FATWA ANJING PAK KYAI


FATWA ANJING PAK KYAI

Siang itu kampung Situ Gunung lagi heboh. Ada seekor anjing mati. Tapi yang bikin heboh bukan gegara matinya anjing. Tapi Si pemilik anjing yg bersikeras mengkafani anjingnya & menyolatkannya di Mushola kampung. Tentu saja penduduk kampung menolak keras permintaan itu.

Untuk merendahkan tensi yang memanas sekaligus untuk menyelesaikan permasalahan baik², dipanggillah seorang Kyai kondang di kampung itu. Kyai tersebut akan dimintakan fatwanya.

Begitu tiba di TKP, Kyai langsung bertanya, "Mana pemilik anjing yg sudah dikafani ini?" .

Seorang pria maju berkata, "Saya pak Kyai".

"Atas dasar apa kamu minta anjing itu dikafani & disholatkan sebelum dikubur? Dia kan binatang. Selain itu tak ada ajarannya dalam agama kita menyolatkan binatang mati!" Tegas Kyai.

Dengan terbata² pemilik anjing berucap, "T..t..tapi Kyai, ini adalah wasiat dari anjing saya".
.
"Bohong kamu... Itu tdk mungkin. Mana mungkin anjing bisa berwasiat!" Sergah pak Kyai.

"Selain itu anjing saya ini juga berwasiat agar saya menyerahkan uang 100juta kepada yg menjadi imam sholatnya," jawab pemilik anjing melanjutkan kalimatnya yg terpotong.

Tak diduga, sang Kyai tiba² berkata, "Jika demikian, siapkan proses sholat mayyit & ajak warga untuk menyolatkan anjingmu itu".

Tentu saja warga semakin heboh demi mendengar jawaban Kyai yang demikian absurd. Tapi warga tak ada yang berani menentang Kyai kondang tersebut. Merekapun berbaris di belakang Kyai membentuk shaf sholat jenazah.

Setelah selesai sholat, ada seorang warga yang memberanikan diri bertanya pada Kyai, "Pak Kyai, nuwun sewu... Kenapa pak Kyai jadi berubah pikiran dan setuju untuk menyolatkan anjing itu?".

"Setelah saya telisik dengan seksama, ternyata anjing itu masih memiliki nasab mulia dari anjing milik pemuda Ashabul Kahfi," jawab Kyai mengambil nafas panjang.

Wargapun hanya bisa mengangguk²kan kepalanya, entah tanda mengerti atau sekedar ikut²an saja.

Terkadang rusaknya agama bukan karena tak ada lagi yang memahami atau mengetahuinya. Tapi justru datang dari orang² yang lebih faham namun karena desakan kebutuhan duniawi, maka ia rela mengorbankan ajaran agamanya demi tercapainya ambisi walaupun harus menyesatkan orang banyak.

by @IndonesiaBertauhid