Wartawan Senior: Gustika Jusuf-Hatta Pamer Kemahiran Pakai Kata "Fu*king"


Gustika Jusuf-Hatta, Pamer Kemahiran Pakai Kata "Fu*king"

By Asyari Usman
(Wartawan senior eks BBC internasional)

Salahkah Gustika Jusuf-Hatta memprotes penyamaan kakeknya, Mohammad Hatta, dengan Sandiaga Uno?

Menurut hemat saya, jawabannya tidak hanya tunggal. Gustika bisa dikatakan berhak marah. Bisa juga dikatakan tidak berhak marah. Tetapi, jawaban yang paling pas adalah "tidak perlu marah-marah".

Gustika marah besar kepada Dahnil Anzar, koordinator jurubicara timses Prabowo-Sandi, yang mengibaratkan cawapres Sandi dengan alm Mohammad Hatta, mantan wapres RI pertama.

It's not a big deal, I'm afraid. Why on earth you have to show your overdosed madness when your public figure grand dad is being compared to what you may perceive as a politician that doesn't match the quality of the former? Of course you're free to express your objection. But,...

Tidak ada salahnya Anda menunjukkan keberatan terhadap penyamaan Bung Hatta dengan Sandi Uno. Tetapi, haruskah sampai menggunakan kata-kata "fu*k" atau "fuc*ing" yang biasanya digunakan oleh orang-orang di English-speaking communities.

Anda mengatakan bahwa "you want to be yourself". Apa adanya. Tapi, apakah "I just want to be myself" itu harus menggunakan kata kotor? Wallahu a'lam. Menurut pendapat saya, tidak mesti.

Kata "fu*k off" atau "fu*k you" memang acapkali terdengar jika orang sedang marah. Di Inggris atau di Amerika. Yang terdidik maupun tidak. (Menurut pengamatan saya selama 25 tahun tinggal di UK, kata-kata kotor itu paling sering terdengar meluncur dari mulut orang-orang yang racist dan orang-orang mabuk akibat alkohol).

Seperti saya katakan, orang berpendidikan (educated) pun sering juga menggunakan kata kotor itu ketika mereka marah. Bisa juga muncul di dalam rapat-rapat kelas tinggi yang sedang membahas isu-isu yang panas.

Intinya, menurut hemat saya, kata-kata kotor ini telah mendarah-daging di kalangan masyarakat yang berbahasa Inggris. Kenapa bisa begitu? Agak panjang penjelasannya. Tapi, menurut pandangan saya pribadi, pendarah-dagingan "fu*k", "fu*k off", "fu*k you" atau "fu*king" di dalam diri banyak pengguna bahasa Inggris antara lain disebabkan oleh ketiadaan rem akhlak. Nah, rem akhlak ini berasal dari, most likely, pelajaran dan pengajaran nilai-nilai agama. Sekali lagi, ini pendapat saya pribadi.

Kembali ke Gustika Jusuf-Hatta. Empat kali Anda gunakan kata-kata kotor itu di postingan Twitter Anda (25/10/2018). Memanglah bagus Anda akui terus terang bahwa ayah Anda mengajarkan Anda cara memaki-maki, menyumpah serapah. Dan tampaknya Anda bangga dengan didikan ayah Anda seperti ini. Tentu ini pun hak ayah Anda dan Anda. Sepenuhnya. Dijamin oleh konstitusi.

Orang sering bangga bahwa dirinya ceplas-ceplos. Tetapi, rasa-rasanya menjadi ceplas-ceplos itu tidak ada kaitannya dengan penggunaan kata-kata kotor.

Belum bisa saya dapatkan penjelasan yang paling pas tentang mengapa Anda, Gustika, sampai menggunakan kata-kata kotor. Barangkali saja, ini cuma barangkali, Anda ingin menunjukkan kepada orang Indonesia "yang bodoh-bodoh ini" tentang kemahiran Anda dalam berbahasa Inggris.

Khususnya, kemahiran Anda mengunakan kata "fu*king'. Wallahu a'lam. Semoga saja saya tidak Anda gebrak dengan "fu*k you" gara-gara tulisan ini. Hehe!***