"Pak Lurah" Yang Kampungan

𝐊𝐚𝐦𝐩𝐮𝐧𝐠𝐚𝐧

Oleh: Arsyad Syahrial

Sekira 35 tahun lali waktu saya masuk SMA, pak Davitson, seorang guru yang sangat saya hormati, di dalam acara penerimaan siswa baru mengatakan, "Kita boleh tinggal di kampung, tapi jangan kampungan". Kalimat itu terus diulang oleh pak Davit setiap acara penerimaan siswa baru.

Waktu itu saya tak terlalu dalam memahami maksudnya apa, sebatas hanya memahami makna kampungan itu adalah "tidak sophisticated" - alias tidak paham adat perkotaan.

Namun seiring perjalanan usia, saya menyadari bahwa kampungan itu BUKAN tidak sophisticated. Tidak, bukan itu… itu terlalu dangkal.

Lalu apa makna kampungan?

Kampungan itu maknanya adalah "adab yang buruk".

Adab yang buruk itu BUKAN tentang geografis (tinggal di desa atau kota), tidak. Karena betapa banyak orang yang berasal dari desa tapi beradab halus?

Adab yang buruk itu juga BUKAN tentang soal strata sosial dan kekayaan, tidak. Karena betapa banyak orang yang berjabatan tinggi, berharta banyak, yang jalan ke luar negeri baginya hanya seperti main ke rumah tetangga saja, akan tetapi adabnya buruk dan kelakuannya hina?

Kampungan atau tidaknya seseorang itu adalah tentang adab, yaitu: tahu menempatkan diri pada tempatnya, lalu bersikap tepat dan memperlakukan orang lain sesuai tempatnya pula.

Makanya kita saksikan ada orang yang jabatannya sangat tinggi di Kerajaan Majapahit Kolonial Hindia Belanda dipanggil "Pak Lurah" itu adalah memang sikapnya yang sangat kampungan selama ini.

No, bukan status Lurah yang kampungan ya, tidak begitu. Akan tetapi jabatannya yang tinggi itu tak tercermin pada adabnya. Kelasnya bukan kelas head of state, akan tetapi… ya begitulah…

Iya kampungan…

Apa kalau bukan kampungan namanya kalau suka melempar-lempar hadiah dari mobil yang sedang berjalan?

Apa kalau bukan kampungan namanya ketika menjawab pertanyaan orang secara asal-asalan bahkan dengan nada menghina?

Apa kalau bukan kampungan namanya ketika istri terjengkang cuma diam dan melirik saja?

Apa namanya kalau bukan kampungan ketika pagi bicara A siangnya sudah berubah jadi Z?

Adapun yang paling buruk, sikapnya ketika menjalan kekuasaannya di negara Kerajaan Majapahit Kolonial Hindia Belanda yang sangat kampungan itu.

Sekali lagi, kampungan itu adalah tentang adab, dan adab kita kepada orang itu adalah bagaimana (biasanya) adab orang kepada kita pula. Jangan minta diperlakukan baik jika kita tak memperlakukan orang dengan baik.

Demikian lintasan pemikiran pagi ini.

Kita berdo'a:

ٱللّٰهُمَّ Ø¥ِنِّي Ø£َسْØ£َلُكَ الصِّØ­َّØ©َ وَالعَافِيَØ©َ وَØ­ُسْنَ الخُلُقِ

Allahumma inni as-alukas-sihhata wal-afiyata wa husnal-khuluq.

“Ya Allōh, aku memohon kesehatan, kekuatan, dan akhlaq terpuji.”

Baca juga :