Gagalnya Kudeta Erdogan, Barat-AS-Timteng-Israel Kecewa


Usai menyaksikan seruan Presiden Erdogan di malam 15 Juli 2016, Omar Khalis Demir, perwira menengah Militer Turki menemui syahidnya, usai menembak kepala otak kudeta Turki. Hal yang cukup melumpuhkan nyali komplotan kudeta.

Sebuah upaya gagal. Jika saja berhasil, maka dunia akan gaduh dengan pesta pora di Emirat Arab, Mesir, Saudi Arabia, Bahrain, Israel, Perancis, Jerman, Inggris, AS, Rusia, dan belahan dunia lainnya.

Mengapa? Sebab kudeta di Turki telah direncanakan massif dan seksama. Terungkap dari berita-berita yang disampaikan media official, baik di Turki, Timur Tengah, AS, atau Eropa.

Sebulan sebelum kudeta, tepatnya tanggal 30/5/2016, majalah Kebijakan Luar Negeri AS menerbitkan artikel panjang tentang  "Kudeta Militer Turki yang akan Datang", yang secara tegas dan jelas memaparkan analisa kudeta terhadap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.

Dua hari sebelum upaya kudeta gagal, khususnya pada hari Rabu 13/07/2016, Perancis menutup Kedubesnya di Ankara dan Konsulatnya di Istanbul karena "alasan keamanan", lalu secara mendadak membatalkan perayaan Perancis yang dijadwalkan pada 14/07/2016.

Negara-negara Barat dan Amerika Serikat tetap diam pada jam-jam pertama upaya kudetakudeta.  Padahal biasanya sigap dan cepat mengutuk setiap kudeta atas nama demokrasi, kebebasan, pilihan rakyat, dan slogan-slogan lainnya.

Kedutaan Besar AS di Ankara, tepat pada jam-jam upaya kudeta pertama, menyiarkan pesan di situs resminya memperingatkan warga Amerika akan terjadinya aksi anarkisme sehubungan dengan apa yang digambarkan sebagai "pemberontakan" di Turki.

Dalam sebuah analisis oleh The Washington Post, penulis Karen De Young dikutip oleh pejabat Departemen Pertahanan AS (yang menolak disebutkan namanya) mengatakan bahwa mereka "mengetahui apa yang sedang terjadi di Turki, tetapi mereka masih berusaha untuk menentukan efeknya pada kebijakan AS".

Dia mencatat bahwa Gedung Putih menunggu berjam-jam sebelum mengeluarkan pernyataan keras menentang kudeta di Turki. Sementara itu pihak Barat secara formal mempertahankan keheningan yang diterapkan secara formal - media Barat memulai kampanye yang jelas dan mendukung kudeta dengan segala dalihnya, serta menyerang Presiden Turki dan kebijakannya.

BBC misalnya, memilih judul: "Presiden Turki yang Tak Punya Empati dan Belas Kasihan" untuk mengungkapkan keadaan psikologis dan frustrasi yang mereka raih dengan kegagalan kudeta. Terlebih, Erdogan mulai melakukan Operasi penangkapan terhadap pelaku kudeta.

CNN Amerika,  melangkah lebih jauh. Pada jam-jam awal kudeta, CNN menjadi tuan rumah sekelompok intelijen dan tokoh-tokoh militer yang seakan mengarahkan para pelaku kudeta supaya kudeta berhasil. Misalnya menyarankan: merebut kantor berita Turki, memutuskan internet dan jaringan telekomunikasi.

Arahan langsung dibagikan oleh Robert Bear (mantan perwira CIA dan penasihat dalam beberapa kudeta sebelumnya), James Wasley (mantan direktur CIA), pensiunan jenderal Wesley Clark (mantan komandan NATO di Eropa).

Jangan ditanya kegembiraan media Timur Tengah. Salah satu TV Mesir yang didanai Emirat dan Saudi, malah menayangkan kudeta 4 jam sebelum kudeta itu terjadi.

Mengapa Erdogan harus dikudeta? Jawabannya seperti ditulis Washington Post, "Erdogan akan lebih rumit jika dibiarkan berkuasa terlalu lama". Sebab desain mereka adalah: menjadikan negeri Muslim terbesar seperti Mesir, Saudi, Turki, dan juga Indonesia dalam genggaman boneka.

Nampaknya, analisa WP benar. Usai kudeta gagal, Erdogan seperti berada di landasan pacu, berpacu dalam melodi grand narrative: menjadikan Turki kekuatan besar dunia. Plus menjadi satu-satunya penghalang atas suksesi proyek The Deal of Century, yang menjadikan Palestina hanya seongok nama dan menghambat proyek Israel Raya.

Hari ini berlangsung peringatan 15 Juli kudeta nan gagal. Saya sempat menghadirinya di tahun 2018. Semoga nanti diundang kembali.

15 Juli 2020

(By: Dr. Nandang Burhanudin)

loading...