Fahri Hamzah: Pemberantasan Korupsi Jokowi Gagal, Apakah Prabowo Mampu?


by @Fahrihamzah

Saya baca Konpers, dengar (pihak TK) ternyata Penyidik belum dapat menemukan siapakah figur “antok” atau “Anton” yang menerima uang dari Sekda dan mengantarkan uang ke TK (Taufik Kurniawan), Sekda lupa dan TK gak kenal...(karena penyerahan di hotet tanpa CCTV).  Tapi TK ditahan...

Ada banyak orang seperti TK, disebut namanya di ruang sidang, tapi ada yg diteruskan dan ada yang tidak. Ada bahkan yang ketahuan rekeningnya terisi secara misterius...tapi @KPK_RI menganggap itu bagian dari hak-nya untuk mengambil keputusan dan #TebangPilih.

Bahkan ada pakar hukum yang membenarkan #TebangPilih ala KPK dengan dasar kekurangan penyidik, dll. Sehingga, ini jadi tontonan pengalih perhatian dari kasus ke kasus. Kasus besar; #SkandalCentury, #BLBI, #Reklamasi, #Meikarta, #Sumberwaras, #Pelindo2, dll redam.

Penegakan hukum akhirnya menjadi permainan undi nasib, semua ditahan oleh munculnya OTT dan OTT yang entah sampai kapan. Orang-orang ditangkap untuk memenuhi sensasi. Ada banyak orang ditahan tanpa pemeriksaan. Lalu kasusnya menghilang dari pemberitaan. RJ Lino di mana? #TebangPilih

Saya  ingin menyoroti peran media. #JurnalismeTIPIKOR yang sungguh mulai mencurigakan saya. Mereka terlibat dalam irama mengolah pemberitaan. Mereka mahir sekali mengolah kasus baru, menutup kasus lama, bekerjasama dalam pembocoran dokumen, dan membuat SETTING..

Saya justru mencurigai adanya kolaborasi menjadikan penegakan hukum di bidang Tipikor dengan #JurnalismeTIPIKOR yang akhirnya mengubah #PenegakanHukum menjadi sensasi pemberitaan semata. Dampaknya pada kehancuran iklim ekonomi nasional. Ini nampak sekarang.

Saya telah mengingatkan pak @jokowi sejak rapat konsultasi pertama sebagai pimpinan DPR baru dengan presiden dan wakil presiden. Saya ingatkan bahwa ketidakpastian hukum dalam Tipikor ini bisa menghantam pertumbuhan ekonomi. Saya mengutip kejadian di Korea Selatan.

KPK di Indonesia punya saudara kembar di Korea Selatan Namanya KICAC (Korean Independent Comission Against Corruption). Hampir sama, UU lahir pada tahun yang sama, 2002 dan sama-sama menjadi lembaga extra ordinary. Kegaduhannya sama. Luar biasa.

Tapi, hanya 8 tahun KICAC dirombak oleh parlemen Korea atas permintaan masyarakat dan khususnya kelas menengah bisnis. Alasannya, aktivitas pemberantasan korupsi yang extra ordinary mulai merusak iklim usaha dan perekonomian. Saya bertemu parlemen mereka.

KICAC akhirnya digabung sekitar 2008 (maaf hanya 6 tahun berarti), dengan Komnas HAM, Ombudsman, dan lembaga lain menjadi ACRC (Anti Corruption and Human Right Commission). ACRC menjadi lembaga complain dan perlindungan sekaligus. Hasilnya luar biasa.

Ekonomi Korsel sekarang adalah diantara yang paling maju, keputusan-keputusan penting dibuat pejabat tanpa rasa takut dan pengusaha berani investasi dari dalam dan luar negeri karena ada kepastian hukum. Korea tidak saja punya K-POP tapi teknologi elektronik, digital, otomotif dll .

Dengan pendapatan per kapita di atas 30.000 USD maka mereka terus tumbuh menjadi negara maju. Sementara kita, income percapita di bawah 4000 USD tapi halangan bagi kegiatan ekonomi dibuat sedemikian rupa sehingga hanya melaikat yang bisa menjadi pejabat dan pengusaha di sini.

5 kali saya ingatkan presiden @jokowi secara langsung, sekarang NASI sudah menjadi BUBUR. Mau bersikap tapi waktu tidak tepat tapi bagaimanapun ekonomi adalah satu-satunya penyelamat beliau sebagai calon presiden. Ujungnya kita gak tahu. Tapi saya pernah bilang.

Tidak masuk akal bagi saya pak @jokowi sudah mencabut subsidi rakyat, berhutang banyak, menyuruh BUMN berhutang, dan semua aktor negara disuruh gerakkan ekonomi, membangun infrastruktur dll. Tapi ekonomi hanya tumbuh 5% ke bawah. Tidak masuk akal.

Dugaan saya, ada stagnasi, dimulai dari ketidakberanian mengambil keputusan dan bersumber dari mentalitas pejabat yang semakin takut mengambil resiko. Pengusaha juga demikian, yang hidup hanya yang kecil sekali atau yang besar sekali.  Itu sebanya ada ketimpangan.

Entahlah, Siapa yang mau mengatasi korupsi ini? Mau diselesaikan atau mau dibikin ramai? Mau nampak sibuk tapi tidak selesai atau mau nampak selesai tapi tidak sibuk? Kita serahkan kepada pak @prabowo dan pak @jokowi silahkan berdebat cari solusi. Tapi solusi.

Jangan ikuti pandangan yang mengatakan bahwa kalau korupsi tambah banyak artinya pemerintah tambah sukses..semakin kewalahan semakin tepuk tangan.

Tapi, ikuti pandangan bahwa setahun cukup korupsi bisa dihilangkan. Cukup! Negara tidak boleh kewalahan seperti sekarang!

Ayolah,
Aku tunggu ilmu kalian.
Kapan masalah ini mau di selesaikan?
Pak @jokowi akan lebih sulit menjawab pertanyaan. Sebab sudah lebih 4 tahun bapak...apa lagi jawaban bapak? Sementara pak @prabowo ayo siapkan jawaban. Ditunggu!

(dari twitter @Fahrihamzah, Jumat, 2 November)