Rayuan Maut Opung Luhut


[PORTAL-ISLAM.ID]  Perdana Menteri de facto Luhut Binsar Panjaitan sedang melancarkan rayuan maut untuk capres Prabowo Subianto.

Sebagai “utusan” Jokowi dia mengaku ingin bertemu dengan Prabowo bukan untuk deal-deal politik. Dia justru ingin membuat Prabowo menjadi seorang tokoh terhormat dan dikenang rakyat Indonesia dengan baik.

“Saya ingin Pak Prabowo dikenang dalam sejarah Indonesia sebagai seorang demokrat yang hebat, bapak demokrasi dan patriot yang hebat,” ujar dia di Kantor Pusat Blue Bird, Jakarta, Senin ( 22/4).

Pujian Luhut ini hanya basa-basi, taktik kuno. Ada maksud tersembunyi di balik pujian. Ada lobster di balik kerikil. Seperti orang yang bersembunyi di balik sebatang jerami.

Orang Batak menyebutnya “Jempek do pat ni gabus.” Kaki kebohongan itu pendek. Sepandai-pandai orang menutupi kebohongan, bau busuknya akan tercium juga.

Kalau melihat peran Luhut selama ini. Dia bukanlah “utusan” Jokowi. Tapi malaikat pelindung Jokowi. Dia beraksi ketika melihat asuhannya dalam posisi berbahaya.

Dia memanfaatkan kedekatannya dengan Prabowo, melakukan manuver untuk menundukkan mantan anak buahnya di Kopassus TNI AD.

Bukan sekali ini Luhut bermanuver. Media mencatat pada April 2018 Luhut juga menemui Prabowo. Targetnya menjadikan Prabowo sebagai cawapres Jokowi. Kalau berhasil menggaet Prabowo, Jokowi akan menjadi capres tunggal.

Tawaran ditolak. Kepada media Luhut mengaku mendorong Prabowo sebagai capres. Dalam kalkulasi politik Luhut kalau gagal dirangkul, Prabowo harus didorong jadi capres. Lebih mudah dikalahkan.

Pikiran Luhut tidak jauh-jauh dari itu. Dengan berbagai cara dia akan bekerja sekeras mungkin tetap menjadikan Jokowi sebagai presiden.

Agenda pertemuan dengan Prabowo kali ini pasti tidak jauh-jauh ingin menawarkan konsesi kepada Prabowo. Sudahlah tidak usah terus melakukan perlawanan. Gerindra akan mendapat jatah menteri yang cukup banyak di kabinet Jokowi. Bisnis Hashim adik Prabowo juga akan dijamin.

Tapi tawaran Opung ini pasti akan ditolak. Persis seperti ketika Prabowo menolak tawaran menjadi cawapres Jokowi. Untuk apa Prabowo menerima tawaran Luhut. Secara de facto dia sudah menjadi presiden. Tinggal menunggu secara de jure.

Sikap ini sangat mengkhawatirkan Luhut dan gerombolan pemburu rente politik dan bisnis yang selama ini bersembunyi di belakang Jokowi.

Kesimpulannya, Luhut ingin bertemu Prabowo bukan sebagai utusan Jokowi. Dia datang atas kepentingan dirinya sendiri dan gerbong besar di belakangnya.

Luhut lah yang selama ini yang berkuasa. Bukan Jokowi. Kalangan dalam istana paham betul Luhut memanggil Jokowi dengan panggilan “Bapak Presiden” hanya di depan umum. Bila berdua dia cukup memanggil dengan kata “situ.”

Panggilan “situ” ini sudah cukup sopan. Jauh sebelumnya ketika Jokowi masih menjadi Walikota Solo, Luhut memanggil Jokowi cukup dengan kata “kau.”

Luhut merasa superior karena dia pensiunan jenderal, orang pusat. Jokowi hanya kepala daerah di kota kecil Solo. Pola hubungan atasan bawahan itu masih terus berlangsung sampai sekarang, kendati Jokowi sudah menjadi presiden.

Di Youtube saat ini sedang beredar sebuah film dokumenter berjudul Sexy killer. Film yang bercerita gurita bisnis Luhut itu sudah ditonton 18 juta pemirsa. Di film itu terungkap Jokowi pada tahun 2009 pernah mendirikan perusahaan patungan dengan Opung.

Perusahaan itu bernama PT Rakabu Sejahtera. Pemegang sahamnya keluarga Jokowi dan PT Toba Sejahtera milik Luhut. Gibran Rakabuming putra sulung Jokowi tercatat sebagai pemegang saham dan komisaris.

Perusahaan ini bergerak di bidang mebel, dan kayunya mendapat suplai dari perusahaan HPH milik Luhut.

Jokowi sering sowan ke Luhut di kantornya Wisma Bakrie II, Jakarta. Di Gedung ini berkantor sejumlah pensiunan jenderal teman-teman Luhut seperti Jenderal Fachrurozi, dan Letjen Suaidi Marasabessi. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawangsa ketika masih menganggur juga berkantor disitu.

Menjelang Pilgub DKI 2012 Jokowi diketahui beberapa kali menemui Luhut di Wisma Bakrie II. Sekarang kurang lebih Luhut bicara ke Jokowi. “Sudahlah situ tenang saja. Prabowo akan saya urus!

Penulis: Anggiat Situmorang
Loading...