Kesepakatan Penting Turki-Lybia

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pertemuan dengan Fayez al-Sarraj, Kepala Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya. 27 November 2019. 

[PORTAL-ISLAM.ID] Dewan Tinggi Negara Libya mengelu-elukan sebuah memorandum tentang batas maritim di Laut Mediterania Timur yang penting untuk mengamankan sumber daya alamnya.

"Pemerintah Libya yang diakui PBB berhak menandatangani kesepakatan dengan negara mana pun untuk menjamin keamanan negara dan melindungi sumber dayanya," kata Dewan Tinggi Negara Libya dalam sebuah pernyataan.

Pada 27 November 2019, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengadakan pertemuan tertutup dengan Fayez al-Sarraj, Kepala Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya yang berbasis di Tripoli (Arabic: حكومة الوفاق الوطني‎), di Istana Dolmabahce, Istanbul.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam dan 15 menit, perjanjian "Keamanan dan Kerja Sama Militer" dan "Pembatasan Yurisdiksi Laut" ditandatangani oleh kedua negara.

Libya, negara kaya minyak, dilanda gejolak sejak 2011, ketika Muammar Gaddafi digulingkan dan dibunuh dalam pemberontakan yang didukung NATO setelah berkuasa selama empat dekade.

Sejak itu, muncul dua kursi kekuasaan yang saling bersaing, satu di Libya Timur, dan satu lagi berbasis di Tripoli.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bentrokan antara kedua pihak telah menewaskan lebih dari 1.000 orang dan melukai sekitar 5.500 lainnya.

Kesepakatan Penting

Perjanjian ini bukti nyata bahwa langkah Turki untuk mengayomi negara-negara muslim semakin sulit dihentikan.

Yunani dan Mesir meradang atas kesepakatan tsb. Bahkan Yunani usir Dubes Libya di Athena. Tapi Erdogan katakan: Kami berhak melakukan apapun di tanah air kami dan As-Sisi tidak berhak bicara apapun, dia tidak ada harganya bagi kami.

Setelah Qatar, sekarang giliran Libya yang dilindungi Turki. Perebutan kekusaan antara rezim sah Pemerintah Kesepakatan Nasional Libya (Al Wifaq) melawan pemberontak Jenderal Haftar masih berlanjut di Libya. Al Wifaq didukung Turkey, Qatar dan Italy. Haftar didukung Saudi, UEA dan Perancis.

Peta politik dunia terutama Kawasan dan Timteng akan berubah drastis. Kita akan menyaksikan munculnya pemain utama yang relatif baru dan gesekan akan semakin keras. Yang tidak siap akan tergilas.

Banyak yang bertanya, apa konsekuensi kesepakatan Turkey-Libya di laut Mediterania ini ke depan. Ini kesepakatan sudah bikin ribut Eropa dan Timteng dalam beberapa hari ini.

Kesepakatan batas pantai hanya sebagian dari semua isi kesepakatan. Yang paling penting dari perjanjian ini adalah perjanjian kerja sama militer antara Turki dan Libya.

Setelah isi kesepakatan dikirim ke PBB maka keberadaan militer Turki di wilayah laut Libya akan menjadi sah secara hukum internasional. Termasuk operasi militer yang dilakukan Turki di sana.

Minyak dan Gas Libya saat ini sedang jadi incaran dunia. Negara-negara kuat berlomba mendapatkannya. Ketika Libya tanda tangani kesepakatan dengan Turki artinya Libya sudah memilih siapa yang sah menjaga sumber daya alamnya.

Perancis, Israel dan Yunani adalah pemain utama dalam memburu kekayaan laut Mediterania yang sebagian besar dikuasai Libya. Maka wajar ketika Libya membuat kesepakatan tiga negara ini marah. Yunani sampai usir Dubes Libya dari Athena saking marahnya.


Jika kesepakatan ini berjalan mulus maka Turki tidak hanya diuntungkan dari sisi ekonomi tapi juga dari sisi politik. Negara-negara besar seperti Perancis atau Rusia akan semakin hati-hati bersikap terhadap Turki.

Di internal Turki, kesepakatan dengan Libya sudah disetujui dewan. Tinggal sekarang masalahnya bagaimana penerimaan dunia. Saya rasa ini akan sangat sulit bagi Erdogan karena tekanan tidak hanya dari dua tiga arah.

Saya rasa ini akan sangat sulit bahkan beberapa negara siap berperang demi gagalnya kesepakatan ini. Laut Mediterania akan menjadi medan perang baru jika kekuatan Turki di sana “nanggung”.

Tapi Erdogan tipe pemimpin emang “bandel”. Dia dengan lantang katakan bahwa keamanan wilayah Libya sama pentingnya dengan keamanan Turki. "Kami sama sekali tidak akan surut," tegas Erdogan.

Yah mungkin ini waktunya Erdogan balas jasa pada Libya. Ketika Turki menyerbu Cyprus tahun 1974, sanksi ekonomi dan militer diberlakukan terhadap Turki. Tidak satupun negara yang berani berhubungan dengan Turki kecuali Libya. Ini hutang sejarah yang mungkin ingin dilunasi Erdogan.

Erdogan salah satu pemimpin dunia yang saya lihat paling rasional. Kalau hanya Turki sendiri di laut Mediterania menjaga Libya maka akan kelabakan jika perang meletus. Tapi kabar yang saya dapat Turki udah punya deal2an dg beberapa negara kalau situasi memaksa terjadinya perang.

(By @hasmi_bakhtiar)