Tetiba saja Tuan berbicara soal adab, Setelah sekian lama tuan tergelak dan tertawa sambil melempar-lempar bingkisan kepada rakyat miskin...

Tetiba saja Tuan berbicara soal adab, norma dan moral.

Setelah sekian lama tuan tergelak dan tertawa sambil melempar - lempar bingkisan kepada rakyat miskin dan lapar yang berkerumun di pinggir jalan.
Lantas engkau merasa pantas bicara soal adab dan etika ?

Lebih baik kau ludahi mukamu sendiri.
Daripada diludahi seisi negeri.

Dari dalam kereta kencanamu, engkau bungkus pongahmu.
Dan angkuhmu menyuruhmu melempar lagi...lagi...dan lagi.

Bertahun kau dustai seisi negeri.
Kau bohongi Ibu Pertiwi dengan janji tak bertepi.
Lantas engkau merasa jadi priyayi yang pantas menginspirasi?
Kemudian engkau merasa jadi yang paing tersakiti ?

Kau bicara soal moral.
Dan dustamu membuat mual.
Kau berkoar soal adab ketika engkau berlaku niradab bahkan biadab.

Kamu masih ingat janji yang akan mensejahterakan petani?
Namun nyatanya petani mati tepat didepan Istana saat mengadukan nasibnya?

Lantas sekarang engkau yang merasa paling disakiti ?
Karena ada yang mengungkap segala bohong dan kegagalanmu?
Tempeleng saja muka takbertuanmu itu.
Ludahi lagi oleh egomu sendiri.

Kamu merasa begitu paling disakiti saat ada yang mengkritik.
Namun kamu begitu tenang saat partaimu dan kolegamu merampok kekayaan negara.
Kamu nyaman saja saat para pembunuh, bromocorah dan koruptor diberikan keringanan dan potongan hukuman.

Lantas kamu dan antekmu bicara soal moral dan adab ?

Ludahi saja mukamu yang tak tahu malu itu.
Nunjuk hidungmu sendiri agar tidak lagi memanjang saat mengendus kebohongan.

Tuan,
Berhentilah bermain sandiwara dan drama.
Aku sudah begitu mual dan kesal.

Berhenti seolah engkau sederhana namun rakusmu kemana - mana.
Berhenti seolah tidak gila kuasa. Namun anak mantu kau tempatkan dimana mana.
Berhenti seolah engkau cinta negeri.
Namun hampir seluruh kekayaan negara diangkut keluar sana.

Tuan,
Suatu saat,
Aku akan mati.
Dan aku akan bersaksi dihadapan Ilahi tentang kamu dan antekmu.
Tentang kejam-mu dan serakahmu.

Sampai jumpa disana.

(By Danke Soe Priatna)


Baca juga :