Kamala Harris, Perempuan Pertama Berkulit Hitam yang Menjadi Calon Wakil Presiden AS


Senator Kamala Harris akan menjadi calon wakil presiden dari Joe Biden, calon presiden dari Partai Demokrat. Kamala adalah Senator dari California. Dia adalah mantan Jaksa Agung California.

Kamala adalah perempuan pertama berkulit hitam yang menjadi calon wakil presiden dan perempuan ketiga  menjadi cawapres. Ayahnya seorang berkulit hitam dari Jamaica yang menjadi dosen di UCLA Berkeley dan ibunya berasal dari India.

Biden-Harris akan berhadapan dengan Donald Trump-Mike Pence. Untuk sementara ini, pasangan Biden-Harris memiliki keunggulan dua digit diatas Trump-Pence. Namun polling, sekalipun memberikan gambaran atas tentang preferensi pemilih saat ini, keadaan bisa berubah pada waktu pemilihan.

Jika terpilih, Biden akan menjadi orang tertua yang terpilih menjadi presiden. Dia berusia 78 tahun. Kampanye Presiden Trump sudah membuat ketuaannya menjadi masalah kampanye. Dia dituduh sudah pikun. Dan banyak pemilih mempertimbangkan keadaan ini.

Dengan keadaan ini, Kamala Harris sebenarnya menjadi sangat dekat dengan kursi kepresidenan. Dia harus bersiap kapan saja untuk menjadi presiden. Para pemilih juga menyatakan bahwa pilihan mereka terhadap Biden sangat tergantung pada siapa yang akan menjadi wakil presidennya.

Kamala Harris tampaknya menjadi pilihan paling aman untuk Biden saat ini. Dia moderat sekalipun mewakili kaum liberal San Fransisco yang elitis. Harris akan penting untuk memberikan simbolisme kesetaraan rasial yang akhir-akhir ini membuat orang turun ke jalan, khususnya untuk menuntut keadilan setelah kematian George Floyd.

Pilihan ini juga bukan tanpa kelemahan. Politik moderat Kamala Harris tidak sejalan dengan faksi progressive dalam partai demokrat, khususnya seperti yang diperlihatkan oleh anggota DPR dari New York, Alexandra Ostacio Cortez; Senator Bernie Sanders; dan Senator Elizabeth Warren. Faksi progresive adalah bagian paling militan dari partai demokrat. Namun pemilihan demi pemilihan menyatakan bahwa mereka tidak mampu menjadi mayoritas. Sekalipun demikian, tanpa mereka mustahil Demokrat bisa menang dalam pemilu.

Dengan keputusan memilih Kamala Harris ini, kampanye presiden Amerika sudah resmi dimulai. Rakyat Amerika akan memutuskannya pada 3 November.

Apapun hasilnya, jika Biden menang, satu hal yang pasti. Hampir mustahil kemungkinan Presiden Biden mengangkat Donald J. Trump menjadi menteri pertahanan dalam kabinetnya dan memberikan portofolio produksi pangan. Mustahil.

Penulis: Made Supriatma
(Sumber: fb)