Tentang Hagia Sophia dan Anies Baswedan


Tentang Hagia Sophia dan Anies Baswedan

Lho, apa hubungan Anies Baswedan dengan Hagia Sophia? Apakah beliau berperan dalam mengembalikan bangunan tersebut menjadi masjid? Kenapa bukan nama Erdogan yang disebut?

Tenang! Simak tulisan ini hingga selesai, agar Anda paham maksudnya.

Saya akan mulai dengan sebuah CERITA tentang “perkenalan” saya dengan Pak Anies Baswedan.

Hm… sejujurnya, kami tidak saling kenal. Saya tentu kenal beliau, dan beliau mungkin tidak kenal saya.

Saya pertama kali mengenal.. hm… mungkin lebih tepatnya melihat… sosok Pak Anies Baswedan di televisi belasan tahun lalu. Saat itu beliau masih berstatus sebagai dosen (atau rektor ya?) di Universitas Paramadina. Beliau tampil di sebuah acara TV, tapi saya lupa nama acaranya.

Saat itu kesan pertama saya adalah, “Ya ampun! Orang ini badannya gede banget!”.

Dan karena saya tahu bahwa Universitas Paramadina itu banyak dihuni oleh orang-orang sekuler, maka persepsi saya menduga bahwa beliau pun mungkin orang sekuler. Jadi walau di acara TV tersebut beliau terlihat sangat pintar dan cerdas, saya tidak menaruh kagum sedikit pun.

Lalu nama beliau kembali menarik perhatian saya ketika masuk menjadi tim sukses Jokowi. Saat itu, saya tentu tidak suka pada beliau, karena beliau termasuk orang yang rajin menyerang Prabowo.

Namun ada satu ucapan beliau yang ketika itu sering saya quote: “Karakter pendukung mencerminkan orang yang didukung.”

Sebenarnya, kalimat ini beliau tujukan untuk “menyerang” para pendukung Prabowo. Namun menurut saya, kalimat ini cocok untuk pendukung siapapun. Jadi setiap kali saya melihat perbuatan para pendukung Jokowi, maka saya gunakan kalimat tersebut untuk mengomentarinya.

* * *

Pandangan saya terhadap pak Anies Baswedan mulai berubah sejak beliau diangkat jadi menteri. Terlihat jelas bahwa beliau termasuk menteri yang paling berprestasi di Kabinet Jokowi. Rasa kagum mulai muncul. Dan saat beliau dipecat, rasa kagum tersebut pun makin besar.

Setelah itu, nama beliau pun hilang dari perbincangan publik. Masyarakat Indonesia ketika itu sibuk memperbincangkan nama-nama tokoh yang cocok menjadi Gubernur DKI.

Ada banyak nama yang muncul ketika itu, antara lain Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, dan beberapa nama lainnya. Nama Anies Baswedan sama sekali tidak muncul, dan sepertinya semua orang tidak ada yang kepikiran ke arah itu.

Lalu menjelang Pilkada, secara mengejutkan Gerindra dan PKS mendeklarasikan nama Sandiaga Uno dan Mardani Ali Sera sebagai Cagub dan Cawagub DKI.

Saya tidak terlalu paham bagaimana perkembangan politik setelah deklarasi tersebut. Yang jelas, tiba-tiba keduanya batal dicalonkan. Dan pada saat itulah nama Anies Baswedan muncul.

Beliau sama sekali tidak pernah mencalonkan diri. Beliau ditunjuk langsung oleh Prabowo. Dan mungkin karena faktor Prabowo itulah, hampir tak ada orang yang berani “melawan”. Semuanya nurut saja.

Maka, Anies Baswedan adalah pemimpin hasil proses DEMOKRASI yang tidak pernah mencalonkan diri. Padahal biasanya, semua calon pemimpin pada sistem demokrasi pasti mengawalinya dengan mencalonkan diri. Mereka bahkan mempersiapkan modal yang besar untuk keperluan kampanya, dan sebagainya.

Namun Anies Baswedan sungguh beruntung. Karena beliau tidak mencalonkan diri, dan tidak perlu menyiapkan modal kampanye. Beliau maju sebagai calon gubernur tanpa beban apapun.

Jadi jika hari ini kita melihat Pak Anies Baswedan tampil sebagai Gubernur DKI yang sangat tegas dalam memberantas kemaksiatan, berani melawan para konglomerat nakal, dan sebagainya, itu ANTARA LAIN karena beliau tidak punya beban tersebut. Beliau jadi gubernur bukan karena didanai oleh para konglomerat nakal.

* * *

Apakah Anies Baswedan merupakan pemimpin terbaik di Indonesia? Sebenarnya, menurut saya TIDAK JUGA. Masih banyak pemimpin yang sama baiknya atau justru lebih baik dibanding beliau.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa Anies Baswedan merupakan pemimpin yang paling dicintai, paling diterima dan paling diharapkan oleh rakyat Indonesia saat ini, termasuk oleh mereka yang bukan warga DKI.

Jadi tidak heran jika para pengkhianat bangsa sangat benci pada Pak Anies. Sebab mereka melihat pak Anies sebagai ancaman terbesar bagi kepentingan gerombolan mereka. Mereka tidak ingin jika Anies Baswedan sampai menjadi Presiden RI, seperti Erdogan di Turki (Padahal setahu saya, hingga hari ini Pak Anies Baswedan sama sekali belum ada niat untuk mencalonkan diri sebagai presiden).

Nah, saya sudah menyebut nama Erdogan. Artinya kita akan mulai membahas Hagia Sophia.

Alhamdulillah, hari ini umat Islam di seluruh dunia merasa sangat berbahagia, karena Hagia Sophia telah kembali menjadi masjid, dan ini merupakan hasil perjuangan rakyat Turki di bawah pimpinan Presiden Erdogan.

Banyak pihak yang mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan pertanda bahwa Kemenangan Islam sudah dekat, termasuk pembebasan Al Aqsa pun semakin dekat.

Di Turki, umat Islam sudah sangat beruntung, karena negara mereka yang dulu pernah disekulerkan, kini kembali menjadi negara yang menegakkan kemuliaan Islam.

Bagaimana dengan Indonesia?

Saya melihat bahwa situasi politik Tanah Air hari ini sangat mirip dengan Turki menjelang berakhirnya era sekularisme. Dan ketika Turki memasuki era baru, yakni era kejayaan Islam, maka lahirlah seorang pemimpin luar biasa bernama Erdogan.

Sampai di sini, Anda mungkin mulai bisa melihat benang merah antara Hagia Sophia dan Anies Baswedan.

Ya, entah kenapa, saya hari ini tiba-tiba kepikiran bahwa MUNGKIN Anies Baswedan adalah Erdogan-nya Indonesia.

Tentu saja, pernyataan saya ini lebih bersifat perkiraan dicampur sedikit harapan. Namun jika melihat:

(1) Perkembangan politik di Indonesia saat ini, yang memperlihatkan gejala-gejala awal kebangkitan Islam

(2) Lalu dihubungkan dengan kebangkitan Islam di Turki, termasuk pembebasan Hagia Sophia

(3) Lalu dihubungkan dengan sosok Anies Baswedan sebagai pemimpin yang paling dicintai oleh para pencinta kebenaran dan paling dibenci oleh para pencinta kemaksiatan

Maka, menurut saya, ada kemungkinan Islam akan segera berjaya di Indonesia, dan Anies Baswedan akan menjadi pemimpinnya.

Apakah dugaan saya ini benar? Tentu saja, mari biarkan waktu yang menjawabnya.

Jakarta, 25 Juli 2020

(Jonru Ginting)

Baca juga :