'The Man Of Horror' yang Kerdil


[PORTAL-ISLAM.ID]  Presiden Joko Widodo berbohong lagi. Lagi? Ya, lagi. Capres, yang dijuluki oleh para pendukungnya di Jawa Timur dengan panggilan Cak Jancuk, itu kembali menebar kebohongan saat berbicara di hadapan pendukungnya di sentul, Ahad malam, 24 Februari silam. Lagi-lagi banyak data yang disampaikan ngawur dan ngasal.

Sepertinya, sulit bagi Cak Jancuk untuk tidak menebar hoax dan kebohongan. Yang monumental, perilaku itu dilakukan saat Debat Capres kedua, 17 Februari lalu. Dia berbohong soal tidak adanya kebakaran hutan selama pemerintahannya berlangsung.

Mantan tukang mebel itu juga berdusta dengan mengatakan malam-malam pukul 24.00 pergi hanya berdua dengan sopirnya ke perkampungan nelayan Tambak Lorok, Semarang. Mana mungkin Presiden pergi malam-malam hanya berdua dengan sopir. Emangnya Paspampres pada pensiun berjamaah?

Presiden, yang doyan mengambil alih kerjaan Camat dalam membagi-bagikan sertifikat lahan itu, pun berbohong dengan mengatakan tidak ada sengketa pembebasan lahan dalam pembangunan infrastruktur. Kebohongan lainnya, dia menyebut impor jagung yang turun menjadi hanya 180.000 ton pada 2018.

Penggemar memelihara kodok yang oleh Ketum PDIP Megawati disebut sebagai Petugas Partai tersebut juga menebar banyak hoax pada debat Capres kedua. Antara lain, dia mengklaim dengan dana desa Rp180 triliun, pemerintahnya telah membangun 191.000 km jalan desa dan 58 ribu unit irigasi. Waktu publik mempertanyakan akurasi datanya, dengan enteng dia mengatakan ‘ukur saja sendiri.’ Sungguh jawaban yang benar-benar norak sekaligus menunjukkan kualitas si penjawab.

Capres yang kerap melabrak larangan kampanye dengan membawa cucunya itu juga menyebut, produksi kelapa sawit 46 juta ton/tahun. Faktanya, berdasarkan data BPS, produksi sawit tidak sebesar itu. Pada 2015 produksinya 26,5 juta. Selanjutnya pada 2016 dan 2017 masing-masing 31,5 juta ton dan 34,4 juta ton.

Hobi berbohong itu ternyata diulangi lagi saat di Sentul. Bukan itu saja, dia juga banyak mengklaim keberhasilan, termasuk soal dana desa yang sama sekali bukan karyanya. Ini artinya, pada saat yang sama Cak Jancuk eksistensi pihak lain yang jelas-jelas berjasa atas lahirnya UU Dana Desa. Padahal, dana desa adalah amanat UU Desa. Alokasi dana desa lebih dari Rp1 miliar per desa yang disahkan 2013. Kalau tidak ada UU, Widodo tak bisa bagi-bagi uang, itu bisa kena tuduhan korupsi.

Kesal dan geram

Keruan saja taburan kebohongan dan hoax yang lagi-lagi Jancuk lakukan menuai protes rakyat, khususnya di dunia maya. Mereka merasa kesal dan geram. Akun @KakekKampret_: misalnya, menulis kebohongan jokowi malam ini soal kebakaran hutan, konflik agraria, import jagung dan dana desa adalah sebuah HOAX yang sangat berbahaya, bagaimana negara dikelola dengan kebohongan..?

Bukan hanya netizen, tak kurang dari ekonom senior Rizal Ramli pun menyatakan kekecewaannya yang amat dalam. Menurut Menko Perkonomian era Presiden Gus Dur itu, pidato Widodo di Sentul banyak sekali data ngasal, ngawur, dan cendrung Hoax.

RR, begitu dia biasa disapa, berpendapat kebohongan yang diulang-ulang tadi terjadi karena kebiasaan Widodo yang doyan mengklaim prestasi secara berlebihan (over-claims). Ditambah dengan para pembantu di lingkaran dalamnya yang bermental ABS (Asal Bapak Senang), maka rakyat terus-menerus disuguhi kebohongan dan tebaran hoax dari istana. Benar kata Rocky Gerung, produsen hoax dan kebohongan yang sempurna adalah penguasa.

Oya, ngomong-ngomong, terhitung sejak Senin, 25 Februari 2019, Rizal Ramli menyatakan berhenti menyebut mantan Walikota Solo itu dengan mas Jokowi. Sebagai gantinya, dia menyebut dengan Widodo atau Presiden Widodo.

Entah apa yang menjadi penyebab RR emoh menyebut mas Jokowi lagi. Padahal, selama ini mereka bersahabat dekat. Baik saat di dalam maupun lingkaran kekuasaan, Cak Jancuk kerap meminta nasehat dan saran-saran dari Rizal Ramli, terutama untuk soal-soal terkait ekonomi bangsa. Ketika menjadi Menko Kemaritiman pun, di sidang kabinet RR sering memberi pendapat dan saran menyangkut persoalan seputar makro ekonomi.

Tentu saja, hanya RR yang tahu persis alasannya tidak mau menyebut Jokowi lagi. Tapi, bisa jadi hal itu disebabkan sikap Jancuk yang justru mengkhianati  Trisakti yang jadi jualan kampanye Capresnya pada 2014 silam.

Kegagalan Widodo untuk mencapai kedaulatan pangan dan kedaulatan keuangan terjadi, kata RR, karena tidak adanya konsistensi antara tujuan, strategi, kebijakan, dan personalia. Tujuan untuk mencapai swasembada pangan, misalnya, dikhianati dengan kebijakan impor ugal-ugalan dan penunjukan pejabat yang doyan rente (rent seekers).

RR menilai Widodo ternyata orang yang kerdil. Penilaian tersebut disematkannya karena di Sentul, Jancuk kembali menyinggung soal pengembalian konsesi lahan. Dalam pidatonya, Widodo menyatakan bahwa menunggu pengembalian konsesi lahan besar kepada negara untuk diberikan kepada rakyat.

Dia memang tidak menyebutkan identitas orang yang dia tunggu mengembalikan konsesi lahan. Namun, publik tentu paham benar, bahwa yang dia maksud adalah Prabowo Subianto. Pasalnya, Capres nomor 02 itu menyatakan siap mengembalikan lahannya jika negara membutuhkan

“Saya mohon maaf, pidato seperti itu menunjukkan Presiden Widodo kerdil, karena pemilik tanah paling besar ada di sekitarnya. Kalau mau, semua tanah besar dibagikan kepada rakyat. Jadi jangan kerdil jadi Presiden. Makanya saya mulai kesal. Presiden itu the man of honor, orang yang sangat dihormati. Harusnya kebijakannya berlaku untuk semua, bukan orang per orang,” papar Rizal Ramli.

RR benar. Presiden adalah jabatan yang sangat prestisius. Hanya orang-orang terhormat yang layak menyandangnya. Presiden adalah the man of honor. Tapi, dengan kebohongan dan hoax yang terus dia tebarkan, dengan pengingkaran terhadap janji-janji kampanye, dengan pengkhianatan terhadap Trisakti, maka Cak Jancuk lebih cocok dilabeli the man of horror.

Sebagai orang Jawa, berubahnya sapaan RR Mas Jokowi ke Widodo atau Presiden Widodo, mestinya menjadi kode keras bagi juara dalam membuat negara berutang hingga lebih dari Rp1.600 triliun. Kenyataan ini bisa dimaknai dengan berakhirnya, minimal renggangnya, hubungan persahabatan kedua belah pihak. Elo bukan temen gue lagi, begitu kira-kira dalam Bahasa Betawinya.

Tapi persoalannya, adakah Cak Jancuk bisa menangkap kode keras tersebut? Atau, masihkah dia peduli dengan hal-hal seperti itu? Kalau melihat gelagat dan kelakuannya akhir-akhir ini, sangat mungkin di benaknya sudah berjubel bagaimana caranya dia bisa berkuasa satu periode lagi. EGP alias Emang gue pikirin! Begitulah kira-kira…

Jakarta, 26 Februari 2019

Penulis: Edy Mulyadi