pendekatannya tersebut.

“Virus corona di India digunakan oleh para pelaku kebencian untuk memecah belah orang atas nama agama,” kata Shahid Ali, seorang pengacara TJ, yang dilansir Arab News.

Dia menambahkan bahwa ketika kasus virus korona terdeteksi di antara kelompok TJ, baik media maupun bagian dari kelas penguasa mulai menyebarkan kebencian terhadap Muslim. Namun saat ini ketika banyak penganut Hindu terdampak, sikap media India berbeda.

“Akibatnya, orang biasa mulai mengesampingkan dan mengancam Muslim. Nah, saat begitu banyaknya kasus virus corona di tempat ibadah umat Hindu, media bungkam,” ujarnya. “Kelas politik kami menerima hegemoni mayoritas Hindu tanpa kritis, dan itu menjadi prinsip panduan dalam menangani krisis kesehatan ini. Mengambil sikap anti-Muslim menjadi ciri normal baru.”

Sebelumnya, Kuil Dewa Venkateswara di Tirupati mengatakan pekan lalu, bahwa tiga orang umat mereka meninggal karena Covid-19, termasuk seorang kepala pendeta. “Dari 743 yang terinfeksi, sekitar 402 orang sudah sembuh sementara 338 orang sedang menjalani perawatan di fasilitas perawatan,” kata Anil Kumar Singhal, pejabat pelaksana kuil.

Kuil dibuka kembali setelah berbulan-bulan diisolasi, menyusul permintaan dari umat, sementara masuknya dipantau melalui tindakan ketat. Namun, meski candi terkemuka itu menjadi hotspot penyakit, tidak ada keributan publik, seperti kasus ketika TJ dituduh menyebarkan penyakit pada awal tahun ini.

Pada saat itu, pemerintah mengevakuasi lebih dari 2.300 orang dan menempatkan 1.800 di karantina. Laporan media mengatakan lebih dari 25.000 orang yang melakukan kontak dengan kelompok itu dikarantina di seluruh India.

Pemerintah menuduh TJ menjadi tuan rumah pertemuan ribuan orang dari seluruh India dan luar negeri meskipun ada ancaman virus corona. Namun, Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa mengatakan perbandingan itu salah tempat dan mempertahankan pendiriannya bahwa TJ adalah pelaku virus, sedangkan umat Hindu di Tirupati adalah korban.

“Saat kejadian TJ terjadi, kasus virus corona sangat sedikit. TJ menunjukkan bahwa mereka bersalah karena melanggar kuncian. Mereka sengaja menyembunyikan semuanya,” kata juru bicara BJP, Sudesh Verma. “Kasus virus Corona di India sudah mencapai 2 juta, dan yang ada di kuil atau tempat ibadah lain menjadi korban, bukan pelakunya. Kita harus berhenti mempolitisasi masalah kesehatan. Keputusan ini, seperti keputusan pemerintah lainnya, tidak diambil berdasarkan garis komunal.”

Namun, beberapa orang tidak setuju dan menuduh pihak berwenang sebagai anti-sains dan menstigmatisasi Muslim. “Pemerintah anti sains dan seharusnya belajar dari insiden TJ dan menghentikan pertemuan keagamaan. Tapi sekarang kami tahu bahwa pemerintah dan media bekerja dengan agenda tertentu, mereka hanya ingin menjadikan Muslim korban,” kata Harjit Singh Bhatti, Presiden Progressive Medicos and Scientists Forum yang berbasis di New Delhi.

Bhatti mengangkat masalah acara keagamaan baru-baru ini di kota Ayodhya, tempat perdana menteri India meluncurkan pembangunan di sebuah kuil Hindu, dengan mengabaikan total tindakan dan protokol anti-virus. “Jika dia tidak mengikuti norma, lalu bagaimana dia berani mempertanyakan orang lain? Modi adalah tawanan politiknya sendiri,” pungkasnya. (NE)

Sumber : Indonesiainside
loading...