Prabowo: "Kalau orang fitnah, kita harus balas dengan kebaikkan"


[PORTAL-ISLAM.ID] Orang dekat Prabowo Subianto (PS) yang mantan wartawan ibu Nanik S Deyang kena marah Prabowo gara-gara menanggapi cuitan Andi Arief.

"SUMPAH. Dua hari jelang deklarasi saya dimarahi Pak PS karena saya menulis Andi Arief yang BERHUTABG NYAWA pada beliau...."

“Mbak Nanik mengapa nulis sekeras itu pada Andi Arief? Kan sudah saya bilang kalau orang fitnah kita harus balas dengan kebaikkan, kalau orang menghina harus dibalas dengan kebaikkan,” kata Pak PS ke saya.

“Gak bisa seperti itu terus Pak. Ini orang sudah keterlaluan menghina dan memaki-maki bapak,” kata saya ngeyel.

Namun karena saya dibela semua petinggi Partai koalisi yang hari itu pada hadir, para ulama dan juga kawan-kawan beliau..gak jadi deh beliau marah panjang ke saya, dan sebagai gantinya saya di suruh bersumpah.

“Ayoo sekarang bersumpah,” kata Pak PS mengangkat tangan dan saya disuruh angkat tangan juga.

Pak PS mendikte saya dan saya harus ikuti kata-kata beliau “Saya, Naniek S Deyang bersumpah, tidak akan menulis atau menyerang orang-orang yang memfitnah dan menghina Prabowo Subianto”

.....Setelah meletakkan tangan, saya menaikkan tangan lagi dengan mengatakan, “Kecuali orang itu keterlaluan” kata saya yang disambut sorak-sorai teman-teman yang di ruang tamu rumah Pak PS.

“Nah ..nah ..itu lho curangnya,” saut Pak PS terkekeh.

Saya sebetulnya dari kemarin mau nulis ini, tapi nahan hati. Awalnya saya memang terhibur dengan gaya becanda Pak PS, tapi melihat sikapnya yang sama sekali tidak marah atas kelakuan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief yang habis-habisan menghina beliau sebagai Jenderal Karduslah dll, saya sebetulnya nahan air mata yang mau jatuh.

“Semalam dia nangis Pak,” kata Angga Raka Prabowo.

“Kenapa nangis?” tanya Pak PS.

“Membaca tulisannya Andi Arief,” sahut Angga...

Pak PS sambil beringsut berdiri tersenyum pahit sambil mengatakan, “Biar saja orang menyakiti, yang penting kita tidak pernah menyakiti siapapun,” ujarnya sambil berlalu untuk berunding lagi dengan partai-partai koalisi.

Saya terus disalami teman-teman di ruangan itu, “Mbak Nanik jangan surut, biarkan kalau bapak tidak mau membalas, tapi kita yang tau kebenarannya harus membela.”

***

Dari fb Nanik S Deyang