Muhammadiyah dan Maulid Nabi: BERFIKIR RASIONAL & ANTI-FEODAL


by @Fahrihamzah

Ada beberapa hari penting di bulan ini rupanya. Setelah memperingati Hari Pahlawan tanggal 10 November, kemarin 18/11/2018 Persyarikatan Muhammadiyah berulang tahun ke-106. Lalu hari ini 20 November rupanya bertepatan dengan #MaulidNabi1440H #MuhammadSAW #12RabiulAwal

Pada kelahiran Muhammadiyah dan Maulid Nabi Muhammad SAW ada satu garis lurus yang ingin saya bagi. Sesuatu yang saya rasakan sebagai murid sekolah Muhammadiyah di Sumbawa selama 12 Tahun. Saya mengenyam MIM, SMPM, dan SMAM. Di sini saya belajar tentang karakter.

Setiap kelas di sekolah Muhammadiyah kami diajarkan bagaimana mencontoh Nabi Muhammad SAW dalam segenap kehidupan sebab Muhammadiyah itu berasal dari kata “Muhammad” yang dinisbahkan kepada Rasul terakhir Muhammad SAW dan “Iyah” yang berarti “pengikut”.

Singkatnya, sebagaimana muslim di manapun berada, Pergerakan Muhammadiyah adalah pergerakan Islam seperti NU, Persis, NW, dll yang ada di Indonesia atau organisasi lain yang ada di seluruh dunia. Tidak ada ajaran lain, semua bersumber dari Quran dan Sunnah murni.

Para pendiri Muhammadiyah sangat terinspirasi oleh surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi: Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Maka tumbuh lah Pergerakan dan Persyarikatan Muhammadiyah yang lahir jauh sebelum Republik ini punya nama. Ya, 18/11/1912 Masehi bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 Hijriah. Berusia 106 tahun jika memakai tahun Masehi dan berusia 110 Tahun jika memakai tahun Hijriah.

Dan yang saya ingin bagi bahwa di Sumbawa, tempat keluarga saya mengharuskan saya bersekolah di sekolah Muhammadiyah sejak kecil saya dididik 2 sikap utama yang mengalir dalam diri saya hingga sekarang: berpikir rasional dan menentang feodalisme.

Itulah yang saya petik dari sekolah Muhammadiyah dan yang saya mengerti dari mengikuti Sunnah Nabi Muhammad SAW. Kyai Ahmad Dahlan sang pendiri dikenal sebagai pencerah, yang selalu ingin keluar dari gelapnya TBC Takhayul, Bid’ah dan Khurafat sebagai penyakit malas berpikir.

Sementara memang Muhammadiyah dikenal sebagai organisasi modernis yang mendekati banyak persoalan secara rasional. Para pendiri Persyarikatan ini percaya bahwa kemajuan bisa kita dapatkan dengan berpikir dan bertindak lebih rasional dan modern.

Jika kita tarik jauh kepada ajaran Nabi Muhammad SAW juga sebagai penafsir wahyu Ilahi juga demikian. Bagaimana pentingnya akal dan ilmu sehingga ayat pertama yang diturunkan dalam Alquran adalah perintah membaca, “Iqra’”. Membaca adalah pintu ilmu dan pengetahuan.

Sekolah Muhammadiyah juga mengajarkan saya nilai #AntiFeodal, suatu budaya yang cukup kental dalam kehidupan masyarakat kita yang agraris. Kedua nilai ini; rasional dan anti feodal itu sejalan. Sebab salah satu akar feodalisme adalah masa lalu kaku tanpa pembaruan.

Saya menikmati mempelajari ajaran #AntiFeodal ini pada perilaku Nabi Muhammad SAW yang terbuka dan egaliter. Beliau adalah manusia pilihan menjadi nabi terakhir tapi beliau tidak pernah sok paling terpilih apalagi merasa paling benar. Beliau terbuka menerima saran.

Beliau Nabi Muhammad SAW menyebut orang di sekitarnya sebagai sahabat, bukan bawahan atau sebutan lain yang menandakan beliau lebih tinggi. Beliau tidak suka dihormati berlebihan. Beliau marah ketika masuk ruangan semua orang berdiri atau membungkukkan badan.

Beliau tidak gampang marah, tidak gampang tersinggung, tidak gampang ngambek dan patah arang. Dada Nabi Muhammad SAW lapang bagi siapa saja yang datang kepadanya bahkan untuk marah dan mengumumkan permusuhan. Berkali musuhnya takluk dalam kebesaran jiwanya.

Rasanya, itulah makna penting dua peringatan yang dekat ini; Milad Muhammadiyah ke-106 dan Maulid Nabi Muhammad SAW yang datang hampir bersamaan. Kita beruntung lahir di negeri ini, kita punya kesempatan belajar dari masa lalu yang gemilang.

Semoga Jaya Persyarikatan Muhammadiyah dalam usia ke-106 ini dan semoga Allah SWT terus memberi kita kekuatan untuk mencontoh Nabi Muhammad SAW dalam segala amal dan perbuatan. Dengan itu semoga Republik ini banyak belajar menuju kejayaan. Amin.

(Dari twitter @Fahrihamzah)