Kelakuan Menteri Agama mengingatkan pada Snouck Hurgronje


Oleh: Yusuf Maulana
(Pustakawan Samben Library)

Kelakuan Menteri Agama rezim hari ini hanya perlu sekian detik mengingatkan pada wajah Syekh Abdul Gaffar al-Batavia. Juga ketika seorang kawan yang petugas intelijen negeri ini “sewot” manakala membaca poin utama di teks pengukuhan guru besar Dr Haedar Nashir: yang menyebut keharusan (negara) melakukan moderasi alih-alih deradikalisasi. Menteri Agama dan kawan tadi, termasuk para perancang isu radikalisme Islam (Don Hendro, Don Tito, Don Mere) itu memang satu komunitas epistemik, dan—sadar ataupun tidak—penganut “kaaffah” Syekh Abdul Gaffar.

Untuk memberikan latar siapa Abdul Gaffar, berikut dikutipkan teks di buku Mufakat Firasat (2017). Dan untuk menyelami ajaran Syekh Abdul Gaffur, dipersilakan mengunduh nasihat-nasihatnya yang “abadi” hingga kini di tautan pada bagian bawah status ini.

* * *

Abdul Gaffar, alias Christiaan Snouck Hurgronje, memang sosok cerdas. Pengetahuan Islam dan penampakan keislamannya begitu meyakinkan. Ia seperti terobsesi dengan orang-orang Islam hingga rela melepaskan jabatan sebagai lektor di Universitas Leiden demi mengabdikan pengetahuan keislamannya ke negeri jajahan: Hindia Belanda. Sayangnya, pengabdian itu bukan sebagai ilmuwan murni, tetapi juga penerapan wajah Snouck Hurgronje sebagai politikus.

Menginjakkan kaki ke Batavia kali pertama pada 11 Mei 1889, Snouck Hurgronje ditugasi meneliti suku Aceh dengan pintu masuk menyamar dari Penang. Menurut Sartono Kartodirdjo dalam kolom “Surat dari Wassenaar”, kehadiran Snouck Hurgronje masih berkaitan dengan upaya kolonial Belanda memadamkan ekses pemberontakan Cilegon Banten (Kompas, 3 Januari 1982). Meski pemberontakan para petani di Banten mereda, di seberang pulau masih ada pertempuran yang tidak jelas kapan usai. Peperangan di Aceh tak dapat diperkirakan kapan berakhir. Padahal, para pejabat Belanda sudah banyak terkuras pikiran dan dana, belum lagi hilangnya nyawa para prajurit pemberani.

Pengetahuan selama di Mekah amat membantu tugas Snouck Hurgronje memecahkan cara memadamkan perlawanan umat Islam Aceh. Kedekatannya dengan para ulama, yang menyangka ia Muslim bahkan sosok alim pula, amat menguntungkan. Kelak nasihat-nasihatnya kepada penguasa kolonial mampu menghentikan perlawanan bersenjata tidak hanya rakyat Serambi Mekah tapi juga di negeri bernama Indonesia nantinya.

Sebagai Penasihat Bahasa-bahasa Timur dan Hukum Islam bagi penguasa kolonial Belanda, peran yang dimainkan di Hindia Belanda bisa saja dipandang sebagai tanggung jawab seorang pegawai atau bawahan. Akan tetapi, melihat kedudukannya sebagai akademisi, persoalannya menjadi lain. Cara kerja Snouck Hurgronje melakukan penyamaran, spionase, atau dalam bahasa lebih halus counter-insurgency, dengan mengaku sebagai Muslim, kelak menerbitkan banyak kritikan di kalangan akademisi di negerinya sendiri. Nasihat-nasihat yang diberikannya tidak lagi untuk kemajuan ilmu pengetahuan, tetapi mengabdi pada kolonialisme. Meskipun tentu saja Snouck Hurgronje merasa melakukannya sebagai tindakan tepat, benar, dan sesuai ilmu yang diperolehnya.

Tautan unduh lengkap Nasihat-nasihat Syekh Abdul Gaffar: https://drive.google.com/drive/folders/1XdXbftFlbn2F4_2V-yfmnM8UL-qN1DYa (bebas bagikan)

*Sumber: fb penulis
Syekh Abdul Gaffar Kelakuan Menteri Agama rezim hari ini hanya perlu sekian detik mengingatkan pada wajah Syekh Abdul...
Dikirim oleh Yusuf Maulana pada Kamis, 12 Desember 2019