Ibnu Taimiyah Diklaim Dedengkot WAHABI. Benarkah?

Ibnu Taimiyah Diklaim Dedengkot Wahabi. Benarkah?


Ibnu Taimiyah yang disebut-sebut sebagai dedengkot Wahabi dan selalu dijadikan rujukan Wahabis, selalu menentang kebijakan penguasa zalim. 

Ibnu Taimiyah menekankan ijtihad dan menolak taklid, sementara kaum Wahabis, mengubur sikap ijtihad dan taklid buta kepada penguasa zalim.

Ibnu Taimiyah sering diklaim sebagai dedengkot Wahabi. Sosok yang menularkan pemikiran kembali ke Alquran dan As-Sunah dengan slogan gerakan "al-ruju ila al-Quran wa As-Sunnah" (kembali pada sumber ajaran Islam, yakni Alquran dan sunah).

Tapi benarkah Syeikh Ibnu Taimiyah, sosok pelopor lahirnya gerakan Wahabi? Saya pikir tidak tepat juga. Memang kitab yang dia tulis pada 1292, "Manasik al-Hajj", berisi kritik tentang praktik bid'ah yang ditemuinya di tanah Mekkah dan memang apa yang dia tulis, itu fakta bukan fiksi.

Ibnu Taimiyah menganjurkan kembali ke Alquran dan As-Sunah dan dianggap oleh sebagian kalangan, pandangan-pandangannya sangat kaku dan tekstualis. Dan cara pandang ini mengilhami satu gerakan "Salafiyun" yang kemudian dijelmakan dalam gerakan Wahabi. Tapi sebenarnya, cara pandang tekstualis yang disodorkan Ibnu Taimiyah bukan harga mati tuk sebuah pemahaman. Kesimpulan ini bisa dibaca pada disertasi Nurcholish Madjid yang bertajuk "Ibn Taymiyya on Kalam and Falsafa" (Universitas Chicago, Amerika Serikat). Cak Nur menunjukkan bahwa sebenarnya Ibnu Taimiyah sangat menekankan ijtihad dan menolak taklid. Ia mendorong penggunaan ijtihad, berarti menggunakan spirit intelektualitas yang tinggi. Pandangan Ibnu Taimiyah tentang pentingnya ijtihad, yang kuat dalam disertasi Cak Nur ini, sedikit banyak menepis cara pandang kaum "Salafi" dan Wahabis, yang kaku dan dogmatis.

Dalam pandangan Cak Nur, di balik kritiknya yang tajam terhadap ilmu kalam dan filsafat, ada bangunan logika baru yang disodorkan Ibnu Taimiyah. Bahkan pada simpulan akhir disertasi, Cak Nur memandang bahwa cara berpikir Ibnu Taimiyah bisa membawa masyarakat muslim menghadapi tantangan modernitas dan globalisasi. Karya masyhur Ibnu Taimiyah, "Al-Iman" menegaskan apa yang disimpulkan Cak Nur. 

Ibnu Taimiyah mengklaim jalannya sebagai jalan Sunni, kelompok yang dikenal sebagai ahl al-kitab wa al-sunnah atau ahl al-sunnah wa al-jama’ah, atau secara sederhana disebut ahl al-jamaah.

Kesimpulan

Yang dilupakan kaum Wahabis, cara berpikir Ibnu Taimiyah sebenarnya sangat Aristotelian. Kenapa sangat Aristotelian? Bukankah Ibnu Taimiyah cukup keras melalukan kritik ke Aristoteles? Kitab Ibnu Taimiyah bertajuk "al-Naqd al-Manthiq" dan "al-Radd ‘ala al-Mantiqiyyon", bukti nyata bahwa Ibnu Taimiyah sangat keras kepada pemikiran Aristoteles. Ibnu Taimiyah membangun kesadaran berlogika dengan metode filsafat Aristo. Melalui pola skolastik, Ibn Taimiyah membangun metode-metode ilmu agama dan sekaligus mengkritik logika Aristoteles dengan menggunakan teori al-tajribah al-ḥissiyyah (metode empiris), al-mutawatirat (kabar dari orang banyak) dan istiqra’ (penalaran induktif).

Ibnu Taimiyah dipenjara tujuh kali dengan berbagai tuduhan. Tujuh kali itu berbeda-beda kasusnya. Beliau wafat ketika sedang membacakan ayat Alquran surat Al-Qomar ayat 54

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَنَهَرٍ

Saksinya sang murid, Syeikh Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah. Beliau wafat di hadapan Sang Murid yang menulis kitab Ar-Ruh.

Ibnu Taimiyah yang disebut-sebut sebagai dedengkot Wahabi dan selalu dijadikan rujukan Wahabis, selalu menentang kebijakan penguasa zalim. 

Sementara di Indonesia, kaum Wahabis, berkarib-karib dengan penguasa zalim. Sungguh, sebuah laku yang penuh kontradiksi. Memuja Ibnu Taimiyah tapi mengingkari cara Abul Abbas Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Taimiyah al Harrani dalam melawan penguasa zalim.

Ibnu Taimiyah menekankan ijtihad dan menolak taklid, sementara kaum Wahabis, mengubur sikap ijtihad dan taklid buta kepada penguasa zalim.

(Oleh: Mihrabku)


Baca juga :