TERUNGKAP PENYEBAB KEBAKARAN SMELTER MOROWALI YANG TEWASKAN 19 PEKERJA

FAKTA BARU DI INSIDEN SMELTER MOROWALI

Penyebab kebakaran yang disertai ledakan tungku smelter nikel milik PT Indonesia Tsingshan Stainless Steel (ITSS) di Morowali, Sulawesi Tengah, perlahan-lahan tersibak.

Perbaikan tungku smelter feronikel yang rusak seharusnya butuh proses paling singkat 7 hari, tapi di by pass cuma 2 hari, akibatnya terjadi tragedi. 

Dua pekerja di kawasan industri PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) (90% sahamnya dimiliki China), lokasi fasilitas pemurnian hasil tambang Tsingshan, menceritakan kronologi insiden yang menewaskan 19 pegawai tersebut.

Seorang pekerja di salah satu tenant IMIP mengungkapkan tungku smelter feronikel nomor 41 milik PT ITSS yang meledak itu awalnya rusak dan diduga mengalami kebocoran. Manajemen ITSS kemudian memerintahkan dilakukan pengelasan untuk menambalnya. Namun proses penambalan tungku tersebut dilakukan tergesa-gesa, hanya berselang dua hari setelah proses pendinginan atau pemutusan aliran listrik. Saat itu di dalam tungku diduga masih tersisa molten slag atau terak cair nikel yang panas. “Perbaikan sudah dilakukan, padahal masih dalam tahap pendinginan,” kata pegawai yang memahami detail teknis pengelolaan smelter itu kepada Tempo, Kamis, 28 Desember 2023.

Menurut dia, merujuk pada prosedur perbaikan, terak cair dalam tungku semestinya dikuras lebih dulu hingga tak ada slag yang tersisa. Setelah perapian kosong, aliran listrik ke tungku harus dimatikan untuk memastikan tidak terjadi proses pembakaran. 

Langkah selanjutnya, tungku didinginkan. Proses pendinginan ini membutuhkan waktu paling singkat tujuh hari untuk kemudian dimulai proses perbaikan tungku. “Proses pendinginan itu bertujuan memastikan sisa cairan dalam tungku akan membeku,” katanya.

Menurut dia, seluruh tahapan dalam prosedur perbaikan tungku tersebut tak boleh diabaikan. Sedikit saja prosedur tak dipatuhi, bisa memantik kebakaran di fasilitas produksi.

Kebakaran di fasilitas smelter, kata sumber Tempo ini, berisiko tinggi. Pasalnya, api yang tak terkendali berpotensi memicu ledakan karena banyaknya bahan yang mudah terbakar di unit pemurnian logam, seperti tabung gas asitelin dan oksigen.

Karena itu, kata pekerja ini, tabung gas asitelin dan oksigen juga harus dijauhkan lebih dulu dari sumber panas atau tungku yang sedang diperbaiki. Ledakan yang menyusul insiden kebakaran pada Ahad lalu menguatkan dugaan bahwa tahapan menjauhkan tabung gas dan oksigen dari tungku nomor 41 tak dilakukan ketika pekerjaan perbaikan dimulai.

Ia juga menduga ada kekeliruan teknis dalam perbaikan tungku PT ITSS. Pasalnya, kerusakan tungku nomor 41 itu disebut-sebut sudah cukup parah sehingga cara memperbaikinya bukan dengan hanya dilas. Bagian tenggarang yang rusak seharusnya direnovasi lebih dulu, baru kemudian ditutup lagi. “Setelah itu, baru dilakukan pengelasan.”

Tungku nomor 41 pada smelter nikel PT ITSS terbakar kemudian meledak saat diperbaiki pada Ahad pagi, 24 Desember lalu. Insiden ini mengakibatkan 19 pekerja  meninggal. Sebanyak 40 orang lainnya masih dirawat di Klinik IMIP dan RSUD Morowali.
Seorang pekerja lain mengungkapkan tak semua buruh yang bertugas memperbaiki tungku nomor 41 pada hari nahas itu merupakan pegawai PT ITTS. Sebagian mekanik yang bertugas memperbaiki tunggu merupakan pekerja PT Ocean Sky Metal Industry (OSMI), perusahaan smelter penghasil besi mentah berkadar nikel rendah (NPI) yang masih terafiliasi dengan ITSS. “Mekanik di sini tidak ada yang menetap. Mereka bisa ditempatkan di perusahaan mana saja milik Tsingshan untuk memperbaiki tungku yang rusak,” katanya.

Merujuk pada situs web Minerba One Data Indonesia milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, separuh saham ITSS dikuasai Tsingshan Holding Group Company Limited, raksasa nikel asal Cina. Sisanya digenggam tiga investor Cina lainnya, yaitu Ruipu Technology Group Co Ltd, Tsingtuo Group Co Ltd, dan Hanwa Co Ltd. Lalu 10 persen saham ITSS dimiliki PT IMIP, yang juga dipunyai Tsingshan bersama PT Bintang Delapan Investama.

Ia mengatakan skema pekerja yang tak menetap itu menjadi fatal ketika terjadi kecelakaan. Sebab, mekanik yang didatangkan dari perusahaan lain akan kesulitan mencari pintu darurat ketika smelter yang bukan tempatnya bekerja mengalami kebakaran. “Sehingga, saat kejadian, sebagian pekerja loncat dari lantai atas. Mereka tidak tahu harus jalan lewat mana,” ujarnya.

Permasalahan lain, fasilitas untuk mengantisipasi kondisi kahar di smelter nikel tersebut juga tak memadai. Tangga darurat, misalnya, hanya ada satu di sebagian unit smelter. Ukurannya juga kecil dan berada di ujung bangunan. “Pekerja tidak akan mudah menjangkaunya saat terjadi kebakaran,” kata pekerja tersebut.
Tempo berupaya meminta informasi dari sejumlah pekerja smelter nikel lainnya di IMIP. Namun kebanyakan di antara mereka menyatakan tak berani berbicara lantaran ada peraturan perusahaan yang mengancam pegawai dengan pemutusan hubungan kerja jika mereka menyebarkan informasi kepada media. 

Sebagian di antara mereka menunjukkan naskah peraturan perusahaan kawasan IMIP yang memuat perjanjian kerja bersama. Dalam aturan internal tersebut, setiap karyawan dilarang memberikan informasi yang merugikan nama perusahaan, baik secara lisan, tulisan, gambar, maupun video, melalui seluruh platform media. 

Sejak insiden pada Ahad pagi lalu, pimpinan sejumlah perusahaan juga mengingatkan soal peraturan ini melalui grup percakapan pegawai.   

[Sumber: Koran TEMPO, Jumat, 29 Desember 2023]

Baca juga :