Manusia Lima Besar Dunia


Manusia Lima Besar Dunia

Oleh: Setiya Jogja

Di era modern seperti sekarang ini, manusia lebih suka sesuatu yang dianggap pasti. Padahal apa iya di dunia ini ada sesuatu yang benar-benar pasti? Bukankah segala sesuatu selalu berubah?

Saya pernah mengikuti satu "sharing session" seorang pebisnis muda berjudul : Naik omzet lima kali lipat. Dia bercerita mengalir saja tentang bagaimana mengelola bisnisnya hingga tumbuh dengan cepat. Para peserta tampak terkesima dengan cerita-cerita tersebut. Ada banyak hal baru yang tidak dilakukan para pengusaha lainnya.

Lalu, tibalah waktu tanya jawab. Dan seperti dugaan saya sebelumnya, peserta akan bertanya tentang berapa banyak jumlah karyawan, berapa omzet, berapa laba bersih. Pertanyaan kwantitatif untuk mengukur size perusahaan pembicara.

Apa iya kalau sudah tahu jumlah karyawan akan memberi manfaat bagi si penanya? Kecuali dia adalah pengusaha catering yang akan menawarkan paket makan siang buat karyawan. Barulah pertanyaan tentang jumlah karyawan perusahaan sang pembicara jadi relevan.

Bertanya omzet dan laba bersih, juga hanya relevan bagi petugas pajak yang menyamar jadi peserta. Atau agen lembaga zakat. Bagi kita yang bukan keduanya terus mau ngapain kalau tahu omzet hariannya ternyata milyar, laba bersih pertahunnya puluhan milyar. Sementara kita juga enggak punya saham di situ, kan cuman jadi sakit hati. Duhhh... atiit.

Ketika melihat sesuatu, respon manusia modern cenderung akan mengukur. Besar kecil, panjang pendek, cepat lambat dan seterusnya. Ukuran-ukuran kwantitatif yang seperti membuat sesuatu menjadi lebih pasti, lebih objektif.

Dalam konteks perusahaan kalau sudah diukur, lalu dianggap besar sizenya, lebih cepat pencapaiannya maka cara-caranya layak dikatakan berhasil. Dan karenanya bisa diambil formula atau SOP-nya untuk di-ATM. Amati tiru dan sedikit modifikasi. Dengan harapan bisa mencapai keberhasilan yang sama.

Tidak jauh beda juga dengan dunia pendidikan, ketika ada satu sekolah yang memiliki sekian banyak prestasi. Juara olimpiade, juara drumband, juara ini dan itu. Kemudian orang tua berbondong-bondong ingin menyekolahkan anak di sekolah itu. Karena menganggap sekolah di situ menjadi jaminan masa depan anaknya menjadi cerah.

Cara berpikir demikian, tampaknya modern. Tapi bukankah yang demikian itu mereduksi kehebatan manusia dengan segala potensinya, untuk kemudian diperlakukan hanya seperti mesin. Yang kalau diperlakukan begini maka hasilnya akan menjadi begitu. Lalu akan mengurangi daya kritis manusia, untuk mencoba dan menemukan hal-hal baru. Atau jangan-jangan ini konspirasi, agar kita tidak lagi kritis berpikir hal-hal baru. Tidak lagi berpikir besar. Agar mereka yang besar akan tetap menjadi besar.

Anis Matta mengajak kita untuk membawa Indonesia menjadi lima besar dunia. Satu gagasan yang relatif baru terutama dalam perspektif politik. Lalu kita bertanya bagaimana caranya? Dan Anis Matta memang cukup menjawab, mari kita temukan bersama. Karena kita bukan mesin yang cukup diset-up. Kita adalah manusia yang terus menerus harus berpikir dan mencoba.

#AyoGelorakanIndonesia
#Indonesia5BesarDunia

loading...